Temu Pisah Di Langit RUA

0
152
Sumber Gambar: pixabay.com

Dikeheningan malam aku bersimpuh di hadapan Tuhan sembari menengadahkan kedua tangan, berharap kebaikan untuk diriku dan semua orang. Purnama bulan tampak tersenyum ditemani kelap-kelip gemintang yang berserakan di langit awan.

“Teeeet-teeeet.” Bel berdering menandakan persiapan tarhim, kulihat jam dinding menunjukkan pukul 03:30 WIS.

“Subuh masih kurang satu jam lagi,” gumamku dalam hati.

Waktu terus berjalan suara tarhimpun disenandungkan, asrama yang tadinya gelap kini menjadi terang. Para pengurus wisma mulai membangunkan warganya masing-masing. Sebagian santri ada yang melaksanakan salat tahajud, ada pula yang meneruskan tidurnya, ada yang beriktikaf di masjid, dan ada pula yang mencari tempat untuk tidur kembali. Begitulah kehidupan di pesantren, walau beraneka macam warna dan beraneka karakter,  namun kami tetaplah santri, dikala suka ataupun duka kami tetap bersama karena tujuan kami tak jauh berbeda, mencari berkah untuk meniti hidup yang berbahagia.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar,” Suara azan berkumandang di pondok Raudlatul Ulum Arrahmaniyah. Semua santri dengan khidmat berjemaah, berbaris bak tentara. Lantunan zikir bergemuruh di telinga, serta tak lupa panjatkan doa. Setelah usai berjemaah, pelan tapi pasti aku beranjak pergi menuju wisma untuk mengoordinasi warga, serta menjalani aktivitas pengajian alquran bersama.

Cahaya bulan mulai redup lalu lenyap, bintang-bintang hilang dari pandangan, cahaya mentari memancarkan sinarnya, terang dan indah di pelupuk mata.

“Assalamu `alaikum,” ucap helmy sambil berjalan mendekatiku.

“Wa `alaikum salam,” Sambil menyunggingkan senyuman.

“Bagaimana kabar akhy?”

“Alhamdulillah, baik.”

“O… iya, aku dengar, akhy tugas luar ya.”

“Kok akhy tahu, tahu dari siapa?” tanyaku.

“Tadi pak Jamal bilang, katanya akhy tugas luar, kalau gak salah, di Dompu. Apa itu benar khy?” Mendengar pertanyaan itu aku hanya bisa menganggukkan kepala.

“Terus, akhy berangkat kapan?”

“Insya Allah nanti sore, aku berangkat.”

“Maaf khy, aku gak bisa memberikan apa-apa,” sambil memelukku dengan erat.

Aku yang terharu tak mampu tuk membendung air mata. Kamipun terlarut dalam kesedihan, mata yang tadinya kering, kini berembun mengeluarkan kristal-kristal kesedihan.

Matahari tergelincir, angin siang berhembus kencang, debu-debu berhamburan, berpijak di segala arah mata memadang. Aku termenung memikirkan hal-hal yang akan dihadapi.

“Ya Allah, mengapa waktu bergulir begitu cepat,” tuturku keluh.

Aku yang terselubung masalah mencari seseorang yang bisa bertukar pikiran. Aku terus melangkah mencari sebuah jawaban, seperti berekspedisi mencari sebuah kebenaran. Shahdan, aku teringat seseorang yang selalu menasehatiku “Ustaz Fauzan,” dalam pikiranku.

Tanpa berpikir panjang, aku beranjak mencarinya, kutemukan beliau di kantor LBA putra. Ditemani asap-asap putih terhembus dari bibirnya.

“Assalamu `alaikum,” sembari mencium tangan beliau dengan takzim. Kuceritakan keluh kesah yang melanda jiwa, mencurahkan segala perasaan yang bergelut dalam sukma, pun beliau memberikan solusi, membuat ketenangan dalam dada.

