in

Kapan Nikah?

Saya mengamati akhir-akhir ini fenomena pertanyaan “kapan nikah?” menjadi satu fenomena yang sangat menghibur. Bagaimana tidak? Pertanyaan itu berkembang pesat bak pendaki di musim narsis. Pertanyaan itu terus mengalir tidak ada yang bisa membendung dan yang ditanya hanya bisa mempersiapkan mental agar tidak ling-lung lalu gelap. Duh, ngeri.

Zaman dahulu apabila ada orang tua bertannya kapan nikah, respon jawabannya bisa langsung ditebak yaitu, cium tangan lalu tersenyum dengan senyuman termanis yang dimiliki sambil mengaharap doa baik-baik kepada yang bertanya. Misal, saat ditanya “kamu kapan nikah?” jawabannya tidak akan jauh-jauh dari “Minta doanya ya, semoga secepatnya”. Hal ini menjadi kebiasaan orang tua melihat ada kerabat yang belum menikah padahal sudah cukup umur. Pertanyaan “kapan nikah” hanya menjadi urusan kekeluargaan yang hanya diketahui oleh dua orang yang bertanya dan yang dipertanyakan. Setelah itu selesai urusan.

Sekarang pertanyaan kapan nikah itu bukan lagi menjadi kebiasaan orang tua saat melihat kerabat atau teman yang sudah cukup umur untuk menikah. Tapi, sudah ada dalam kehidupan di segala lintas usia dan lintas profesi. Banyak berbagai respon dan jawaban yang berawal dari pertanyaan “kapan nikah?”. Respon dengan selera humor tinggi sehingga membuat ngakak habis saat mendengarnya sampai pada respon yang menyesakkan dada dan menangis darah. Ooo, tidak.

Pertanyaan dan respon yang bermacam-macam itu tersebar di dunia maya dengan sangat cepat sebagai bahan saling bully satu sama lain. Pernah suatu ketika saat saya ada di kamar sendirian dikirimi pesan chat oleh teman yang sedang hamil karena baru saja menikah. Kalau ada yang tanya “Kapan nikah? Jawab saja, maaf saya berkembang biak dengan membelah diri”. Tidak usah ditanya bagaimana perasaan saya saat membaca chat itu. Tapi, demi keadilan sosial bagi seluruh jomblo di Indonesia akan saya ceritakan biar jelas dan mohon untuk disimak dengan cara seksama dalam tempo yang tidak harus singkat.

Sungguh perasaan saya waktu itu berada antara senang sekaligus sedih. Saya sudah dianggap makhluk spesies baru yang memiliki akal dan menyerupai makhluk melata Amoeba. Senang karena teman saya itu masih ingat kepada saya yang masih belum menikah ini. Saya sedih karena dia tertawa lantaran sudah menikah di atas penderitaan teman yang masih jomblo sok tegar ini. Aduh, Dik. Jangan jauh-jauh mainnya biar kita segera bertemu. Jeritan dalam hati. Eaaaaaa…

Pertanyaan “kapan nikah?” ini semakin semarak saat lebaran. Saat berkumpul dengan keluarga besar yang tinggal dari berbagai tempat. Kesenangan berkumpul dengan keluarga besar menjadi hilang dan berubah menjadi perkumpulan yang mengerikan bagi para kaum jomblo. “Saya mau ikut berlebaran, asal tidak ditanya kapan nikah”. Duh, betapa ngenesnya jomblo satu ini yang rela tidak mendapatkan uang lebaran demi menghindari pertanyaan “kapan nikah?”.

Ada juga yang merespon dengan cenderung tak acuh terhadap pertanyaan “kapan nikah?”. Apabila ada yang tanya “kapan nikah? Bilang aja, Lebaran gini KUA masih tutup”. Urusan selesai.

Beralih pada ketegasan menteri kelautan dan perikanan Susi Pudjiastutik dalam menenggelamkan kapal ilegal yang selalu menangkap ikan di laut Indonesia juga menjadi inspirasi. “Kalau ada yang bertanya kapan nikah, TENGGELAMKAN!!! Ini menjadi jawaban yang membuat saya senang. Betapa kreatifnya seorang jomblo dalam menghadapi ujiannya. Jadi, mohon bersabar, ini ujian Mblo.

