Pemimpin Tanpa Huruf Akhir

0
292
Sumber Gambar: industryweek.com

Mentari dan rembulan silih berganti menyinari semesta alam menandakan hari demi hari telah terlewati tanpa ada dusta diantara mereka. Pasangan mesra yang akan selalu saling merindukan, siang dan malam dengan bumbu fajar, terik dan senja beriringan. Tanpa terasa terlewati, telah sampai dipenghujung tahun tanda akan hadir liburan Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Arrahmaniyah.

Haul Masyayikh dan Haflah Ikhtibar Akhir Sanah (HAMAS-HIAS) adalah acara pamungkas yang sangat ditunggu semua santri. Namun, tidak dengan pria gagah berperangai sopan dan santun terpancar dalam didikan pesantren yang satu ini.

Ustaz Fatih, pandangannya masih menerawang menatap setiap jengkal temaram dalam kehidupannya. Dia merasa masih tetap terbelenggu dengan kehidupan yang begini-begini saja. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Ustaz Fatih, bahkan dia terlihat lebih tangguh, lebih dari sekedar dewasa. Ya, semua orang berpendapat seperti itu tentangnya.

Entah ini adalah HAMAS yang ke berapa. Ustaz Fatih melewatinya dalam perasaan gundah menyesakkan. Padahal HAMAS bagi kebanyakan orang umumnya, santri dan alumni khususnya adalah momentum yang sangat bagus untuk mempererat silaturahmi, bersua sahabat lama dan bercerita masa-masa di pesantren dulu. Namun, tidak dengan Ustaz Fatih, di tengah gempita HAMAS-HIAS, di antara kenangan-kenangan yang terurai, di sudut itu Ustaz Fatih dalam kehampaan yang begitu mendasar.

“Ustaz Fatih..!”

Sebuah teriakan dari jauh menghantam lamunannya. Terlihat pria sebaya bersama seorang anak laki-laki berjalan menghampiri.

“Walahh,  Ustaz Firman, gimana kabarmu? Lama kita tidak bertemu.”

“Alhamdulillah sehat, Tih. Ayo, Nak, cium tangan. ini Ustaz Fatih, teman abi dulu.”

“Abi?” dalam hati penasaran.

“Ini anakmu, Fir?”

“Hahaha iyalah, Tih. Anakmu apa kabar?” dengan nada mengejek.

“Anakku sehat, hahaha.”

Tawa masih saja mampu keluar dari lisan meski sebenarnya menambah catatan kenestapaan dalam jiwanya. Ini adalah tahun ke 14 Ustaz Fatih dipercaya dan diberi mandat mengajar oleh pondok pesantren. Dia adalah santri tertua yang masih mukim. Setiap kali HAMAS menyambut, sejak tiga tahun belakangan ini Ustaz Fatih selalu sowan ke kiai untuk pamit istirahat, berniat mencari pasangan hidup dan menikahinya. Terakhir tahun kemarin, lagi-lagi kiai tidak merestui dirinya istirahat dari mandat yang diembannya. Ustaz Fatih ingat betul pesan beliau.

“Jangan selalu takut dengan rezeki, maut dan jodoh. Berdoalah, dan jangan sesekali  ragu akan kekuasaanNya.”

Sebagai seorang santri, Ustaz Fatih sangat menghormati keputusan dan petuah kiai yang telah banyak memberikan beribu wawasan tentang ilmu agama. Dia juga meyakini skenario Tuhan lebih indah dari bayangan manusia yang sarat akan keterbatasan.

Jiwa besar Ustaz Fatih telah siap dia bawa ke lapangan kampus Bumi Tashawwuf tempat utama acara. Terlihat ratusan bahkan ribuan pasang mata, baik itu santri, alumni, dan orang-orang sekitar pondok pesantren memadatinya.

“Ustaz..!!” tegur seorang pria berbaju putih.

“Ehh, kamu cah, bikin aku kaget saja.”

“Gimana kabarmu, Cah?” Sambil mengayunkan tangan kanannya mengisyaratkan ingin berjabat tangan.

“Aku baik,” bersalaman.

“Sini Cah duduk, kita ngobrol-ngobrol mumpung acara belum mulai,” sambil menunjuk dua kursi kosong di bawah pohon.

