Menanti kata “Indah pada waktunya”

0
160
Sumber Gambar : http://doryzidon.com

Siapa menanti siapa, mungkinkah siang menunggu malam atau malah sebaliknya, malam menantikan cahaya siang? Rusa bangun dari tidur lantas berlari supaya tidak dimangsa, begitu juga Harimau membuka mata untuk berlari agar tidak kelaparan, dalam kepentingan yang sama berupaya menyelamatkan kelangsungan hidup mereka masing-masing. Apakah kita adalah Rusa atau mungkin sebagai Harimau? Hah, sudahlah.

Secangkir cokelat di atas meja itu kini tak sehangat saat pertama dia mengaduknya, dia abaikan semua yang telah dimulainya. Cokelat, laptop, tumpukan lembaran-lembaran tugas kuliah dan ponselnya yang sedari tadi membisu tanpa ada panggilan masuk, pesan, atau sekedar notifikasi tidak penting dari media sosial miliknya, semua itu seperti tiada. Dalam tatapan kosong hanya ada bayang-bayang yang terseret melayang oleh angan.

“Mengapa takdir ini mempertemukan aku dengannya?”

“Mengapa aku terjebak pada rasa sayang padanya?”

“Mengapa rindu ini larut di dalamnya?”

“Mengapa aku masih mengharapkan cinta kasihnya?”

“Dan bagaimana jika dia tidak merasa apa yang kurasa?”

“Mengapa… mengapa… dan bagaimana?”

Hamparan kanvas hitam dengan sedikit titik bintang sebagai penyempurna keindahan purnama malam ini membuat mata tidak akan rela pergi begitu saja. Seperti ingin terus dan terus memandanginya sampai fajar telah siap menyapa semesta. Namun, rasa ini tidak akan tertular pada Nana, perempuan yang sedang gundah hatinya, dia melihat gelap dalam terangnya, merasa purnama hanyalah gerhana.

Setelah meneguk habis secangkir cokelat tanpa nafas, Nana mengambil beberapa kertas kosong dan pena, rupanya bukan tugas kuliah yang hendak dikerjakannya, melainkan Nana hanya berhasrat menuangkan isi hati dalam panggung kertas dan pena sebagai penarinya. Sang pena mulai beraksi pada pojok kanan panggung, ditulisnya tanggal tepat hari ini, 23 Agustus 2017 dengan rangkaian huruf A, Z, K dan A di bawahnya.

Azka, mungkin takdir yang mempertemukan kita di bangku kuliah ini. Mungkin rasa kagumku tak bisa terelakkan ketika kamu mempresentasikan tugas pertama kala itu. Aku sangat penasaran dan mencoba mengorek informasi tentang dirimu. Mencari media sosialmu, kesukaanmu, bahkan sedikit tentang kepribadianmu. Tanpa disadari aku larut dan tenggelam dalam pencarianku. Dalam diam, kekaguman ini terasa semakin menenggelamkan kepastian dalam rasa haus jiwa. Hari-hariku seakan diisi sebuah harapan tentang keajaiban bahwa kamu bisa memahami rasa yang aku isyaratkan dalam canda. Memang benar rasa tidak mampu dibalikkan dengan rasa, sejauh cepatnya aku berlari, disitu aku merasa rasa ini semakin membawaku padamu, salahkah aku?

Hari pertama masuk kuliah.

“Azka Alfarisi, silahkan presentasikan hasil tugasmu ke depan,” Dosen memanggil salah satu nama mahasiswa.

Sejak itu Nana mulai memerhatikan laki-laki ini. Seolah terkena cambuk asmara dia terus mencari informasi akan seorang Azka Alfarisi. Mulai dari kronologi media sosial sampai kehidupan pribadinya. Mungkin ini terdengar cukup gila, karena Nana terlihat terlalu terobsesi dengan Azka. Berbagai cara Nana lakukan hanya untuk sekedar lebih dekat, salah satunya dengan cara pura-pura iseng menge-chat Azka di media sosial WhatsApp.

“Assalamualaikum, kak?”

“Waalaikumussalam, ini siapa ya?”

“Aku kak, Nana.”

“Nana?”

“Nafisah Ramadani, kita teman satu semester kak.”

“Walah, iya iya. Ada apa Na?

“Boleh minta tolong, kak?”

“Minta tolong untuk?”

“Save nomorku ya kak! Hehe.”

“Oke, siap.”

Mengobrol singkat seperti itu saja sudah membuat Nana bahagia tidak kepalang.

“Dibaca saja syukur, apalagi sampai ngobrol,” besitnya dalam hati.

