in

Puncak Gunung dan Kesadaran

Saya merasakan ada perbedaan saat mendaki gunung dahulu (sebelum media sosial menjadi konsumsi masyarakat khususnya remaja) dan sekarang (setelah media sosial menjamur dalam kehidupan masyarakat). Perbedaan yang saya maksud adalah perbedaan yang mendasar secara kualitas maupun kuantitas. Sejak media sosial menjadi aktivitas “wajib” yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, mendaki gunung menjadi salah satu kegiatan yang menjadi pilihan setiap akhir pekan. Hal tersebut tentu tidak luput dari ajang eksistensi diri.

Kegiatan mendaki dahulu dilakukan oleh sebagian kecil orang yang benar-benar mencintai keindahan alam dan orang yang cenderung suka menyendiri. Misal, tokoh muda kritis namun penuh gejolak dalam dirinya yaitu, Soe Hok Gie. Soe Hok Gie dalam perjalanan hidupnya tidak terlepas dari mendaki gunung dan menjadi salah satu tokoh yang mendirikan MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam) Universitas Indonesia. Di tengah bergejolaknya pemerintahan yang penuh dengan kebohongan dan korupsi waktu itu, sosok satu ini menjadi tokoh yang menentang keras akan hal itu.

Gejolak dalam diri Soe Hok Gie bisa dilihat dalam bukunya Catatan Seorang Demonstran. Mendaki gunung bagi Soe Hok Gie merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menyendiri dan merenung terhadap apa yang sudah dilakukan dalam perjalanan hidupnya. Mengamati hal tersebut, mendaki menjadi kegiatan yang benar-benar dilakukan oleh orang yang sudah memiliki kemandirian dan karakter. Sehingga, pendakian yang dilakukan tidak menimbulkan masalah bagi alam.

Beda jaman, beda pula masalah yang akan dihadapi. Begitu juga dengan mendaki gunung. Sejak media sosial menjadi aktivitas rutin sehari-hari, kegiatan mendaki gunung dilakukan oleh banyak orang. Setiap akhir pekan pos perijinan pendakian selalu dipenuhi oleh para pendaki yang didominasi oleh remaja. Remaja yang memiliki latar belakang berbeda dan tujuan yang sama yaitu, untuk eksis.

Pendaki yang gemar eksis ini memiliki kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari yang dilengkapi dengan fasilitas yang memanjakan dirinya. Misal, ada pembantu yang membersihkan kamar tidur, ada petugas kebersihan di sekolah, dan fasilitas lainnya. Sehingga, kebiasaan dilayani ini menjadi karakter dalam diri pendaki dan remaja sekarang pada umumnya. Bahkan yang lebih parah lagi karena tidak ada fasilitas sehingga cenderung berbuat seenaknya.

Karakter untuk selalu dilayani ini menjadi suatu hal yang kurang baik. Terbukti, saat ini keadaan gunung penuh dengan sampah yang berserakan. Kebiasaan dilayani membuat pendaki tidak membawa turun sampahnya meskipun petugas selalu memberikan pesan untuk membawa turun sampah masing-masing.

Masalah sampah ini menjadi perhatian serius dalam dunia pendakian akhir ini. Setiap tahun petugas dan para pecinta alam di gunung semeru dan rinjani yang melakukan pembersihan bisa mencapai puluhan ton sampah. Hal ini menjadi ancaman terhadap ekosistem alam karena kebanyakan sampah yang ditinggalkan adalah plastik dan botol air mineral.

Kebiasaan yang sering terlihat di atas gunung adalah ada yang memang membuang sampah sembarangan dan ada pula sebagian yang membakar sampahnya dan ditinggal begitu saja sebelum semua habis terbakar. Melihat ada tumpukan sampah yang dibakar, pendaki lain ikut membuang sampah ditempat tersebut dan akhirnya menumpuk begitu saja. Pendaki yang membuang sampah sembarangan sama halnya meludah ke arah atas yang akan mengenai wajahnya sendiri.

Ketidaksadaran para pendaki ini menjadi masalah bagi keberlangsungan hidup banyak makhluk yang seharusnya hidup dengan harmoni di alam tanpa ada gangguan dari ulah manusia. Kebersihan bukan satu-satunya akibat dari keinginan untuk eksis. Hal lainnya adalah corat-coret plang penunjuk arah, memetik bunga edelweiss untuk berfoto ria, dan yang memprihatinkan adalah berprilaku sekehendak hati tanpa menghiraukan bahwa gunung juga ditempati oleh makhluk (dimensi) lain.

Masalah membuang sampah tidak pada tempatnya di manapun itu menjadi hal yang terlihat remeh secara sepintas. Tapi, secara resiko merupakan pekerjaan yang menyangkut harga diri manusia. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan makhluk yang lain. Jadi, apabila manusia melakukan hal-hal yang tidak baik secara otomatis merendahkan derajatnya sendiri, termasuk membuang sampah sembarangan.

Manusia dalam kehidupan ini seharusnya memiliki kesadaran bahwa semua hal merupakan bagian dari diri manusia itu sendiri. Ketika semua hal menjadi bagian dari kita, maka kita akan timbul kesadaran rasa memiliki dan berusaha merawat sebaik mungkin. Berbeda dengan ketika kesadaran kita hanya sebatas diri sendiri. Itupun bisa dipersempit lagi dengan sebatas keinginan. Keinginan yang hanya mengikuti kemauan sementara tanpa berpikir selanjutnya.

Kesadaran  bahwa di sekitar kita merupakan bagian dari diri sendiri akan sejalan dengan keluasan dalam bersikap selanjutnya. Perbuatan yang tidak baik akan tersendat dengan pikiran bahwa ketika tetap dilakukan, maka sama halnya menyakiti diri sendiri. Hal ini juga menjadi bukti bahwa kebersihan bagian dari iman. Kebersihan di sini saya kira tidak hanya sebatas kebersihan dari aspek fisik saja. Tapi, mencakup kebersihan dalam berpikir, kebersihan dalam bersikap, dan kebersihan dalam melaksanakan tugas.

Segala aspek terkait kebersihan hakikatnya berjalan lurus dengan keimanan. Banyak orang yang manyatakan diri bahwa percaya dengan Tuhan, tapi realitanya tidak menjaga kebersihan. Apa yang menjadi bukti bahwa keimanan yang diucapkan merupakan kebenaran? Tidak ada. Jadi, salah satu bukti keimanan seseorang adalah bisa menjaga kebersihan. Oleh sebab itu, orang tua dahulu mengajari untuk menyapu halaman setiap pagi, ada jadwal piket di sekolah, dan lain sebagainya untuk memberikan kesadaran dalam diri kita bahwa keimanan itu bisa dibuktikan, tidak hanya diucapkan. Kebersihan memang tidak harus dilakukan oleh diri kita sendiri, bisa menyewa tukang bersih atau dengan cara yang lain. Tapi, kesadaran dalam menjaga kebersihan harus selalu ada dalam diri kita masing-masing.

Untuk menjadikan kesadaran tertanam pada sikap kita memang banyak pihak yang harus terlibat untuk dijadikan contoh antara lain, keluarga, guru agama, sekolah, dan masyarakat. Tapi, membiasakan diri untuk menyapu, memungut sampah yang di bawah, dan membuang sampah pada tempatnya akan mengecilkan ego dan memperluas kesadaran kita sebagai manusia. Semoga…

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Written by Imron Amrullah

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Kapan Nikah?

Hikmah, Cobaan, Ketinggian, dan Kesabaran