Mereka berjalan kompak. Ustaz Wahyu tidak lain adalah sahabat dekat dan teman curhat, teman satu angkatan, satu kamar di Lembaga Pengembangan Bahasa Arab (LPBA) dan saingan Ustaz Fatih mengejar juara kelas dulu. Ustaz Fatih tanpa ragu mencurahkan semua masalah dan dilema isi hatinya. Sesekali Ustaz Wahyu memberikan nasehat dan opsi-opsi terbaik untuk dilakukan Ustaz Fatih. Mereka berdua hanyut dalam keharuan.

“Sabar Cah, semua pasti ada hikmahnya. Ayo ke sana acara mau dimulai.”

“Iya, ayo,” tertunduk kaku.

Acara telah usai, para santri sibuk menyiapkan barang-barang yang akan mereka bawa pulang. Maklum, libur Ramadan adalah liburan panjang. Pondok Pesantren mulai sunyi seakan mewakili gejolak hati Ustaz Fatih, merenungi takdir sebagai perjaka tua, menerima begitu banyak cobaan hidup dan mendengar sakitnya perkataan-perkataan berbau sindiran. Meskipun demikian, dia hanya bisa pasrah. Dalam sujud malamnya dia hanya meminta diberikan kesabaran dan ketabahan dalam mengarungi pahit manis kehidupan dunia.

Dalam situasi tertekan, hati dan pikirannya bertikai hebat. Sesekali keputusasaan membayangi Ustaz Fatih. Dia merasa inilah puncak kesengsaraan. Namun, hati kecilnya berteriak lantang.

“Tidak, Allah tidak akan menguji seorang hamba melebihi batas kemampuannya.”

Air mata mewakili perasaanya ketika lisan sudah tidak mampu mengucapkan kata-kata. Ini adalah salah satu keadaan menegangkan dalam hidup Ustaz Fatih. Dia berniat kembali sowan menghadap kiai untuk pamit istirahat dari tugas-tugas pesantren, dia beralasan ingin mencari pendamping hidup. Dengan memakai setelan putih-putih Ustaz Fatih menghela nafas dalam-dalam seraya mengucapkan kalimat basmalah. Perlahan, dia mengayunkan kaki menuju kediaman kiai.

“Assalamualaikum?”

“Waalaikumussalam, siapa? Oohh Fatih, silahkan masuk, Nak!” Ustaz Fatih melangkah masuk, dengan hati-hati meraih tangan kiai lalu menciumnya.

“Iya, saya memang ada perlu, kebetulan kamu ke sini. Silahkan duduk, Nak!”

“Kiai ada perlu apa ya?” dalam hati penasaran. Suasana hening sesaat, setelah meraih sebatang rokok, kiai memulai pembicaraan.

“Ada keperluan apa Fatih datang ke sini?”

“Saya mohon pamit istirahat dari tugas pesantren,” dengan suara agak bergetar.

“Iya Nak, saya memang ingin membicarakan perihal itu. Sebenarnya saya sudah memilihkan perempuan bakal jodohmu. Kamu tahu Karafis, anakku?”

“Iya, Kiai,” bingung.

“Dia adalah perempuan yang saya pilihkan untukmu. Setelah ini kamu bicarakan dengan kedua orang tuamu.”

Betapa sangat terkejut Ustaz Fatih. Seakan tidak percaya dengan apa yang baru dia dengar, di samping senang dia juga gelisah, dia merasa tidak pantas bersanding dengan Ning Karafis, siapalah Ustaz Fatih. Saking terkejutnya dengan mimpi indah itu sampai-sampai membangunkan dia dari tidur lelapnya.

“Haduuuuuh, ternyata  hanya mimpi,” senyum-senyum sendiri seraya menyapu keringat dingin di keningnya. Setelah bangkit dari tempat tidur, Ustaz Fatih bergegas mandi, menunaikan salat subuh berjemaah dan mempersiapkan jiwa yang besar untuk menyambut gempita HAMAS-HIAS tepatnya hari ini, Sabtu, 20 Mei 2017.

Pramian, 05 Mei 2017

***
Juara 1 kategori Cerpen: Lomba Menulis “Membangun Literasi Santri Bersama FORMASI RUA” dalam rangka 2nd Anniversary FORMASIRUA.OR.ID.

Ayo Komentari

komentar