Sebenarnya tujuan kita mondok adalah mencari barokah, ilmu bukanlah tujuan yang utama, percuma mempunyai banyak ilmu bila tidak berokah, seperti halnya salat. Kita salat untuk mencari rida Allah, bukan yang lain, pun percuma salat seorang hamba bila tidak diridai oleh Allah,” tutur beliau dengan penuh wibawa. Lalu menghisap rokok yang mulai habis  

Andaikan Allah membuka tabir-Nya, sesungguhnya, dedaunan yang ada di bumi tasawwuf  ini adalah barokah,” sambung beliau.

Dulu, ada santri yang tidak pernah sekolah, tidak pernah mengaji, kerjanya hanyalah mengembala kambing milik kiai dan membersihkan kawasan pondok. Tapi, siapa yang menyangka, santri yang tidak pernah sekolah dan mengaji ini akhirnya menjadi orang mulia dan terdidik karena di dalam berokah terselip hikmah dan berkah tanpa kita sadari,” cerita ustaz Fauzan dengan singkat dan padat.

Sore mulai berganti senja, dedaunan kering berguguran, tak mampu melawan titah Tuhan yang sudah tertuang. Terlihat mobil Avanza hitam melintasi kawasan pondok pesantren RUA. Penjemputan guru tugas dari Nusa Tenggara sudah tiba. Sebelum berangkat, aku berpamitan kepada kiai, meminta restu dan doa. Aku sowan kepada kiai Kholili Mas`ud selaku pengasuh pondok pesantren RUA.

Nak, manusia itu, mempunyai dua pilihan, meniru dan ditiru. Jika kamu ingin terkenal maka berbedalah, dan jangan lupa, amalkanlah ilmu yang sudah kau dapatkan di sini, serta jangan lupa bertawasul kepada para kiai,” pesan beliau.

“Iya, Kiai,” tuturku takzim. Setelah sowan, tak kuduga, semua teman-temanku sudah lama menunggu, lalu mereka menghampiriku dengan mata berkaca-kaca.

“Khy,  kalau aku punya salah, maafkan aku ya,” bersalaman.

“Aku juga khy,” sambung yang lain.

“Iya, sama-sama khy. Aku juga minta maaf pada kalian semua,” balasku, sambil memeluk mereka satu persatu.

Matahari yang mulai tenggelam memaksaku untuk masuk ke mobil, lambaian tangan menari-nari di depan mata, mengisyaratkan selamat jalan. Senja kini menghilang dan tak akan terbit kembali yang ada hanyalah kenangan-kenangan kebersamaan. Kenangan yang tak akan hilang walau detik menjadi menit, pun menit berbilang  jam. Kekalnya kenangan hingga zaman pun tak mampu untuk menghapusnya.

Temu pisah di langit RUA, membuat sepasang mata tak mampu menahan deraian air mata. Mengais berkah, menebar maslahah dengan sebuah pengabdian. Walau berakhir dengan perpisahan, mengharap secercah cahaya Tuhan. Apabila waktu telah berjalan, maka tidak bisa raga ini harus mengikuti arus yang tengah mengalir. Apabila takdir-Nya telah berkata, mau tidak mau hati ini harus menerima suratan takdir-Nya.   

Entahlah, sampai kapan kisah ini akan berakhir. Tetapi, sering kali setiap akhir justru menjadi awal bagi kisah selanjutnya. Begitu pun kisah perjalananku meninggalkan pondok pesantren, serta para sahabat. Hari ketika kesedihan memayungi langit RUA. Sekaligus cinta dan kerinduan yang membanjiri jiwa.

Hanya waktu…

Iya, semua hanya waktu.

Dan, biarlah waktu yang akan mengakhiri cerita ini, semuanya.


Pramian, 09 mei 2017

***
Juara 3 kategori Cerpen: Lomba Menulis “Membangun Literasi Santri Bersama FORMASI RUA” dalam rangka 2nd Anniversary FORMASIRUA.OR.ID.

Ayo Komentari

komentar