Nana masih terus melanjutkan kekagumannya itu, dirinya melihat Azka sebagai inspirasi dalam hidup, menjadikan Nana terbawa arus perubahan yang lebih baik. Setali tiga uang dengan perasaan Nana, Azka seakan menjawab dengan sedikit menampakkan perhatiannya. Karena kedekatan mereka terendus, Acap kali terdengar perbincangan tentang hubungan mereka dalam lingkungan kampus, meskipun pada hakikatnya kisah ini belum ada titik terangnya. Apakah akhirnya bersatu dalam bahagia atau malah sebalilknya, berakhir dengan luka akibat cinta berkedip sebelah mata? Entah.

Semakin hari semakin besar dan bertambah pula perasaan suka Nana terhadap Azka. Sampai suatu ketika Nana berpikir cinta ini salah. Seolah tersengat nestapa, Nana terdiam, termenung dan merasa takut akan perasaan yang telah tertanam dan tumbuh dalam hatinya.

Nana takut bahkan sangat takut jika perasaan kagum yang menggebu ini menjadi kesakithatian yang sangat luar biasa dan pasti akan membuatnya semakin terpuruk dihari esok.

Setidaknya kepala Nana sudah penuh dengan pertanyaan.

“Apakah aku terlalu berlebihan?”

“Apakah aku pantas bersanding dengannya?”

“Apakah dia menyayangiku seperti aku menyayanginya?”

“Bagaimana bila dia bukan jodohku?”

“Bagaimana jika aku akan merasakan sakitnya patah hati karena terlalu berharap?”

“Perhatiannya mulai terasa atau mungkin semua perempuan dia begitukan?”

Malam ini gerhana memang sudah penuh menutupi purnama, seperti Harimau yang sedang kelaparan atau Rusa yang berhasil dimangsa. Nana hanya terdiam, getaran kecil bibirnya telah tersapu air mata yang perlahan mengalir di sudut wajahnya. Dia merasa takut dengan tanpa alasan ibarat rinai hujan membasahi bumi seisinya.

“Memang beginilah lelahnya jika berharap pada makhluk, namun bukankah ini pilihanku dari awal? Tak mungkin aku menyalahkan waktu yang telah terjadi. Aku sadar, Allah mempertemukan aku dengannya pasti dengan alasan-alasan tertentu, entah hanya sebatas belajar darinya atau memang ditakdirkan untuk bersama, namun bukankah dengan yakin semua bisa jadi mungkin? Dan aku sangat yakin semua akan indah pada waktunya.”

Malam semakin larut, tanpa sadar purnama sedikit demi sedikit turun dari penglihatan. Nana berhasrat untuk mengistirahatkan pikiranya dari kelelahan ini. Dia merapikan bantal serta selimutnya.

“Mungkin mimpiku tidaklah lebih buruk dari kenyataan cerita cintaku,”

gumamnya dalam benak.

Sebelum berbaring Nana mengambil telepon genggam, mencari aplikasi pemutar musik di dalamnya. Rupanya dia ingin mendengar lagu sebagai pengantar tidurnya. Terdengar syahdu lantunan suara Ariel Peterpan (sekarang Noah) dan Almarhum Chrisye seraya Nana bergegas menarik selimut dan menutup penglihatannya.

Di dalam sebuah cinta terdapat bahasa

Yang mengalun indah mengisi jiwa

Merindukan kisah kita berdua

Yang tak pernah bisa akan terlupa

 

Bila rindu ini masih milikmu

Ku hadirkan sebuah tanya untukmu

Harus berapa lama

Aku menunggumu.. Aku menunggumu..

 

Di dalam masa indah saat bersamamu

Yang tak pernah bisa akan terlupa

Pandangan matanya menghancurkan jiwa

Dengan segenap cinta aku bertanya

 

Bila rindu ini masih milikmu

Ku hadirkan sebuah tanya untukmu

Harus berapa lama aku menunggumu..

Aku menunggumu.. Aku menunggumu..

 

Dalam hatiku menunggu..

Dalam hatiku menunggu.. Aku..

Dalam lelahku menunggu..

Dalam hatiku menunggu.. Aku..

Masih menunggu..

 

Bila rindu ini masih milikmu

Ku hadirkan sebuah harus berapa lama

Harus berapa lama

Aku menunggumu.. Aku menunggumu..

Aku menunggu.. Aku menunggumu..

 

Dalam hatiku menunggu..

Dalam lelahku menunggu..

Dalam hatiku menunggu..

Dalam lelahku menunggu..

Dalam hatiku menunggu..

Baca Juga Surat untuk Aisyah

Ayo Komentari

komentar