in

Agama Benarkah Sumber Kekerasan, Peperangan, dan Perpecahan?

Tema diskusi bulan ini cukup membuat pikiran teman-teman FORMASI RUA Surabaya bekerja lebih keras dan hati-hati. Tema yang diangkat dari kegelisahan salah satu anggota FORMASI RUA Surabaya terkait dengan kekerasan akhir-akhir ini yang mengatasnamakan agama. Agama yang keberadaannya dikedalaman hati masing-masing seolah dipaksa keluar untuk kembali didiskusikan, dibedah, dan diklasifikasi berdasarkan masalah yang terjadi di sekitar kita. Kegelisahan atas tema ini berangkat dari pertanyaan dosen kepada salah satu anggota FORMASI RUA Surabaya terkait kekerasan, peperangan, dan perpecahan. Pertanyaan dari dosen itu adalah benarkah agama itu sumber kekerasan, perpecahan, peperangan? Sedangkan, ada orang yang tidak beragama justru bersikap lemah lembut, toleransi, dan bersikap penuh persaudaraan.

Diskusi dimulai dengan penjelasan ringan dari Millatul Islamiah terkait lirik lagu John Lenon yang berjudul “Imagine”. “Jadi, dilirik itu secara tekstual John Lenon seperti berandai-andai. Namun, secara pragmatik itu adalah bentuk protes terhadap beberapa hal yang memicu terjadinya perpecahan di dunia. Beberapa hal tersebut adalah, doktrin-doktrin langit, neraka bagi yang jahat, surga bagi yang baik, kekuasan yang disebut sebagai “countries“, perbedaan-perbedaan (countries, beda ras, bahasa, suku dan lain-lain), serta agama. Sehingga, dia berpendapat, seandainya di dunia ini tidak ada hal-hal tersebut. Maka, kita bisa hidup dengan damai. Tidak ada intimidasi, diskriminasi, superioritas atas minoritas, dan lain-lain.”

Terjemahan secara tekstual dari lagu John Lenon kurang lebih; “Bayangkanlah tak ada surga, Mudah jika kau mau berusaha, Tak ada neraka di bawah kita, Di atas kita hanya ada langit, Bayangkanlah semua orang, Hidup hanya hari ini… Bayangkanlah tak ada Negara, Tidak sulit melakukannya, Tak ada alasan untuk membunuh dan terbunuh, Juga tak ada agama, Bayangkan semua orang, Menjalani hidup dalam damai… Bayangkan tak ada harta benda, Aku ragu apakah kau mampu, Tak perlu rakus atau lapar, Persaudaraan manusia, Bayangkan semua orang, Berbagi dunia ini, Mungkin kau kan berkata aku seorang pemimpi, Namun aku bukanlah satu-satunya, Kuharap suatu saat kau kan bergabung dengan kami, Dan dunia akan bersatu.

Pengantar diskusi yang singkat ini lebih menitik beratkan pada kata agama. Arif Hamzah berpendapat bahwa kita semua harus mengklasifikasi sebelum memutuskan agama merupakan sebuah sumber dari kekerasan, peperangan, hingga perpecahan. Harus dimulai dengan mengetahui sejarah agama terlebih dahulu agar tidak ada kerancuan dalam memberikan sudut pandang. Agama berada dalam hati masing-masing individu. Agama menjadi pegangan hidup yang tidak ada nilai kekerasan, peperangan, dan apalagi sampai perpecahan. Berbeda dengan ideologi yang banyak macamnya. Ada ideologi anarkis, ideologi kapitalis, dan lain sebagainya.

Agama dan ideologi bisa dibedakan dengan nilai yang terkandung di dalamnya. Agama memiliki nilai ketuhanan, sedangkan ideologi tidak ada. Ideologi murni hasil pemikiran manusia sesuai kebutuhan dan kepentingannya. Sehingga, dari dua perbedaan itu bisa ditarik benang merah bahwa agama tidak akan menjadi sebuah sumber kekerasan karena ada nilai ketuhanan di dalamnya. Agama merupakan garis vertikal yang menghubungkan manusia dengan Pencipta.  Kekerasan, peperangan, dan perpecahan timbul karena sebuah ideologi. Ideologi yang sudah ditunggangi oleh kebutuhan dan kepentingan masing-masing individu atau kelompok.

