in

Perihal Keunyuan

Elektronik sudah begitu maju. Semua perkara jadi mudah dan semua orang bisa mengaplikasikan. Mau tidak mau, sebagai pemuda kita akhirnya juga berkecimpung dalam perkembangannya, merasakan manfaat dan menikmati kemudahannya.

Di masa awal perkembangan elektronik, kita difasilitasi oleh kemudahan bertukar informasi dan menanyakan kabar tanpa dibatasi jarak dan waktu melalui telepon genggam. Akses ini membantu kita meringankan beban rindu dengan orang yang berjauhan secara jarak. Secara tersirat, komunikasi melalui telepon genggam adalah wujud lain dari komunikasi melalui tawasul bil fatihah.

Bagi orang pesantren khususnya, cara termudah bertukar kabar dan berkomunikasi adalah melalui alfatihah. Ada kisah misalnya, perihal kiai yang menanyakan kabar gurunya yang sudah almarhum. Kita tahu betul kisah-kisah komunikasi semacam itu dari literatur sejarah pesantren. Suguhan kisah itu memberi kabar pada kita, bagaimana sebenarnya ulama sudah lebih dahulu mengenal komunikasi jarak jauh sebelum beredarnya telepon genggam.

Kembali ke pokok masalah perihal elektronik. Sebelum akhirnya berkembang, masyarakat mengenal dunia surat-menyurat sebagai cara bertukar kabar. Banyak dokumen surat yang bisa kita saksikan hingga hari ini dan yang paling nampak tentu saja surat-menyurat R.A. Kartini dengan sahabatnya yang dari luar negeri itu. Kemudian bertukar surat lebih mudah dengan bantuan faksimile.

Masa surat-menyurat ditinggalkan setelah era SMS (Short Message Service) berkembang dan inilah masa transisi kecintaan pemuda Indonesia pada bahasanya. Dalam bahasa Indonesia, SMS dipadankan dengan arti pesan singkat. Kita bisa tahu kenapa harus demikian padanannya, sebab karakter huruf yang disediakan sangat terbatas dan oleh sebab itu kita harus menyingkat pesan yang ingin disampaikan.

Sebelum SMS berperan aktif, kita mengenal elektronik ajaib bernama Pager yang fungsinya saya kira sama saja dengan SMS. Bahkan, bisa saja SMS adalah pengejawantahan dari Pager. Ada beberapa hal yang penting dicatat di masa SMS ini. Pertama, SMS yang berarti pesan singkat, rupanya telah disalahpersepsikan oleh rata-rata penggunanya. Mereka mengartikan pesan singkat sebagai penyingkatan kata. Ambil contoh, kata ‘iya’ dalam bahasa Indonesia menjelma begitu singkat dalam dunia SMS hanya dengan ‘y’ saja.

Penyingkatan ini—bolehlah saya sebut sebagai pembunuhan, rata-rata berlaku pada huruf vokal. Kita bisa melihat contoh kata d(i)m(a)n(a) yang semua huruf vokalnya dibunuh dengan sangat kejam. Kekejaman berlanjut setelah pemuda Indonesia disusupi penjahat kebahasaan, tata busana dan tata laku yang bernama alay. Ini sadis sekali. Kita bisa menyaksikan bagaimana pemuda Indonesia dengan bangga membunuh huruf vokal dalam bahasa mereka sendiri. Contohnya banyak. Misalnya kata ‘siapa’ yang dengan unyu-unyu menjadi ‘cp’ atau yang paling menjijikkan, kata ‘iya’ menjadi ‘ea’. Ini maunya apa?

Kedua, masa SMS telah berakhir, kini beralih ke dunia chat dalam aplikasi smartphone. Sebagaimana kita ketahui, masa HP jadul dengan hanya dua belas tombol itu telah benar-benar merusak tatanan bahasa dan kecintaan pemuda Indonesia pada bahasanya. Kerusakan ini terus berlanjut hingga masa tombol qwerty ada. Menyedihkan sekali!

Di dunia chat dan sosial media, kita dimanjakan dengan berbagi pengalaman, kisah, keadaan dan lain-lain melauli status dan seketika banyak orang yang mengetahui apa yang kita sampaikan. Namun demikian, hingga masa Facebook sekalipun, kesadaran berbahasa Indonesia yang baik masih belum ada. Lihat bagaimana status yang terpajang, ‘Aq koq blm ngantk ea?’. Parahnya, status pembunuhan huruf ini masih juga disertai dengan keunyuan yang merabunkan pandangan, ‘AqUwh k0q bLm ng4nTk e4?Oh, betapa!

Jika di masa SMS alasannya karena tombol yang tersedia sangat minim, maka pertanyaannya kini adalah kelengkapan tombol qwerty itu gunanya apa. Kok, kita masih suka sekali membuat status atau bertukar kabar di chat dengan menyingkat. Apa sebaiknya tombol berupa huruf vokal itu kita hapus saja dan mari beralay-alay ria. Mari sadar bahasa, bung!

Berbahasa bukan hanya berucap dan bercakap-cakap, berbahasa ialah mengamalkan semua fungsi kata dalam semua interaksi kita, baik berupa menulis maupun berkata. Jika hingga hari ini kita malas menulis status atau berchatting ria dengan tatanan bahasa yang baik, maka saran saya hendaknya kita juga bercakap-cakap dan berbicara dengan kemalasan serupa. Misalnya, kita mau berkata, ‘siapa’ maka cukupkan saja dengan ungkapan ‘capa’ alias jika ditulis menjadi ‘cp’. Jika Anda setuju dengan saran saya, maka nikmatilah dan mulailah berkata dan berstatus di akun facebook, “Aquwh cHintA bHs InDoneSia dG Pnoeh kZadaran”.

Dan sumpah yang paling menakutkan adalah Sumpah Pemuda versi unyu dan alay “K4mie PutRa d4N puTri InDon3s1a m3nJuNjoEng b4Ha5a PeR54tuAn, B4ha54 al4y!”

Selamat Hari Unyu!

Sidogiri 11 Maret 2017

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Written by Shalihin Damiri

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Rumus Kesempurnaan Keluarga Menurut Kitab ‘Uqudul Lujain

Menguak Perbedaan Kaum Adam Dan Hawa