Santri RUA Puteri; Melaksanakan Upacara Kemerdekaan RI ke-72

0
159
Dokumentasi FORMASIRUA.OR.ID

Pada 17 Agustus 72 tahun silam Indonesia telah merdeka. Sejak saat itu, setiap tanggal tersebut seluruh masyarakat Indonesia memperingati dengan sukacita. Pada tanggal 17 Agustus tahun 2017 ini pondok pesantren Raudlatul Ulum Arrahmaniyah (RUA) juga ikut serta melaksanakan upacara kemerdekaan tanah air.

Upacara kali ini diikuti oleh seluruh santri puteri baik mukim maupun non mukim, lembaga pendidikan formal dan non formal, serta semua warga wisma puteri. Upacara ini pula tampak istimewa karena dihadiri oleh Nyai Nur Kautsar Muhtaram, pengasuh Ma’had RUA sekaligus ketua PC Muslimat NU Kab. Sampang, didampingi oleh ketua pengurus pesantren puteri dan pengurus bagian pendidikan ibadah dan dakwah (PID).

Dokumentasi FORMASIRUA.OR.ID

Pada pukul 07.30 WIB prosesi upacara bendera dimulai dengan persiapan masing-masing pleton. Sedikitnya ada 5 pleton pada upacara kali ini sesuai dengan jumlah wisma di pondok puteri; wisma El-Karafis, Az-Zahra, Lembaga Bahasa Arab (LBA), Lembaga Bahasa Inggris (LBI), dan wisma LATAS.

Berbeda dari tahun sebelumnya, upacara yang digelar di halaman Sekolah Tinggi Islam RUA (STIRUA) ini hanya diikuti oleh santri puteri. Nyai Hj. Fithriyah Ulfah Chalid, selaku ketua pengurus pesantren puteri menjelaskan bahwa seluruh persiapan upacara ini dipercayakan kepada pengurus pesantren bukan pengurus yayasan seperti tahun sebelumnya. “Instruksi dari Sekretaris Ma’had, Ust. Humaini,M. Pd.I, untuk mengadakan  upacara bendera masing-masing, artinya putera dan puteri tidak satu halaman dalam melaksanakan upacara kali ini.”

Dokumentasi FORMASIRUA.OR.ID

Bertugas sebagai komandan upacara saudari Nur Laila, siswi Madrasah Aliyah Almas’udiyah. Walaupun cuaca panas, peserta tampak antusias mengikuti setiap prosesi upacara dan suasana terasa sakral saat pengibaran bendera merah putih oleh petugas paskibraka yang diiringi oleh lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh paduan suara Ma’had RUA.

Suasana bertambah khidmat saat tahlil dan doa bersama untuk para pahlawan yang telah gugur dibacakan. Pembacaan tahlil dan doa ini ditambahkan dalam susunan upacara untuk melestarikan dan menegaskan tradisi pesantren dan santri.

Setelah pembacaan teks proklamasi, Inspektur upacara memberikan amanat. Bertindak sebagai inspektur adalah pengurus Yayasan Bagian Kesiswaan, Nyai Nuris Syarifah Chalid, S. Psi. Selaras dengan tema upacara kemerdekaan “berhikmat dan berjuang”. Disampaikan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari perjuangan pondok pesantren dan kaum santri, “berbicara tentang sejarah nasional tidak mungkin mengabaikan kaum santri yang teruji dan mengawal negeri ini,” ungkapnya.

Dalam amanatnya beliau juga menganjurkan agar santri ikut serta dalam menjaga kemerdekaan dan keutuhan NKRI dari berbagai tantangan yang mengancam ideologi dan keselamatan jiwa seperti serangan ISIS dan narkoba, “di tengah berbagai masalah yang mendera bangsa saat ini, perlu kiranya seluruh elemen bangsa merenungi kiprah dan etos jihad kaum santri yang terdiri dari tiga pilar, yaitu Nahdlatul Wathan (pilar kebangsaan), Nahdlatul Afkar (pilar kecendekiaan), dan Nahdlatul Tujjar (pilar kemandirian).

Setelah inspektur upacara meninggalkan lapangan dan disusul oleh komandan upacara, barisan dibubarkan menandai upacara kemerdekaan tanah air telah selesai tepat jam 09.30 WIB.

Dokumentasi FORMASIRUA.OR.ID

SELURUH PENGURUS DAN SANTRI PONDOK PESANTREN PUTERI RAUDLATUL ULUM ARRAHMANIYAH MENGUCAPKAN DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA YANG KE72 TAHUN.

Ayo Komentari

komentar