in

Kegembiraan Menyambut Bulan Puasa

Memasuki bulan puasa, teringat saat masa anak-anak di kampung yang memiliki kenangan tersendiri. Nuansa gembira ria yang dihadirkan bulan penuh berkah sudah terasa saat memasuki hari pertama. Satu bulan penuh kegiatan ngaji di surau diliburkan diganti dengan tadarus setelah salat tarawih dan pastinya ada makanan yang bisa langsung dinikmati sebagai pembeda dengan ngaji di surau biasanya di luar bulan puasa. Saling menyalah-benarkan bacaan Quran sesama teman dan berebut makanan enak menjadi aktivitas yang istimewa.

Bermain petasan setelah tadarus menjadi kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan karena selain memang menyenangkan, hanya pada bulan puasa anak kecil diperbolehkan tidur jam berapa saja atau bahkan tidak tidur semalam suntuk. Petasan yang diguanakan dari berbagai macam jenis. Menjelang dini hari (waktu sahur), kita semua akan berkeliling kampung membawa kentongan atau apa saja yang menimbulkan bunyi saat dipukul sambil berteriak “sahur… sahur… sahur…”

Sehari penuh menahan untuk tidak makan dan minum terobati dengan membayangkan ibu di dapur memasak makanan yang banyak dan enak-enak. Tidak ketinggalan masak makanan khas bulan puasa, yaitu kolak. Kolak tidak boleh ketinggalan satu hari saja untuk tidak dimasak. Satu hari tanpa kolak bagai lebaran tanpa petasan. Kolak menjadi salah satu simbol bulan puasa. Di mana ada kolak, di sana terasa bulan puasa, pun sebaliknya. Bagi orang tua yang pengertian, isi kolak akan disesuaikan dengan kesukaan buah hatinya, bisa kolak kacang hijau, ubi, talas, singkong, dan lain sebagainya.

Selain kegiatan ngaji yang diliburkan, aktivitas sekolah juga libur satu bulan penuh. Sehingga, semua teman-teman bisa pergi ke masjid sebelum azan Zuhur untuk salat berjemaah. Setelah berjemaah tidak langsung pulang, melainkan tetap di masjid menikmati sejuknya rumah ibadah itu. Sesekali diselingi debat sesama teman terkait hukum makruh tidaknya kumur-kumur, menggosok gigi, keramas saat matahari berada di puncak teriknya, atau justru membicarakan layangan.

Menjelang sore hari, di gardu kampung dipenuhi oleh orang duduk santai membicarakan berbagai macam kegiatan sehari-hari dan akan kembali ke rumah masing-masing saat pengeras suara di masjid berbunyi sebagai tanda buka puasa sebentar lagi tiba.

Suasana hati saat itu begitu menyenangkan dalam menyambut bulan puasa ini. Meskipun, saat itu (masa kecil) tidak tahu menahu terkait apa saja yang terkandung dalam “yang katanya” bulan penuh berkah ini. Terpenting saat itu adalah kesenangan hati dalam menyambut dengan berbagai cara seperti yang sudah diceritakan di atas. Begitulah masa anak-anak menyambut kemurahan Tuhan dalam satu bulan penuh membuka pintu maaf bagi hambaNya. Kesenangan menyambut Yang Maha Pengampun memberikan waktu khusus untuk memberikan ampunanan. 

Saat sudah dewasa ini, kepentingan dalam kehidupan sudah sangat kompleks. Sehingga, berbagai tendensi sudah mulai menunggangi kesenangan-kesenangan yang tulus seperti saat anak-anak dahulu. Kesenangan yang seharusnya tetap dimiliki saat mengetahui ada hal yang harus disenangi. Bukan kesenangan atas kepentingan yang bisa tercapai karena bersamaan dengan datangnya bulan penuh berkah ini.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Written by Imron Amrullah

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Puasa dan Niat Puasa

Puasa dan Perilaku Kita