in

Valentine Day dan Yaumul Marhamah (Perspektif Budaya dan Agama)

Islamkah Valentine Day itu?

Saya mohon jangan langsung mengatakan “tidak” terlebih dahulu bagi yang tidak setuju dengan perayaan hari kasih sayang ini. Saya juga memohon untuk tidak langsung mengatakan “iya” bagi yang setuju dengan perayaan hari kasih sayang ini. Mari kita bersama membuka pikiran untuk meyakini yang baik berasal dari Tuhan dan yang tidak baik berawal dari kita karena kita menyimpang dari jalan Tuhan atau karena tidak sesuai dengan harapan sehingga masuk kategori tidak baik.

Kita sekarang perlu untuk menyisihkan kecenderungan pribadi terlebih dahulu untuk sekedar melihat dengan apa adanya sebuah peristiwa. Peristiwa apapun hakikatnya bersifat netral. Sudut pandang kitalah sebagai individu yang memberikan pelabelan terhadap peristiwa tersebut. Sebuah peristiwa adakalanya memang tidak bisa diganggu sebagai entitas sebuah nilai. Namun, apabila ada sebuah peristiwa budaya yang selalu menjadi perdebatan, berarti memang ada hal dari peristiwa itu yang harus dilihat secara utuh dengan pikiran jernih dan sudah selayaknya kita untuk menyisihkan kepentingan diri pribadi, kelompok, golongan ataupun agama.

Melihat secara utuh membantu kita untuk seimbang dalam menanggapi suatu peristiwa. Keadaan imbang akan membawa diri terhadap sikap tidak tergesa-gesa atau fanatik dalam merespon peristiwa. Kita akan memulai dengan peristiwa yang sampai saat ini menjadi perdebatan. Perdebatan yang cenderung menyalahkan orang lain dengan sikap berlebihan. Padahal, sudah banyak dipahami bahwa, sikap atau respon yang berlebihan terhadap sebuah peristiwa merupakan perbuatan yang tidak baik.

Kita semua mengetahui bahwa Valentine Day berasal dari barat dan ada hari Yaumul Marhamah berasal dari Arab. Kedua hari itu sama-sama memiliki nilai kasih sayang sesuai budaya masing-masing. Kebudayaan, khususnya di Nusantara sudah ada sebelum agama masuk, baik agama Kristen, Hindu, Budha ataupun Islam. Tulisan ini tidak perlu menyajikan data dari hasil penelitian ilmiah terkait kebenaran hal tersebut.

Tulisan ini hanya akan menyajikan satu dari sekian banyak kebudayaan Nusantara. Misalnya, mengeluarkan harta benda sebagai bentuk rasa syukur. Hal ini, dalam Islam dinamakan sedekah dan zakat. Dalam agama Hindu dinamakan sesajen. Di wilayah Bromo, umat Hindu suku Tengger dan sekitarnya setiap tahun melaksanakan acara Kasada, yaitu acara persembahan besar-besaran yang dilakukan di kawah gunung Bromo. Semua hal itu berinduk pada kebudayaan yang sudah ada. Agama hanya menyusupkan nilai-nilai sesuai keagamaan masing-masing.

Salah satu penyebab perdebatan selama ini terjadi karena masih ada ke-aku-an yang mendominasi dalam diri. Budaya Valentine Day budaya”ku” dan Yaumul Marhamah budaya “orang lain” atau sebaliknya, Yaumul Marhamah budaya”ku” dan Valentine Day budaya “orang lain”. Sedekah budaya “orang lain” dan sesajen budaya”ku” atau sesajen budaya”orang lain” dan sedekah budaya”ku”. Sehingga ada penolakan dalam diri ketika berbeda dengan yang dimiliki.

