Makna Bahagia yang Harus Diketahui

0
204
Sumber Gambar: harvardmagazine.com

Banyak kita yang berfikir apa itu bahagia? Ada yang baca dari buku dan memaknai sendiri dari inpispirasi yang didapat. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita diskusi dengan teman sejawat tentang bahagia itu sendiri yang semua pemaknaannya adalah sah-sah saja karena bahagia bukan area matematika yang pasti dengan satu jawaban.

Bahagia adalah kondisi penuh yang bisa dirasakan dalam diri kita. Tidak merasa ada kurang, justru merasa komplit. Dari segi kata, bahagia adalah kata sifat; abstrak, tidak bisa disentuh, namun bisa dirasakan. Bagian diri kita yang bekerja dan merespon ini adalah mental. Alat ukurnya tidak ada, sangat tergantung pada subjek dan kondisinya. Menerima sesuatu dari orang lain pertama bisa sangat bahagia, tapi kalau dikasih terus perasaan itu berubah menjadi biasa saja. Berubah bukan?

“Bahagia adalah harmonisasi antara apa yang kamu fikirkan, apa yang kamu ucapkan, dan apa yang kamu lakukan”, Mahatma Gandhi.

Berarti bahagia adalah semua yang keluar dari diri kita harus sinkron. Bukan didalam A, diluar B. Hidup memang sangat kompleks, hari ini warna biru terlihat sangat pas, hari yang lain harus cari warna lain dengan semua alasan yang mendasarinya.

Bahagia adalah kondisi menerima dengan tulus apa yang terjadi sekarang kepada kita dengan penuh kesadaran dan menikmati semua proses yang harus dijalani. Ada anak ingin membeli sesuatu, tapi tidak ada biaya yang belum memungkinkan untuk membelinya. Anak tadi menerima kondisi dirinya dan memutuskan mengatur pengeluaran selanjutnya untuk biaya barang yang ingin dibeli. Dia sangat semangat dan bergairah menabung demi sebuah tujuan yang ingin ia capai. Setelah uangnya cukup, dia punya bahagia yang baru.

Kalau dilihat, tidakkah semua proses yang ia jalani itu menyenangkan buat dia? Semangat dan gairah itu energi positif, dia tahu yang dia mau dan dia melakukan semuanya dengan senang.

Cerita yang lain adalah, ada anak dengan segala kecukupan secara materi, dia selalu bisa mendapatkan apa yang dia inginkan sekarang juga. Pas dia ingin, dia bisa mendapatkan seperti layaknya punya Aladin. Tapi di akhir, dia merasa kosong di dalam, semua yang dia miliki tidak bernilai buat dia, tidak ada artinya dan tidak membuat bahagia. Bukankah harusnya ia bahagia sepanjang hidup?

Cerita anak yang pertama, dia banyak belajar dalam hidupnya. Dia belajar sabar dalam proses, dia belajar menahan keinginan dia sebelum semuanya siap. Di area mental (psikis), ini tidak tiba-tiba semua orang bisa melakukan. Saya dengar cerita yang mirip dari temanku, ada anak mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri karena judul skripsinya ditolak oleh dosen. Setelah ditelusuri, dia tidak pernah mengalami penolakan dalam hidupnya. Semua yang dia inginkan segera tercapai.

Anak yang kedua, kenapa dia merasa kosong? Dia kurang dilatih mentalnya sama kehidupan/pengalamanya. Apabila dia tidak pernah merasakan pahit, asem, asin, ditolak, menahan diri, bersabar, berproses. Namun, sekedar tahu secara teori dan logika, tidak pernah melakukannya yang akhirnya dia patah, tumbang, dan menolak sekeras-kerasnya atas apa yang terjadi dengan dirinya sehingga jalannya menemukan kebuntuan. 

Jadi, dari cerita diatas, siapa yang lebih bahagia? Kalau dari dua cerita diatas, kepercayaan saya bilang, bunuh diri bukan cara yang disukai Allah Swt. Jadi, saya memilih kisah anak yang pertama yang lebih bahagia karena dia tahu cara memainkan jalan hidup.

Akhirnya dia jadi pemenang dalam hidupnya, bangga penuh bahagia di dalam dengan semua yang ia jalani.

Anak yang merasa kosong di dalam, dia butuh mencari apa sebenarnya yang bisa membuat dia bahagia? Dia harus jawab dengan jujur dan dalam. Dia harus belajar mana yang bahagia semu dan mana yang bahagia sejati. Bahagia adalah bukan tidak adanya kesulitan, tapi adanya keyakinan yang teguh di dalam diri saat melakukan sesuatu. Semoga kita semua bahagia.

Ayo Komentari

komentar

BAGIKAN
Postingan SebelumnyaPikir
Postingan BerikutnyaMusim Hujan yang Tak Pernah Saya Harapkan
Curriculum Assistant at Mentari International School Jakarta, Communication Manager at Initiatives of Change Indonesia