Berjiwa Santri Di Era Globalisasi

0
493
Sumber Gambar: KEKINIAN.co

Di era globalisasi yang semakin menular ke seluruh dunia dan di lihat dari realita yang ada. Sebagian orang terkadang berfikir bahwa santri itu ketinggalan zaman. Padahal, zaman itu memang akan tetap berjalan. Namun, kita tidak akan tertinggal selama kita mau mengembangkannya ke arah positif. Orang yang berfikir seperti itu karena mereka mengira para santri yang lulusan dari pesantren itu dalam proses belajar mengajar tidak akan optimal karena jauhnya dari alat media dan sarana yang tersedia tidak cukup memadai. Sehingga mereka lebih memilih dan mencari sekolah negeri yang menurut mereka jauh lebih terjamin kualitas pengajarannya dan ketika lulus nanti mereka mampu melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.

 

Orang yang mengatakan santri itu ketinggalan zaman, hal itu salah besar. Santri tidak akan ketinggalan zaman karena para guru telah menyiapkan segala bentuk pembekalan yang cukup memadai, sehingga tidak akan kalah dengan sekolah yang berada di luar. Terkadang sebagian orang mengatakan, bahwa santri tidak akan mempunyai masa depan. Hal itu perlu di garis bawahi, bahwa pernyataan itu tidak benar. Justru predikat santrilah yang mampunyai masa depan yang baik karena dari pesantren mereka telah dibekali oleh berbagai ilmu pengetahuan, mulai dari ilmu umum serta ilmu agama. Jiwa mereka telah dipupuk oleh rasa kemandirian, keikhlasan, dan mereka telah diajari bagaimana cara bersosial dengan sesama. Sehingga mereka tidak hanya memiliki pengetahuan saja, justru mereka mengiringinya dengan akhlak yang baik.

 

Ada juga yang mengatakan, bahwa santri itu akan menjadi pengangguran setelah mereka lulus dari pesantren. Sebab, mereka tidak akan bisa melanjutkan keperguruan tinggi sehingga mereka tidak akan mempunyai pekerjaan yang mapan. Padahal, justru merekalah yang mempunyai job, dan peranan besar hingga akhir hayatnya dalam mengamalkan ilmu dan mensyiarkan agama kepada semua masyarakat awam yang buta, dan haus akan ilmu agama. Banyak diantara masyarakat yang membutuhkan santri karena santrilah yang diharapkan mampu membenahi kehidupan, dan moral bangsa. Sehingga ketika mereka terjun langsung ke tengah masyarakat untuk menyiarkan segala ilmu yang mereka dapatkan dari pesantren, mereka tidak akan terkejut karena mereka telah menyiapkan segala bentuk pembekalan yang matang. Oleh karena itu, kita sebagai santri senantiasa untuk selalu berkiprah dalam memperjuangkan agama. Teruslah belajar meski kita berada di naungan Alma’had. Jadikan Alma’had  itu sebagai bentuk bertapa untuk membenahi sikap agar menjadi lebuh baik dan menambah pengetahuan.

 

Sebagai santri hendaknya berjiwa santri. Dalam konteks ini berjiwa santri, kita tidak hanya berstatus santri yang berada dinaungan Alma’had, dalam dhohirnya saja berstatus santri, namun dalam batinnya tidak memiliki jiwa santri. Jiwa kita perlu dipupuk oleh rasa cinta kepada Alma’had yang kita tempati dan senantiasa memberikan yang terbaik dengan cara tidak melanggar peraturan Alma’had, dan menjalani apa yang sudah menjadi kewajiban, serta harus memiliki solidaritas persaudaraan agar terciptanya sebuah kerukunan antar sesama santri. Memiliki sikap persaudaraan artinya kita sesama santri harus memiliki kepedulian, dan saling bermusyawarah ketika terdapat suatu masalah yang tidak mampu diselesaikan, dan

menciptakan suasana kebersamaan karena hanya dengan itulah cara untuk mengeratkan tali persaudaraan antar sesama santri.

 

Ketika kita sudah melakukan itu semua, barulah kita bisa membuktikan bahwa kita tidak hanya menyandang status santri, melainkan juga berjiwa santri yang tidak hanya mewujudkan dengan kata-kata, tetapi dapat membuktikan dengan perbuatan. Sering kita jumpai seorang santri, namun ia tidak memiliki jiwa santri. Meski mereka berstatus santri, namun dalam naungan Alma’had mereka banyak melakukan pelanggaran dan semua prilakunya tidak senonoh sepeti orang yang tidak mempunyai pengetahuan yang tidak bisa membedakan mana yang harus dilakukan, dan mana yang harus dijauhkan. Mereka banyak melakukan kemaksiatan dan noda keburukan sehingga Alma’had yang mereka tempati menjadi tercemar, akibat dari prilaku mereka yang tidak baik.

 

Bagi setiap pelajar yang bukan bertitel santri, janganlah merasa tersisihkan karena meski tidak belajar di naungan Alma’had, namun mereka mampu berjiwa santri. Justru terkadang orang yang bukan bertitel santri, mereka mampu memiliki jiwa santri karena meski mereka tidak belajar di naungan Alma’had, mereka mampu membekali jiwanya dengan akhlak dan ilmu yang baik. Sehingga mereka mampu mengungguli para santri yang berada di Alma’had.

 

Hal itu sebenarnya tergantung pada diri kita masing-masing. Jika kita selalu mengobarkan rasa semangat dan tidak berputus asa dalam menimba ilmu pengetahuan yang disertai menumbuhkan rasa keiklasan yang tertanam dalam hati, insyaallah ilmu yang didapatkan akan menjadi berkah dan bermanfa’at bagi diri kita dan orang lain, serta apa yang menjadi cita-cita dan harapan bisa sukses tercapai. Kesuksesan itu tidak memandang siapa diri kita dan berasal dari mana, dan bukan tergantung dari tempat dan kepada siapa kita belajar. Tetapi, dilihat dari kemauan dan semangat yang menentukan cara kita belajar dan hasil yang kita gapai.

 

Bukankah kita telah belajar dari beberapa kisah para tokoh ulama yang menorehkan sejarah baik, sehingga patut menjadi sebuah inspirasi. Seperti kisah Ibnu Hajar dan KH. Abdul Qodir Jailani mereka adalah seorang santri yang tak hanya bertitel santri. Tetapi, keduanya mampu memiliki jiwa santri. Keduanya tidak hanya menyandang status santri namun mereka juga melakukan apa yang menjadi kewajiban seorang santri, rasa ta’dim kepada sang kiai dan rasa kepeduliannya terhadap Alma’had yang mereka tempati mampu memberikan keberkahan sehingga Allah mengangkat derajat mereka yang awalnya seorang santri yang sederhana namun mereka menjadi seorang ulama besar yang menorehkan kisah yang patut kita teladani.

 

Pramian, 6 mei 2017

***
Juara 2 kategori Artikel: Lomba Menulis “Membangun Literasi Santri Bersama FORMASI RUA” dalam rangka 2nd Anniversary FORMASIRUA.OR.ID.

Ayo Komentari

komentar