in

Membangun Karakter Mahasiswa Melalui Budaya Literasi

Mahasiswa menjadi sorotan tajam belakangan ini seiring dengan kemunculannya di layar televisi sebegai penonton pasif sebuah acara. Peran mahasiswa tidak lebih hanya sekedar  pelengkap yang justru merendahkah nilai kualitas mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa lebih memilih mengikuti acara yang serba instan yang hanya bermodalkan kehadiran saja, bukan acara yang mengembangkan wawasan mereka sebagai mahasiswa. Padahal, masih banyak acara diskusi-diskusi atau bahkan seminar yang mestinya diikuti tanpa harus diundang terlebih dahulu. Apa yang dilakuka itu karena mahasiswa masih belum sepenuhnya sadar akan pentingnya budaya literasi.

Budaya literasi merupakan kunci memajukan suatu bangsa sebab membaca dan menulis adalah roh dalam dunia pendidikan. Tanpa keduanya pendidikan akan lumpuh bahkan mati sama sekali. Alasannya ialah hanya dengan membaca dan menulis manusia dapat melakukan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta transfer informasi kepada orang lain. Apalagi dalam era globalisasi ini di mana komunitas dunia seakan tak terpisahkan lagi, kontak langsung antar individu serta pengindraan bukan lagi sebuah ketergantungan.

Budaya literasi masih belum berkembang di kalangan mahasiswa bukanlah tanpa dasar. Kita dapat melihat minat membaca dan menulis mahasiswa masih sangat kurang. Sangat mudah menjumpai mahasiswa yang hanya nongkrong di kantin-kantin pada waktu di luar jam kuliah. Waktu mereka lewatkan hanya dengan bercerita dan bercanda tanpa kegiatan yang produktif.

Akibatnya mereka kurang mampu mengartikulasikan fenomena sosial yang ada. Mereka tidak mampu berpikir kritis, tidak peka terhadap lingkungan sekitar, tidak mampu mengatasi masalah yang ada, tidak kreatif dan hanya ikut-ikutan, dan lebih parah lagi mereka tidak melek teknologi. Berpikir kritis dan peka terhadap lingkungan dalam hal ini adalah kemampuan melihat wacana yang sedang berkembang. Mereka terlihat lesu terhadap perkembangan isu global. Maka akhirnya, timbullah fenomena seperti pembicaraan tak berbobot, tindakan ikut-ikutan, tidak kreatif, dan tidak produktif. Mungkinkah mereka belum menyadari bahwa membaca adalah faktor yang menentukan kemajuan bangsa? Atau mungkinkah mereka tidak menyadari bahwa masa depan bangsa ini berada di pundak mereka sebagai generasi muda?

Budaya Literasi

Secara sederhana, literasi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis. Kita mengenalnya dengan melek aksara atau keberaksaraan. Namun sekarang ini literasi memiliki arti luas, sehingga keberaksaraan bukan lagi bermakna tunggal melainkan mengandung beragam arti (multi literacies). Ada bermacam-macam keberaksaraan atau literasi, misalnya literasi computer (computer literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi (technology literacy), literasi ekonomi (economy literacy), literasi informasi (information literacy), bahkan ada literasi moral (moral literacy). Jadi, keberaksaraan atau literasi dapat diartikan melek teknologi, melek informasi, berpikir kritis, peka terhadap lingkungan, bahkan juga peka terhadap politik. Seorang dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca informasi yang tepat dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahamannya terhadap isi bacaan tersebut. Kepekaan atas literasi pada seseorang tentu tidak muncul begitu saja. Tidak ada manusia yang sudah literat sejak lahir.

Menciptakan generasi literat membutuhkan proses panjang dan sarana yang kondusif. Proses ini dimulai dari kecil dan dari lingkungan keluarga, lalu didukung atau dikembangkan di kampus, lingkungan pergaulan, dan lingkungan pekerjaan. Budaya literasi juga sangat terkait dengan pola pembelajaran di kampus dan ketersediaan bahan bacaan di perpustakaan. Tapi kita juga menyadari bahwa literasi tidak harus diperoleh dari pendidikan yang tinggi. Kemampuan akademis yang tinggi tidak menjamin seseorang akan literat. Pada dasarnya kepekaan dan daya kritis akan lingkungan sekitar lebih diutamakan sebagai jembatan menuju generasi literat, yakni generasi yang memiliki ketrampilan berpikir kritis terhadap segala informasi untuk mencegah reaksi yang bersifat emosional.

Sedangkan membaca (Wijono dan Nurhadi) merupakan suatu proses komunikasi ide antara pengarang dengan pembaca, di mana dalam proses ini pembaca berusaha menginterpretasikan makna dari lambing-lambang atau bahasa pengarang untuk menangkap dan memahami ide pengarang. Maka kebiasaan membaca adalah kegiatan membaca yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa ada unsur paksaan. Kebiasaan membaca mencakup waktu untuk membaca, jenis bahan bacaan, cara mendapatkan bahan bacaan, dan banyaknya buku/bahan bacaan yang dibaca. Kemampuan membaca merupakan dasar bagi terciptanya kebiasaan membaca. Namun demikian kemampuan membaca pada diri seseorang bukan jaminan bagi terciptanya kebiasaaan membaca karena kebiasaan membaca juga dipengaruhi oleh faktor lainnya (Winoto), seperti ketersediaan bahan bacaan.

