in

Belajar dari Master Shifu

Alkisah, sesaat setelah Po terpilih menjadi dragon warrior, Shifu dipasrahi tanggung jawab oleh master Oogway untuk menjadi guru penyelamat the Valley. Tapi bagaimanakah Shifu bisa melatih Po, seekor panda gembul yang awam kungfu, hingga menjadi pendekar kungfu hebat seantero jagad? Sepenggal kisah usaha seorang guru mengajar muridnya ini disajikan dalam film Kungfu Panda session 1. It is the supreme art of the teacher to awaken joy in creative expression and knowledge (Albert Einstein).

Shifu tidak menyukai Po. Bukan hanya karena Po dianggap sebagai penghalang bagi kelima murid kesayangannya the five furious untuk menjadi dragon warrior. Tapi, juga karena Po adalah bukan murid yang baik. Po tidak pernah bisa berkonsentrasi dalam setiap pelajaran. Dia tidak bisa memahami kungfu dengan cepat layaknya teman seperguruannya. Sikap Po yang cenderung tidak serius menambah kebencian Shifu terhadap dirinya. Hingga Shifu melakukan berbagai intrik untuk mengusir Po dari Jade Palace.

Di dunia nyata, sikap shifu tersebut sering kita temukan dalam dunia pendidikan kita. Banyak guru tidak menyukai seorang siswa hanya karena dia tidak terlalu pintar. Tidak sedikit guru kita yang kesal terhadap murid yang lamban dalam memahami pelajaran, lebih mengistimewakan murid yang berkulit putih dan bening dan menyia-nyiakan murid yang berkulit hitam dan dekil. Pada fase ini, kecenderungan untuk pilih kasih tidak bisa dihindari.

Namun, apakah shifu menyerah mengajari Po dan berhasil mengusirnya dari kuil Jade?

Alih-alih mengusirnya dari mm, suatu saat Shifu melihat pemandangan elok ketika Po dengan tidak sadar menaiki atap dan menbentuk posisi kuda-kuda yang sempurna. Keahlian dasar yang harus dimiliki pendekar kungfu, saat dia kelaparan. Sejak saat itu, Shifu mengetahui bahwa Po memiliki bakat kungfu yang luar biasa dan mulai menyukai murid gembulnya itu.

Ahirnya Shifu menyadari bahwa kegagalannya selama ini dalam mengajari Po bukan karena Po yang tidak pintar. Namun, metode pengajarannya yang perlu diperbaiki. Po tidak bisa dilatih dengan metode yang sama layaknya the five karena dia memiliki masalah dalam berkonsentaratsi. Satu-satunya yang membuat Po tertarik adalah makanan. Maka, makanan dumpling dijadikan sebagai umpan untuk latihan. Shifu tidak mengajarkan jurus tangan cepat ataupun menyuruh Po push-up sepanjang waktu. Dia hanya menyuruh panda yang kelaparan itu untuk merebut dumpling darinya. Dengan cara ini, Po tidak merasa dalam training namun justru saat itu dia belajar kungfu dengan cepat.

Tidak ada murid yang bodoh, hanya ada guru yang tidak berhasil. Pembaca boleh saja tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Namun, bila kita melihat lebih dalam, maka akan kita dapati statement itu ada benarnya. Jika kita merasa bahwa proses belajar mengajar gagal, maka jangan terburu-buru menyalahkan murid. Lakukanlah intropeksi seperti yang Shifu lakukan. Setidaknya ada dua hal menarik yang dapat kita pelajari dari Shifu. Pertama adalah mengenal siswa dan yang kedua adalah memperbaiki cara mengajar.

Tidak kenal maka tidak sayang. Begitulah kata pepatah. Mengenal siswa bagi seorang guru adalah hal yang wajib. Mengenal menjadi bagian penting dalam proses belajar mengajar. Sebab, itu akan memudahkan pencapaian goal pembelajaran yang tepat sasaran dan menghindari hal-hal yang mubadzir, baik waktu, tenaga dan pikiran. Mengenal di sini mempunyai arti yang luas. Bukan hanya sekedar nama, guru juga diharuskan mengenal potensi, interest serta karakter siswa. Kita terlalu dini menuduh siswa yang sering tidur di kelas sebagai siswa yang malas dan tidak punya semangat belajar. Padahal, kita tidak tahu bahwa siswa tersebut menderita insomnia yang menghalanginya tidur lebih awal. Pun terlalu tergesa-gesa menghakimi siswa bodoh hanya karena dia tidak bisa matematika. Padahal dia selalu juara dalam lomba menulis cerpen ataupun deklamasi puisi.

Mengenal siswa secara utuh tentu tidaklah mudah mengingat jumlah siswa yang cukup banyak. Namun, bukan berarti ini tidak dapat dilakukan. Hal ini bisa dimulai dengan usaha yang sederhana seperti menyapa siswa dan menanyakan kabarnya. Pada jam istirahat usahakan untuk keluar kantor dan berbaur dengan siswa. Buatlah kesan bahwa anda terbuka dan bersedia membantu sehingga mereka juga terbuka dan tidak segan untuk bercerita baik tentang potensi maupun permasalahan mereka dalam belajar. Namun, perlu diingat bahwa komunikasi tersebut harus dalam porsi yang cukup dan tidak berlebihan. Sebab, sesuatu yang berlebihan tidaklah baik.

Setelah mengenal siswa dan mengetahui keahlian dan masalah-masalah mereka, selanjutnya yang harus dilakukan adalah mengevaluasi metode mengajar. Apakah cara mengajar kita sudah benar? Jangan-jangan cara mengajar kita membosankan dan menambah tingkat stress siswa? Ubahlah cara mengajar dengan metode yang dapat mengakomodir kebutuhan siswa. Setiap siswa memiliki learning style dan interest yang berbeda. Jadikan interest sebagai pancingan dan learning style sebagai kendaran agar mereka lebih tertarik dan memahami pelajaran dengan lebih cepat. Layaknya Po yang bisa berkonsentrasi dan serius ketika umpan latihannya adalah makanan.

Selain itu, metode pengajaran selayaknya dapat menjawab tujuan pembelajaran. Jika leaning goal-nya adalah penguasaan skills maka berikanlah siswa kesempatan yang cukup untuk mempraktekan skill tersebut. Bila mengajari siwa tentang moral maka berikanlah contoh. Tidak usah berharap siswa dapat berbahasa Inggris dengan lancar bila yang mereka pelajari hanya menghafal rumus-rumus tenses. Jangan menuntut siswa disiplin bila guru sering datang terlambat.

Begitulah Shifu mengajari Po. Dengan mengenal potensi Po, Shifu berhasil menjadikannya sebagai the real dragon warrior. Setiap siswa adalah istimewa. Mereka memiliki keahlian yang berbeda-beda. Tugas kita hanya menggali dan membantu mengembangkannya. Jangan memaksakan mereka menjadi orang lain. Karena kita tidak bisa mengajari dan memaksa burung untuk berenang karena kemampuan burung adalah terbang.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Ancaman Bukan Medan Bagi Penderita Skizofreni

Agama Benarkah Sumber Kekerasan, Peperangan, dan Perpecahan?