Ada sikap aku dalam diri yang menonjol terhadap menilai sesuatu. Rasa aku berlebihan tersebut yang mengikis rasa toleransi sebagai manusia. Aku yang berlebihan menjadikan diri memiliki sudut pandang sempit dan membuat jarak semakin jauh sebagai manusia utuh. Jarak yang jauh bisa dilihat dari respon terhadap peristiwa budaya yang tidak melibatkan nilai kemanusiaan sebagai produk utama sebuah kebudayaan.

Kebudayaan tercipta oleh kebiasaan baik leluhur yang diekspresikan melalui simbol-simbol. Simbol-simbol yang dijadikan budaya tersebut diambil dari nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kasih sayang, menerima perbedaan, ungkapan syukur, menghargai orang lain, dan lain sebagainya. Nilai kemanusiaan itulah yang menjadi spirit leluhur untuk mengajarkan kepada penerusnya agar tetap berpegang teguh terhadap nilai yang dikandung.

Kebudayaan adalah milik manusia, bukan yang lain. Kemanusiaanlah yang menjadi faktor utama dalam menilai sebuah kebudayaan. Kebudayaan tanpa manusia tidak akan ada dan manusia tanpa kebudayaan akan segera tiada. Dalam diri manusialah nilai-nilai itu bersemayam. Kasih sayang, memahami, mengayomi, toleransi, dan lain sebagainya. Agama hanya menampilkan diri sebagai petunjuk agar manusia menggunakan nilai-nilai yang sudah ada tersebut.

Banyak kejadian yang meresahkan dan memecah belah masyarakat justru disebabkan oleh hilangnya nilai kemanusiaan. Manusia dilahirkan sebagai manusia utuh tanpa sesuatu yang melekat dalam dirinya. Manusia diciptakan sebagai makhluk ciptaan Tuhan paling sempurna. Manusia tempat segala kemungkinan terjadi. Manusia yang dimaksud adalah manusia sebagai manusia, bukan manusia sebagai individu yang sudah memiliki kepentingan rasa ke-aku-an yang berlebihan.

Apabila manusia menggunakan nilai kemanusiaannya dalam menjalani kehidupan, maka akan menciptakan kebudayaan-kebudayaan luhur. Namun, apabila manusia sudah terlepas dari nilai kemanusiaannya, maka kebudayaan-kebudayaan yang diciptakan oleh leluhur akan segera hancur oleh kebencian-kebencian dan saling tidak percaya antar sesama manusia itu sendiri.

Manusia yang merasa Islam tidak menjadi manusia Islam karena menjadi manusia saja sudah gagal apalagi menjadi manusia yang Islam.

Manusia yang merasa Kristen tidak menjadi manusia Kristen karena menjadi manusia saja sudah gagal apalagi menjadi manusia yang Kristen.

Manusia yang merasa Budha tidak menjadi manusia Budha karena menjadi manusia saja sudah gagal apalagi menjadi manusia yang Budha.

Manusia yang merasa Hindu tidak menjadi manusia Hindu karena menjadi manusia saja sudah gagal apalagi menjadi manusia yang Hindu.

Untuk menjadi manusia Hindu, manusia Kristen, manusia Budha, dan manusia Islam. Maka, harus lulus menjadi manusia terlebih dahulu karena kita dilahirkan sebagai manusia. Manusia sebagai aktor utama budaya dalam menjalani hidupnya dituntut untuk selalu meluaskan sudut pandang terhadap setiap kejadian. 

Peristiwa budaya tidak terjadi begitu saja. Namun, Kebudayaan sendiri tercipta dengan ujian waktu yang sangat panjang. Ada yang ratusan tahun dan ada yang bahkan ribuan tahun. Pengendapan materi budaya terhadap sebuah nilai teruji oleh perkembangan jaman. Oleh sebab itu, kita sekarang menjadi pencipta budaya baru di masa yang akan datang yang lebih luhur dari sebelumnya atau malah menjadi perusak budaya yang sudah ada karena ingin menyeragamkan keberagaman?

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Written by Imron Amrullah

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Siapa Guru Tolang itu?

Cinta dan Agama