in

Puasa dan Niat Puasa

Saya sudah tidak ingat lagi sejak usia berapa mulai berpuasa. Berpuasa langsung satu hari penuh atau bertahap dimulai dari setengah hari (puasa Zuhur). Tetapi, yang saya ingat adalah awal tujuan saya berpuasa agar bisa menikmati buka dan sahur bersama keluarga. Bisa menikmati berbuka dan makan sahur bersama meningkatkan gengsi diri saat itu. Gengsi yang didapat saat sudah berpuasa satu hari penuh adalah bisa dikatakan dewasa (sudah besar). Sudah bisa ikut mendengarkan dan nimbrung orang tua berbicara, bisa mengambil keputusan sendiri, dan merasa sudah sejajar dengan orang-orang tua. Perasaan memiliki tujuan berpuasa seperti itu tidak bertahan lama.

Bertambah serta berkembangnya pengetahuan memberikan berbagai tujuan berpuasa. Diawali dengan melaksanakan kewajiban yang diperintahkan agama. Apabila diingat-ingat secara sadar perintah itu, saya berpuasa bukan atas perintah agama, melainkan atas perintah guru dan keluarga. Saat itu, saya masih terlalu dini untuk mengerti urusan agama serta hal yang harus dilakukan dan yang harus ditinggalkan. Dua pihak itulah yang mengajarkan untuk berpuasa. Guru dan keluarga memberikan informasi terkait puasa dari aspek positif dan negatif. Orang yang melaksanakan ibadah puasa akan mendapatkan pahala dan yang tidak puasa akan berdosa.

Pahala dan dosa menjadi dua hal yang efektif dan selalu ikut andil saat saya mengambil keputusan, sampai beranjak remaja dan mengenal puasa sunnah. Pahala yang dalam bayangan berupa materi yang bisa dikumpulkan seperti tabungan di bank. Maka, puasa sunnah dilakukan dengan rajin agar bisa mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Mulai puasa sunnah Rajab, Senin-Kamis, dan puasa sunnah lainnya.

Memasuki dunia pesantren, tujuan puasa diketahui tidak hanya sekedar memenuhi kewajiban yang berkaitan dengan mendapatkan pahala dan menggugurkan dosa. Melainkan bisa juga berdasarkan kepentingan pribadi. Misal, berpuasa dengan tujuan memiliki kesaktian tertentu, berpuasa untuk meningkatkan kealiman diri, dan berpuasa sebagai tirakat untuk mendapatkan lawan jenis yang sudah menjadi incaran. Puasa sunnah jenis ini memiliki waktu tertentu dan cara yang bermacam-macam. Ada puasa mutih (puasa yang hanya boleh makan nasi dan air putih saja selama empat puluh satu hari). Ada puasa tiga hari berturu-turut hanya boleh minum air putih, tidak boleh makan apapun, dan di hari terakhir sebagai puncak tirakat tidak boleh makan dan minum.

Selain berpuasa untuk keperluan pribadi, ada juga puasa yang dipersembahkan untuk orang lain. Misal, berpuasa untuk memperingati hari lahir orang tua, guru, dan lain sebagainya. Pengetahuan terakhir yang saya ketahui terkait puasa adalah firman Allah Swt. yang berbunyi kurang lebih sebagai berikut; “Semua amal anak Adam untuknya, kecuali puasa. Puasa untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” Khusus ibadah puasa, Allah Swt. seolah-olah meminta diperuntukkan khusus untukNya. Meskipun, hakikatnya Allah Swt. tidak butuh terhadap amal perbuatan manusia. Amal perbuatan manusia tidak akan pernah sedikitpun mempengaruhi keangungan Allah Swt.

Saat semua amal ibadah kembali terhadap yang melakukan dan hanya satu ibadah, yaitu puasa yang khusus untuk Allah Swt. bagaimana mungkin diri ini bisa berniat selain karena-Nya?

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Written by Imron Amrullah

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Agama Benarkah Sumber Kekerasan, Peperangan, dan Perpecahan?

Kegembiraan Menyambut Bulan Puasa