Penjelasan Arif Hamzah secara definisi keilmuan langsung masuk pada pikiran saya. Tapi, sebagai orang nakal dalam menempuh pendidikan. Saya tidak begitu puas dengan jawaban itu. Jawaban yang saya kira terlalu memposisikan agama sebagai hal yang suci dan hanya boleh dijunjung setinggi-tingginya. Agama diposisikan sebagai ajaran langit yang tidak boleh disentuh oleh titik noda dosa yang terjadi di permukaan bumi.

Saya benar-benar berangkat dari pemikiran saya menangkap pertanyaan yang menjadi dasar tema diskusi ini. Ada dua aspek yang harus dibedakan dalam memandang agama. Pertama, agama sebagai sebuah nilai. Kedua, agama sebagai lingkaran sekelompok orang (organisasi atau apalah istilahnya). Pertama, agama sebagai sebuah nilai memang sudah tidak bisa diskusikan, dibicarakan, dan dibedah lagi karena sudah jelas bahwa agama merupakan petunjuk jalan kembali menuju Sang Maha Pencipta. Hal itu sudah mengakar kuat dalam keyakinan hati saya karena sejak kecil ajaran agama sudah menjadi konsumsi rutin setiap waktu.

Semua anak kecil yang hidup di kampung, selain bermain, konsumsi utama setiap hari adalah ajaran agama. Saya masih ingat betul saat kakek saya marah-marah karena cucunya (sepupu saya) dibawa oleh ayahnya berlibur lama di perantauan (Surabaya). Marah karena kakek merasa kalau cucunya itu lama ada di perantauan, maka akan ketinggalan ngaji Qurannya. Ini sudah menjadi bukti bahwa ajaran agama khususnya Islam sudah mendarah daging dalam kehidupan saya sebagai anak kampung.

Kedua, agama yang awalnya sebagai nilai dan kemudian dianut oleh sebagian kelompok orang. Maka, akan membentuk kelompok-kelompok keagamaan. Di Indonesia sendiri ada Budha, Hindu, Katolik, Protestan, dan Islam. Islam sendiri memiliki banyak kelompok-kelompok sesuai dengan sudut pandang dalam menafsirkan nilai keislaman. Saya sebagai orang yang masih merasa beragama Islam dan belum menjadi umat Islam, berpikir bahwa agama khususnya Islam harus memberikan solusi terhadap permasalahan umat. Tidak hanya terhadap umat Islam saja, tetapi memberikan rahmat bagi seluruh manusia di muka bumi. Jadi, tema diskusi itu berangkat dari kegelisahan atas peristiwa dalam kehidupan sehari-hari dan saya lempar kembali pada peristiwa yang terjadi dalam kehidupan di sekitar agar agama dan ajarannya bermanfaat dan tidak hanya berada di kedalaman yang hanya dirasakan oleh orang-orang yang percaya saja.

Realita kehidupan yang bisa kita saksikan bersama bahwa banyak kekerasan, peperangan, dan perpecahan atas nama agama. Saya setuju bahwa agama dijadikan sebagai salah satu sumber dari semua itu sebagai bentuk tanggung jawab untuk memberikan solusi terhadap permasalahan umat. Perang Badar yang dilakukan oleh nabi Muhammad Saw. dengan jumlah personil yang hanya 313 melawan 1.000 pasukan Quraisy, kita semua mengakui bahwa itu adalah kemenangan Islam. Kemenangan yang dilakukan oleh orang Islam terhadap orang Quraisy.

Sebenarnya, tidak perlu khawatir untuk mengatakan agama sebagai sumber dari kekerasan, peperangan, dan perpecahan supaya nilai-nilai agama yang sudah terpatri dalam hati memiliki ladang sebagai tempat bertumbuhnya kebermanfaatan sebagai umat yang beragama. Menjadi bukti bahwa nilai keagamaan yang sudah dipelajari sejak kecil benar-benar berfungsi sebagai jalan dan bekal untuk kembali kepada-Nya.

Apabila  agama hanya diletakkan di kedalaman hati masing-masing pengikutnya dan dijadikan permata yang tidak boleh diganggu keberadaannya. Maka, kekerasan atas nama ego, peperangan atas nama kepentingan ekonomi, dan perpecahan atas nama suku dan kelompok, itu akan terus berlangsung dan tidak akan pernah selesai. Oleh sebab itu, agama melalui organisasi masyarakat yang sudah ada misalnya Muhammadiyah, Nahdlatul ‘Ulama dan lain sebagainya harus berjalan beriringan dalam menjawab permasalahan ummat manusia. Semoga…

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Written by Imron Amrullah

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Hikmah, Cobaan, Ketinggian, dan Kesabaran

Puasa dan Niat Puasa