Perkembangan kebiasaan melakukan kegiatan merupakan proses belajar yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Gould menyatakan bahwa dalam setiap proses belajar, kemampuan mendapatkan ketrampilan-ketrampilan baru tergantung dari dua faktor, yaitu faktor internal dalam hal ini kematangan individu dan ekternal seperti stimulasi dari lingkungan..

Budaya Literasi dan Karakter Mahasiswa

Sering kita bertanya dalam hati, mengapa mahasiswa susah bersaing dalam dunia literasi, apa ada yang salah dalam sistem di tingkat universitas. Seberapakah prestasi, kemampuan dan penguasaan ilmu pengetahuan yang dimiliki, inovasi dan rekayasa teknologi yang sudah mahasiswa buat, apa yang telah dihasilkan karya-karya monumental mahasiswa saat ini, semua itu menggelitik di sanubari para kaum cerdik pandai yang merumuskan dari titik mana kita mau mulai membenahi. Potensi mahasiswa sangat besar apabila ditinjau dari jumlah yang terdiri dari berbagai suku, yang memiliki beraneka ragam budaya yang perlu dikembangkan dan dilestarikan keberadaannya. Namun demikian, potensi yang begitu besar secara kuantitas itu perlu diimbangi dengan kualitas yang dimiliki.

United Nations Development Program pada 2003, Human Development Index Indonesia berada pada peringkat 112 dari 175 negara. Hal ini berarti kualitas sumber daya manusia masih rendah dan mengalami proses penurunan dari tahun ke tahun. Salah satu faktor penyebab rendahnya Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia adalah rendahnya kualitas pendidikan, yang juga berpengaruh langsung pada sektor ekonomi dan kesehatan. Keadaan tersebut lebih diperburuk dengan masih dominannya budaya tutur (lisan) daripada budaya baca. Budaya ini menjadi kendala utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya masyarakat yang seharusnya mampu mengembangkan diri dalam menambah ilmu pengetahuannya secara mandiri melalui membaca.

Pemerintah pada saat sekarang ini memberikan perhatian yang besar terhadap dunia pendidikan. Minat membaca berbanding lurus dengan tingkat kemajuan pendidikan suatu bangsa. Kegiatan membaca merupakan hal yang sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa. Parameter kualitas suatu bangsa dapat dilihat dari kondisi pendidikannya. Pendidikan selalu berkaitan dengan kegiatan belajar. Belajar selalu identik dengan kegiatan membaca karena dengan membaca akan bertambahnya pengetahuan, sikap dan keterampilan seseorang. Pendidikan tanpa membaca bagaikan raga tanpa ruh. Fenomena pengangguran intelektual tidak akan terjadi apabila mahasiswa memiliki semangat membaca yang membara.

Cara Meningkatkan Budaya Literasi Mahasiswa

Latar belakang potensi yang dimiliki mahasiswa sangatlah beragam. Salah satu potensi tersebut adalah berbicara. Mahasiswa dewasa ini bisa dilihat bahwa mahasiswa banyak bicara dibandingkan berbuat. Budaya berbicara ini mungkin tidak akan lepas dari mahasiswa karena mahasiswa lebih sibuk melihat dan memahami orang lain berdasarkan sudut pandang mereka sendiri tanpa memahami apa sebenarnya yang bisa mereka lakukan.

Untuk bisa setidaknya mengurangi kebiasaan budaya berbicara tersebut, mahasiswa sudah saatnya harus menggalakkan dengan serius budaya literasi, yakni budaya membaca dan menulis. Dengan budaya literasi ini, mahasiswa bisa menjadi lebih baik dan bisa memahami apa yang mereka lakukan dan apa yang harus mereka kerjakan. Untuk bisa menimbulkan kesadaran dalam menggalakkan budaya literasi ini, maka peran pemerhati pendidikan dan pelaku pendidikan sudah sepantasnya untuk bisa menfasilitasi baik dalam hal buku, perlombaan, atau hadiah sebagai motivasi (penghargaan atau hadiah uang).

Dari paparan di atas, terlihat bahwa budaya literasi di kalangan mahasiswa masih rendah dan butuh kegiatan yang perlu terus dioptimalisasi di perguruan tinggi. Sebagai halnya akademi dalam sejarah tiap peradaban besar, perguruan tinggi sejatinya dapat menjadi dapur akademik sekaligus produsen karya yang secara signifikan mengasah kompetensi anak bangsa, agar memiliki kecakapan khusus, membangun iklim yang lebih produktif, berperadaban, serta bermartabat.

Selain itu, dengan meningkatnya budaya literasi, mahasiswa dapat sekaligus berperan aktif dalam menyemai budaya membaca dan menulis di lingkungan sekitar. Pada akhirnya, arus modernisasi mau tak mau harus diterima dengan segala konsekuensinya.

Tugas para mahasiswa saat ini adalah menjawab tantangan tersebut. Bagaimanapun, kepribadian kuat seorang mahasiswa terbentuk karena realitas yang mendukung mereka untuk melakukan transformasi sosial: tantangan dan tuntutan. Ketika eksistensi bangsa ini semakin rapuh, maka seorang mahasiswa berkewajiban untuk melakukan satu pembaruan. Sederet daftar panjang permasalahan negeri ini membutuhkan sentuhan para mahasiswa yang kritis dengan sikap yang bisa dipertanggungjawabkan.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Written by Imron Amrullah

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Karya Tak Akan Mati

Ancaman Bukan Medan Bagi Penderita Skizofreni