Borobudur; Pelajaran Yang Sering Tak Dipelajari

0
118
Sumber Gambar : ulinulin.com

Candi Borobudur merupakan Candi atau Kuil Buddha sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar di dunia. Hal ini menjadi daya tarik sendiri sejak dibuka sebagai tempat wisata oleh presiden Soeharto pada tahun 1989.

Memasuki pelataran Candi Borobudur, mata akan disuguhi oleh pemandangan yang indah. Bangunan Candi Borobudur yang terlihat megah dan dikelilingi oleh pohon-pohon yang ditanam dengan tatanan rapi membuat suasana rindang dan sejuk.

Seketika perasaan ingin cepat sampai di pelataran candi untuk segera berfoto dan melihat bangunan yang dibangun pada masa Dinasti Syailendra itu lebih dekat. Bagi yang sudah mengunjungi beberapa kali saja masih ada rasa ingin berfoto lagi dan lagi. Apalagi baru pertama kali. Pesona Borobudur terlalu kuat untuk memutuskan berkata bosan.

Berfoto ria dengan teman-teman, keluarga, bahkan dengan pasangan memberikan rasa puas tersendiri. Kesenangan yang didapatkan menjadi pengobat perasaan yang setiap hari tertekan oleh aktifitas rutin dan juga menjadi oleh-oleh saat kembali pulang ke rumah.

Saat pertama mengunjungi Borobudur, saya dipandu oleh pemandu yang sudah disediakan oleh pengurus karena waktu itu saya bersama rombongan. Penjelasan pemandu yang saya ikuti terasa membosankan karena bersifat informatif saja yang sudah diketahui dalam mata pelajaran di bangku sekolah.

Mengunjungi Borobudur sebelumnya saya juga terlalu fokus dengan diri sendiri, sehingga yang didapat hanya gambar diri dengan latar belakang kemegahan candi. Padahal, pelajaran yang disampaikan oleh Borobudur begitu kaya. Salah satu pelajaran yang saya diskusikan dengan teman saat mengelilingi Borobudur kali ini adalah berbagai bentuk stupa dan relief yang menghiasi setiap dinding Candi.

Saya menggolongkan menjadi tiga bagian;

Pertama, stupa berukuran kecil yang jumlahnya banyak;

Kedua, stupa berlubang yang di dalamnya ada patung dan ada stupa yang hanya separuh sehingga patungnya terlihat separuh juga; dan

Ketiga, stupa utama yang berada di puncak Borobudur.

Sumber Gambar : www.sewamotoryogya.com

Ketiga bagian itu merupakan cerminan diri manusia. Pertama adalah peristiwa sehari-hari yang penuh dengan perasaan senang dengan hal-hal duniawi. Masih melekat dengan suatu hal yang menyenangkan. Misal, rasa suka, benci, marah, sedih, dan keinginan yang mendominasi diri. Stupa kecil-kecil dengan jumlah yang banyak menjadi simbol bahwa banyak diri manusia yang masih di wilayah ini.

Relief yang terlihat pada bagian ini juga gambaran peristiwa sehari-hari. Misal, adegan berburu, keramaian pasar, berjudi, seks, dan lain sebagainya.

Stupa kedua dengan bentuk yang sama, hanya saja di dalamnya terdapat patung. Ukuran stupa kedua ini lebih besar dari stupa golongan pertama yang kecil-kecil. Ada dua jenis stupa pada bagian ini;

Pertama, bentuk stupa yang memiliki ruang dan di dalamnya ada patung; dan

Kedua, bentuk stupa hanya separuh yang menutupi separuh badan patung.

Bentuk stupa kedua ini, mencerminkan dalam diri manusia ada yang sejati. Ada esensi yang harus diketahui dan dikenal lebih dekat. Ada dua jenis golongan manusia yang saya ketahui sejalan dengan dua bentuk stupa yang tertutup penuh dan yang tertutup hanya separuh.

Pertama, ada manusia yang sudah mengenal dirinya dengan berpenampilan terbuka (tidak berpakaian) seperti orang kebanyakan. Sehingga, kita sering terkecoh dalam menilainya. Manusia seperti ini sudah tidak peduli terhadap dunia luar karena sudah dalam keadaan kusyuk dan asyik masyuk yang tidak bisa ditukar dengan dunia dan seisinya.

Kedua, ada manusia yang mengenal dirinya dan berpenampilan serta hidup seperti orang kebanyakan.

Relief yang terukir pada bagian ini menggambarkan orang-orang beribadah, orang belajar, berderma, dan perbuatan baik lainnya. Sikap yang mengutamakan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri. Memiliki kesadaran bahwa diri ini hanya sebagai perantara kebaikan yang harus dirasakan oleh orang lain. Guru-guru kehidupan yang menjadi teladan seperti ini banyak dan hidup sederhana di tengah-tengah masyarakat kita. Tinggal kita memerhatikan atau tidak.

Stupa ketiga merupakan stupa utama yang berada di tengah-tengah megahnya Candi Borobudur. Bentuknya paling besar dibanding stupa-stupa lainnya.

Stupa ini menjadi simbol kesadaran tertinggi seorang manusia yaitu, kosong, suwung.

Kesadaran manusia yang sudah meniadakan diri sendiri karena sejatinya tidak ada selain Yang Maha Ada. Yang ada hanya Yang Maha Ada, selain itu adalah fana.

Relief yang terpahat pada bagian ini menggambarkan orang yang sedang kusyuk bermeditasi. Duduk diam mengheningkan diri dari segala keramaian. Hidup sunyi menjadi keputusan jalan yang ditempuh. Meskipun tempat yang dipilih kadang hutan, goa, atau tempat sepi lainnya, perjalanan sebenarnya tidak ke mana-mana, melainkan masuk ke dalam kesunyian diri. Ketiadaan diri akan memunculkan kesadaran keberadaan Yang Maha Ada, keberadaan diri akan meniadakan Yang Maha Ada.

Kita akan dipertemukan saat kita siap untuk dipertemukan. Kita akan dipertemukan dengan guru saat kita sudah siap menjadi murid.

Mari, persiapkan diri menjadi murid dari perjalanan yang selalu kita jalani.

Baca Juga : Tasawuf Ala Santri RUA

Ayo Komentari

komentar