in

Siapa Guru Tolang itu?

Bagi orang yang (pernah) hidup di kampung khususnya Madura, istilah guru tolang tidak akan asing didengar. Pesan orang tua yang masih melekat sampai sekarang adalah jangan sampai melupakan guru tolang. Bagi orang kampung, guru tolang adalah bagian penting dalam perjalanan seseorang. Guru tolang menjadi bagian diantara sekian banyak hal yang menentukan kehidupan seseorang di masa depan seperti keberadaan orang tua.

Guru tolang bisa diartikan menjadi dua bagian. Secara khusus dan secara umum. Secara khusus menurut orang Madura, guru tolang adalah guru yang mengajarkan huruf alif, ba, ta, dst. Secara umum guru tolang adalah guru yang menyalurkan nilai keilmuan yang dijadikan pegangan dalam kehidupan.

Kata tolang berasal dari bahasa Madura yang berarti tulang. Guru tolang bisa dikatakan pondasi kehidupan manusia dalam aspek moral dan keilmuan. Kehidupan guru tolang ini tidak banyak terlihat seperti guru-guru kebanyakan. Justru, kehidupannya berada di kedalaman pelosok kampung yang jauh dari keramaian. Kehidupan sehari-harinya sama seperti kehidupan masyarakat kampung biasa. Tidak ada hal yang menonjol dari aspek apapun selain dari kesederhanaan dan keilmuan yang dipercaya oleh masyarakat sekitarnya.

Kehidupan guru tolang sebenarnya tidak sesederhana yang terlihat oleh kasat mata. Ada hal besar yang menjadi tanggung jawab guru tolang dalam menjalani perannya dalam kehidupan. Kebesaran guru tolang terletak dalam kesederhanaan itu sendiri. Sebagai pondasi kehidupan dalam aspek moral dan keilmuan, guru tolang tidak sekedar mengajarkan dan menuntut muridnya untuk menghafal huruf-huruf yang diajarkan. Tapi, ajaran yang disampaikan guru tolang juga memuat sifat dasar-dasar kemanusiaan. Sifat dasar kemanusiaan itulah hakikat dari ajaran yang disampaikan setiap hurufnya.

Alif yang hurufnya tegak lurus mengajarkan pada sifat pendirian teguh dan jujur apa adanya, bukan ada apanya. Sifat-sifat dasar kemanusian itu oleh guru tolang tidak dijelaskan saat mengajar di surau atau di tempat belajar lainnya. Ajaran itu langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang penuh dengan kesederhanaan. Kesederhanaan yang dicontoh langsung dari kehidupan Nabi Muhammad Saw. dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Nabi Muhammad Saw. bisa saja memilih kaya raya dan berkedudukan tinggi sebagai penguasa. Namun, justru yang dipilih sebagai jalan kehidupan sederhana yang menjunjung nilai kemanusiaan. Jadi, tidak semua guru bisa dikatakan sebagai guru tolang karena pintar saja tidak cukup untuk masuk kategori guru tolang.

Tanggung jawab besar itulah yang disadari penuh oleh guru tolang agar ajaran yang disampaikan meresap dalam setiap aliran darah dan gelombang otak dalam kehidupan murid-muridnya. Sebagai pondasi atau kuda-kuda kehidupan, ajaran yang disampaikan benar-benar harus kuat meskipun terlihat sederhana atau bahkan tidak dirasakan sebagai ajaran oleh sebagian orang. Kesalahan struktur dan materi pondasi akan berakibat buruk bagi kehidupan ke depannya. Apabila salah dalam mengajarkan pondasi di awal, maka akan berakibat pada diri yang bersangkutan, orang di sekitarnya, dan lingkungan yang ditempati. Begitulah, resiko yang akan dihadapi. 

Ada pelajaran penting dari cerita cucu Mahatma Gandhi  Dr. Arun Gandhi, ia menceritakan suatu kisah dalam kehidupannya

Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua disebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, ditengah kebun tebu, 18 mil diluar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak mempunyai tetangga. Jadi tidak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Pada suatu hari ayah meminta saya untuk mengantar beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu ayah juga meminta saya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan tertunda seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu setiba di tempat konferensi ayah berkata : “Ayah tunggu kamu disini jam 5 sore, lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.”

Saya segera menyelesaikan berbagai pekerjaan yang diberikan oleh ayah dan ibu, kemudian saya pergi ke bioskop. Saya sungguh asyik menonton aksi John Wayne sampai lupa waktu. Begitu melihat jam menunjuk 17.30, saya langsung  berlari menuju bengkel mobil dan buru-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya dan saat itu sudah hampir pukul 18.00.

“Kenapa kamu terlambat?” tanya ayah.

Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya terlambat karena menonton bioskop sehingga saya menjawab “tadi mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.”

Ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel itu sehingga ayah tahu kalau saya berbohong.

Lalu ayah berkata ”Ada sesuatu yang salah dalam membesarkanmu sehingga kamu tidak punya keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarkan ayah pulang berjalan kaki dan memikirkannya baik-baik.”

Lalu dengan tetap  mengenakan pakaian dan sepatunya ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap dan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah dijalanan seperti itu, maka selama 5,5 jam saya mengenderai mobil pelan-pelan di belakang beliau melihat penderitaan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang telah saya lakukan.

Sejak saat itu saya tidak pernah berbohong lagi. Seringkali saya berpikir mengenai kejadian itu dan merasa heran, Seandainya ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, apakah saya akan mendapat pelajaran mengenai mendidik tanpa kekerasan? Kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu, menyadarinya sedikit dan melakukan hal yang sama lagi. Tetap hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sungguh luar biasa, saya merasa kejadian itu seolah-olah baru terjadi kemarin. Itulah kekuatan bertindak tanpa kekerasan.

Pendidikan yang paling efektif dan pasti tertanam kuat adalah pendidikan yang disampaikan hingga tertancap di bawah sadar. Apa yang dilakukan ayahanda Dr. Arun Gandhi adalah menyampaikan pesan yang sangat mendalam di pikiran bawah sadar.

Kesunyian yang dijalani oleh guru tolang adalah kesunyian yang penuh kemesraan dengan kehendak-Nya. Kesunyian yang terhindar dari kegaduhan-kegaduhan pikiran dunia yang bersifat fatamorgana. Apabila Nabi Muhammad ka al-Yaqutu bainal hajari (ibarat Mutiara diantara batu-batu), maka guru tolang adalah akik diantara bebatuan.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Written by Imron Amrullah

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Perempuan, Remaja, dan Budaya

Valentine Day dan Yaumul Marhamah (Perspektif Budaya dan Agama)