Bullying Cak Nun atau Gojlokan Santri

0
639
Sumber Gambar : https://4.bp.blogspot.com

Apa yang sedang ramai dibicarakan akhir-akhir ini di media sosial terkait pernyataan bahwa PBNU menerima dana sebesar 1,5 T dari pemerintah, saya mendengar lansung dari Cak Nun saat menghadiri Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki bulan Juli yang bertema “Evolusi ke 4-“. Saya tidak tahu Cak Nun menyatakan untuk pertama kali atau yang kesekian kalinya. Namun, saya mengikuti acara tersebut sebelum acara dimulai sampai acara selesai pukul 04.00 WIB.

Banyak tulisan yang membahas terkait pernyataan Cak Nun tersebut. Tapi, saya tidak pernah membaca atau sekedar membuka dari sebuah berita yang judulnya saja sudah kontroversi. Ketika ada judul berita yang kontroversi, akan saya lewatkan begitu saja atau justru saya blok akun berita tersebut. Respon pertama kali terkait pernyataan Cak Nun yang saya baca sebelum membaca tulisan lain adalah tulisan Kiai Yahya Cholil Staquf di akunnya yang berjudul  “Kyai Nggathilut dan Kyai Leles”. Membaca tulisan tersebut, pikiran merasa diajak kembali pada konteks secara utuh agar bisa memaknai apa yang disampaikan. Kemudian saya membaca tulisan M. Sulton Fatoni yang berjudul “Para Pahlawan Nasional dan Dana Rp. 1,5 Triliun”

Sulton Fatoni dalam tulisannya menyatakan bahwa Cak Nun melakukan bully terhadap PBNU. Dalam Wikipedia dijelaskan, penindasan (bahasa Inggris, bullying) adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengimintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan. Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber. Budaya penindasan dapat berkembang di mana saja selagi terjadi interaksi antar manusia, dari mulai di sekolah, tempat kerja, rumah tangga, dan lingkungan.

Cak Nun dalam bermaiyah sering mengajak untuk kembali pada identitas diri, bahkan selalu menekankan nilai-nilai leluhur atau kebiasaan-kebiasaan yang sudah menjadi identitas masyarakat Nusantara khususnya Jawa. Dalam kehidupan masyarakat Jawa tidak ada istilah Bullying. Tapi, dalam dunia pesantren ada istilah gojlokan yang menjadi makanan sehari-hari. Dalam kamus dijelaskan bahwa gojlok adalah mengacau perasaan orang lain dengan kata-kata kasar yang menyakitkan hati.

Apabila mengacu pada dua  istilah tersebut, kita akan disadarkan dua hal yang terlihat sama tapi memiliki konteks dan dampak yang berbeda. Kegiataan gojlokmenggojlok sering dilakukan dengan gembira disela padatnya aktivitas pesantren. Korban gojlokan sering sampai merah muka dan telinganya karena parahnya serangan yang dilakukan lawan. Namun, hal itu tidak akan membuat dendam yang mendalam. Setiap santri pernah menjadi pelaku penggojlok sekaligus korban gojlokan karena gojlok-mengojlok ini sering dilakukan saling serang satu sama lain dalam waktu bersamaan dan dalam keadaan yang sangat menggembirakan. Hal yang menjadi bahan gojlokanpun bermacam-macam, dari hal yang sepele sampai hal yang benar-benar menyakitkan, dan yang pasti aktual.

Selera humor yang tinggi tidak hanya terjadi lewat peristiwa gojlokmenggojlok ini. Tapi, terus berkembang dalam aspek kehidupan yang lain, termasuk hubungan Cak Nun dengan petinggi PBNU, yaitu Gus Dur. Misalnya, Cak Nun yang pernah dikerjain (dibohongi) oleh Gus Dur. Saat itu Gus Dur meminta, terkait ikrar khusnul khatimah Soeharto yang diprakarsai oleh Cak Nun sendiri dilakukan pada tanggal tiga di masjid Istiqlal karena sebelumnya gagal dilaksanakan di masjid Baiturrahman. Cak Nun yang gagal melaksanakan ikrar khusnul khatimah Soeharto merasa senang dan percaya akan terlaksana karena yang menolong dan mengatur adalah tokoh besar PBNU, yaitu Gus Dur. Namun, saat Gus Dur ditanya oleh wartawan kebenaran berita tersebut, Gus Dur dengan gaya (gitu aja kok repotnya) menjawab dengan santai “biasa itu, ngomong ngawur Cak Nun itu”.

Apabila pernah menjadi santri atau pernah hidup dalam lingkungan pesantren, sudah paham betul terkait peristiwa-peristiwa yang menegangkan tersebut dikemas dalam humor yang menyegarkan pikiran. Gojlokangojlokan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh nasional tersebut memang tidak sekedar gojlokan, tapi mestinya ada hal yang harus dipahami dalam gojlokan tersebut. Saya sendiri menangkap, dari sikap Gus Dur yang mengecoh Cak Nun seperti cerita di atas, untuk mengingatkan Cak Nun agar tetap santai dan melakukan dengan pikiran jernih karena situasi saat itu masyarakat sudah tidak memiliki kepercayaan kepada Soeharto dan mestinya dilakukan tanpa wartawan.

Kejadian ini mengingatkan saya pada pesan Cak Nun, yaitu agar terus-menerus belajar berpikir tentang lipatan-lipatan, bulatan, putaran agar pikiran tidak statis dan atau selalu hanya memanjang. Hidup ini luas dan harus disikapi dengan pikiran yang kreatif dalam menjalinya. Ditambah lagi dengan hasil pemikiran Sabrang Mowo Damar Panuluh tentang ilmu matematika yang menyatakan bahwa; Apabila bertemu dengan angka ganjil, maka kalikan tiga dan tambah satu. Apabila bertemu dengan angka genap, maka bagi dua. Tujuan dari respon terhadap angka genap dan ganjil tersebut adalah bertemu dengan angka satu, yaitu simbol dari Tuhan Yang Maha Esa. Artinya,

apabila dalam kehidupan ini kita menemukan keganjilan-keganjilan, maka kembangkanlah tiga kali lipat pengetahuanmu kemudian tambahkan satu kepasrahan terhadap Allah Swt.

Semua fenomena yang sudah ditangkap oleh panca indera merupakan ladang pembelajaran yang amat luas.

Ayo Komentari

komentar

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here