Belajar (Artikulasi) dari K.H.A Chalid Elbushairy

0
170
Sumber Gambar : formasirua.or.id

Menulis seorang tokoh tidak cukup dengan hanya melihat atau membaca dari tulisan, begitulah  menurut saya pribadi. Seorang tokoh adalah sosok yang utuh berkesinambungan dan terus berkembang. Namun, apabila hal itu menjadi jalan satu-satunya, maka saya tidak akan pernah bisa mengenal lebih dekat. Oleh sebab itu, dalam tulisan ini saya hanya menangkap bagian-bagian kecil dari perjalanan tokoh K.H.A Chalid Elbushairy sebagai upaya belajar sedikit hal dari banyak hal yang bisa dipelajari dari beliau. Keputusan untuk belajar sedikit hal dari beliau karena saya tidak akan pernah mampu mengambil banyak hal, paham banyak hal, dan paling banter hanya sekedar mengetahui sedikit hal.

Tulisan ini murni berdasarkan apa yang saya alami, tidak berdasarkan yang lain. Saya menulis ini hanya sekedar mengingat yang saya serap dari yang saya lihat, dengar, serta saya rasakan. Oleh sebab itu, salah keliru terkait pesan yang saya tulis, segera sampaikan teguran. Namun, apabila bermanfaat, semoga semua yang pernah mengalami peristiwa bersama beliau atau bersama Kiai yang lain yang bisa menjadi pelajaran bagi sesama, bisa segera ditulis dan disetor ke email (editor@formasirua.or.id).

Saya tidak sering melakukan aktivitas bersama dengan almarhum, selain proses belajar mengajar. Duduk bersama dengan beliau saja hanya satu kali saat sowan  hari pertama masuk pondok, itupun saya hanya diam mematung. Selain dalam dua peristiwa tersebut, biasanya beliau menyampaikan pesan-pesan saat malam terakhir menjelang liburan pesantren. Malam terakhir seperti itu, saat-saat paling gembira menjadi seorang santri. Kegembiraan yang tidak bisa dikatakan serta tidak bisa ditukar dengan apapun, namun hanya bisa dirasakan oleh seorang yang pernah mondok. Selebihnya hanya melihat saat beliau melintas di pesantren dan semua santri berdiri sambil menunduk, termasuk saya.

Dalam kegiatan belajar mengajar yang diterapkan berbeda dengan proses belajar di sekolah yang ditarget dengan tujuan yang pasti. Satu pertemuan yang berdurasi satu jam kadang hanya dapat satu bait karena panjang serta detailnya penjelasan yang diberikan oleh beliau.

Penjelasan detail dari makna kata perkata, lalu menjadi frase, dan kalimat.

Hal itu dilakukan pada setiap mengajar.

Dalam menjelaskan kalimat, beliau melihat dari sudut pandang berbagai disiplin ilmu sehingga ada ketersambungan pemahaman multi disiplin ilmu pengetahuan. Dari berbagai sudut pandang disiplin ilmu yang sudah disampaikan diambil beberapa poin kesamaan dalam mempermudah memahami contoh. Hal itu, baru tahu saat saya mengingat-ingat kembali saat mau menulis ini. Waktu itu, saya sendiri hanya melongo tidak mengerti apa yang dibahas.

Beliau membaca dan menjelaskan amat pelan dengan artikulasi dan intonasi yang jelas. Saya baru paham atas apa yang dipraktikkan saat mulai masuk pada dunia teater. Dalam dunia teater, seorang aktor dituntut untuk berbicara secara jelas dengan gerak bibir yang dapat dipahami orang lain meskipun dengan hanya melihat tanpa mendengar suara yang disampaikan.

Sependek pengetahuan saya sampai saat ini, tidak habis pikir bahwa beliau sudah sangat paham terkait ilmu olah vokal. Olah vokal erat kaitannya dengan olah nafas karena olah vokal dan olah nafas ini berbeda aspek tapi menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan karena satu sama lain saling melengkapi. Olah vokal dan olah nafas adalah

aspek keilmuan yang berperan penting bagi orang yang aktif dalam dunia komunikasi.

Olah vokal di pesantren juga dipelajari dalam ilmu tajwid, namun tidak disertai dengan gerakan, ini yang membedakan keduanya.

Berdasarkan pengalaman saat latihan olah vokal, ada sebagian yang merasa sudah maksimal dalam mengolah berbagai bentuk mulut, namun dalam praktiknya sulit dipahami oleh orang lain. Ada juga yang memang langsung paham dan bisa mempraktikkan dengan baik dan benar. Almarum, termasuk pada golongan yang kedua ini. Olah vokal yang almarhum praktikkan sudah masuk pada level sempurna karena disampaikan dengan jelas dan mudah dipahami, ini paling tidak menurut saya yang pernah mendengarkan langsung saat beliau mengajar, ceramah, ataupun berbicara sehari-hari.

Saya jarang menemukan orang yang berbicara sehari-hari, berceramah, serta mengajar dengan intonasi, volume, serta jeda yang digunakan sama tanpa adanya perbedaan. Seorang penceramah, guru, dan pemimpin seperti almarhum sama halnya dengan seorang aktor dalam sebuah pementasan yang dituntut untuk memberikan kejelasan terhadap hal yang disampaikan. Seperti itu menjadi salah satu hal penting seorang yang komunikatif selain penguasaan materi.

Diperhatikan lebih cermat, tidak hanya cara bicara yang konsisten dalam setiap situasi dan kondisi, cara berjalan pun sama. Saat berjalan, langkah kaki beliau tidak pelan dan tidak pula terburu-buru, begitulah yang saya lihat dari keseharian beliau. Saya yakin semua orang sama, sama memiliki rasa khawatir, rasa tergesa-gesa, serta rasa yang membuat gerakan serta sikap kita berubah-ubah disetiap saat. Namun, cara menyikapi rasa tersebut yang membedakan satu orang dengan yang lain. Perasaan yang melintas sudah tidak mempengaruhi tingkah laku karena diri beliau sudah bisa mengendalikan.

Pengendalian inilah yang berjalan lurus dengan kesadaran diri, sadar atas apa yang ingin dilakukan.

Saya yakin, dalam diri beliau terdapat kesadaran diri yang tinggi seperti halnya orang-orang terdahulu. Kesadaran diri yang tinggi serta luas sehingga energi yang ada dalam diri juga semakin besar. Saat energi dalam diri membesar, maka diri akan menjadi pusat dari segala energi. Makin besar energi dalam tubuh, semakin netral terhadap pasang surutnya rasa dan pikiran. Orang yang sudah menjadi pusat energi akan tenang, rasa khawatir, cemas, serta rasa negatif lainnya lewat begitu saja tanpa mempengaruhi apapun, semua sudah apa adanya dan sudah benar adanya.

Baca Juga : Hakikat Santri

Ayo Komentari

komentar