Dunia pesantren tidak luput dari fenomena ini. Pesantren dalam hal menikah selalu memiliki energi yang tinggi. Makanya, tidak jarang santri yang baru selesai boyongan akan langsung menikah. Menghadapi fenomena “kapan nikah?” kreatifitas santri bukan merespon dari pertanyaan tersebut. Tapi, menjadi pelaku dari fenomena itu. “Adek sudah hafal Quran Bang, kapan saya dikhitbah?”. Santri di pondok pesantren selalu memiliki khas dalam setiap fenomena. Keberanian dalam melakukan dan memutuskan tanpa ragu menjadi karakter utama.

Rasa tidak enak dan tidak tega dalam menyampaikan pertanyaan kapan nikah sekarang ini sudah menipis dan relatif dibuang jauh-jauh. Saya memiliki seorang teman yang memiliki mantan yang sampai sekarang masih menjadi bayang-bayang dalam pikirannya. Status jomblo yang disandang sampai sekarang tidak luput menjadi korban dari pertanyaan “kapan nikah?”.

Saat ditanya “Kapan nikah? Maaf masih belum ada yang beruntung dapatkan aku”. Jawaban ini saya kira sangat diplomatis terhadap fenomena pertanyaan “kapan nikah?”. Teman saya menjelaskan dengan panjang lebar bahwa, menjawab pertanyaan itu tidak harus sesuai dengan pertanyaan yang disampaikan. Dalam menjawab pertanyaan kita memiliki hak untuk mempertanyakan balik, untuk apa pertanyaan itu disampaikan, tujuannya apa, serta seberapa penting pertanyaan itu dijawab.

Teman saya melanjutkan, pertanyaan “kapan nikah?” sekarang ini bukan murni bertanya kepada kita semua, kapan kita yang mau menikah. Tapi, lebih cenderung untuk mem-bully status saja. Jadi, untuk mematahkan tujuan yang tersembunyi tersebut, butuh jawaban yang membuat kita berada di atas angin. Dengan begitu, orang yang bertanya akan KO pada ronde pertama.

Bagi jomblo yang tidak memiliki mental kuat seperti teman saya di atas. Mengahadapi pertanyaan “kapan nikah?” sunggguh persoalan yang tidak mudah. Lebih baik berangkat ke medan perang daripada menghadapi pertanyaan itu. Sebenarnya, apabila diamati kembali. Sumber persoalan paling besar dari fenomena pertanyaan “kapan nikah?” adalah mantan. “Mantan itu fana, nyeseknya abadi.” Begitu kata teman.

Ini terakhir berdasarkan survei yang tidak pernah saya lakukan bahwa, korban dari fenomena pertanyaan “kapan nikah?” bukan yang berstatus jomblo saja. Tapi, juga menimpa orang yang sudah berkeluarga.

A: “Kapan nikah?”

B: “Emang kamu sudah?”

A: “Hahaha. Saya sudah menikah lama loh.”

B: “Kok gak kelihatan bahagia?” Jleb. Dialog tersebut menjadi pukulan telak untuk saling evaluasi.

Menikah merupakan rahasia ilahi. Tidak ada seorangpun yang mengetahui secara detail permasalahan terkait jodoh, kecuali diri kita sendiri. Membully juga bukan menjadi solusi yang baik. Demikian juga mempertanyakan atau membicarakan di belakang, sungguh sangat tidak etis.

Ada tiga hal yang misteri dalam dunia ini yakni, rejeki, jodoh, dan kematian. Dari ketiga misteri tersebut, hanya jodoh yang belum ada jaminannya. Rejeki dan kematian merupakan misteri yang akan pasti kita jalani. Oleh sebab itu, perlu sikap yang dewasa dalam menghadapi. Butuh pikiran terbuka dalam merespon fenomena yang berkembang. Tawakkal (pasrah diri) terhadap takdir Allah Swt. merupakan jalan satu-satunya yang harus dijalani karena jodoh berada di Tangan Tuhan. Tapi awas, di atas usia tiga puluh tahun, Tuhan angkat tangan.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Written by Imron Amrullah

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Congklak vs COC (Clash of Clans)

Hikmah, Cobaan, Ketinggian, dan Kesabaran