Incest ; Hukum Adat Bali

0
57
Sumber Gambar : okezone.com

Incest, novel kontroversi yang berujung pada vonis pengusiran penulis (I Wayan Artika) dari desanya oleh keputusan hukum adat. Penulis menghadiri vonis hukum sendirian tanpa didampingi pengacara yang dikelilingi tokoh-tokoh adat. Di hadapan adat, zaman modern, hukum, dan hak asasi manusia yang selalu dijunjung seperti macan ompong.

Semua orang dalam satu kelompok tertentu, harus mematuhi hukum adat. Hukum adat berlaku bagi kelompok masyarakat yang mematuhinya sejak zaman dahulu. Beberapa sanksi sudah menunggu bagi yang melanggarnya. Namun, apabila pemegang hukum adat, yaitu masyarakat penerus menghendaki perubahan, apakah termasuk melanggar hukum adat itu sendiri? Sesuci apakah hukum adat, sehingga tidak boleh diubah?

Cerita diawali dengan Jelungkap kedatangan pemuda bernama Geo lulusan UGM. Sebagai antropolog muda, Geo memiliki rasa percaya lebih terhadap desa yang sekarang ditinggali. Dia membangun rumah yang didesain sendiri sesuai kebutuhan dan rencana-rencana yang tidak diketahui orang lain. Setelah rumah tersebut rampung, sedikit demi sedikit pemuda desa Jelungkap betah berlama-lama karena Geo sangat terbuka terhadap yang datang serta di dalam rumah tersebut dilengkapi dengan berbagai fasilitas buku bacaan.

Di aspek lain, nasib Jelungkap yang dingin berada di ujung tanduk karena keputusan tokoh adat mengijinkan pembangunan proyek yang sebelumnya sudah ditolak oleh tokoh adat desa yang lain. Perijinan tersebut disambut dengan suka ria oleh orang Jelungkap karena dianggap akan mengantarkan Jelungkap pada zaman modernisasi, memberikan pekerjaan yang bergaji bulanan, bekerja dengan berseragam, dan memiliki hari libur yang pasti seperti orang-orang kota.

Rundingan pihak perusahaan dengan tokoh adat yang penuh dengan kepentingan pribadi tidak banyak diketahui. Tidak hanya tokoh adat yang berhadapan dengan pihak perusahaan, namun para makelar-makelar tanah mulai bermunculan melihat proyek pembebasan tanah. Harga tanah melambung tinggi karena persentase harga masuk pada kantong-kantong tokoh adat dan oknum tertentu.

Sebagai aktivis yang banyak meneliti di kota dan pedalaman, Geo mencium gelagat tokoh adat dan para oknum yang bermain dalam proyek yang disambut dengan suka cita tersebut. Namun, seorang Geo yang merupakan pendatang baru tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya mengajak diskusi pemuda yang sering bermain ke rumahnya untuk sekedar membaca buku atau sekedar ngopi untuk meredakan dinginnya Jelungkap.

Proyek terus berjalan sesuai dengan rencana perusahaan. Pura, batu-batu yang dikeramatkan, serta jalan yang menjadi akses menuju gunung Baturinggit dibuat rata dilindas buldoser. Gedung perusahaan berdiri gagah memecundangi Jelungkap serta hukum adatnya. Jatah dana rutin tiap bulan bagi Jelungkap ditilep oleh tokoh adat yang sedari awal telah bermain dengan pihak perusahaan. Pemuda Jelungkap hanya sebagian kecil yang terserap sebagai pekerja, tidak seperti harapan-harapan yang disampaikan saat sebelum pembebasan lahan, itupun sebagai pekerja bawahan.

Jelungkap tidak hanya memiliki Geo yang menyadari bahwa perusahaan yang baru berdiri itu merugikan. Namun, ada Bulan yang juga aktif mengamati dan mengumpulkan data terkait kerusakan yang akan dialami Jelungkap. Putu Geo Antara dan Gek Bulan Armani, dua nama yang berbeda tapi memiliki kedekatan dalam istilah. Dua pemuda ini kemudian langsung akrab karena lulusan dari kampus yang sama di Jogja. Mereka sama-sama merasa ada ikatan emosional, sehingga ada perasaan untuk menyelamatkan masyarakat, adat, serta Jelungkap sendiri.

Sebagai aktivis yang sudah berpengalaman, Bulan mendatangi perusahaan untuk bertemu salah satu direksi. Humas dan bagian keuangan kaget karena Bulan datang dengan kritik dan pemikiran untuk kebaikan Jelungkap ke depan, bukan meminta sumbangan seperti tamu sebelumnya. Di sisi lain, pemuda yang sering singgah ke rumah Geo sudah aktif menanam sayur organik yang dan setiap pekan Geo juga mendatangkan relawan untuk mengajari anak-anak melukis, menggambar, dan kegiatan lainnya. Kepedulian Bulan dan Geo terhadap Jelungkap membuahkan hasil dan mulai dirasakan oleh masyarakat.

Sama-sama aktivis muda, lulusan Jogja, dan memiliki perhatian penuh terhadap nasib Jelungkap ke depan. Kedekatan mereka berdua menumbuhkan perasaan suka satu sama lain. Kiriman email dengan teman jauh tidak lagi hanya membicarakan temuan data dan hasil pengamatan, Bulan mulai sering menceritakan sosok Geo terhadap teman-teman sesama aktivis. Rasa kagum dan kesamaan antara mereka berdua menjadi email yang sering dikirim Bulan.

Benih cinta terus berkembang di dalam hati Geo dan Bulan. Hubungan keduanya sudah diperlihatkan kepada Jelungkap. Masyarakat melihat itu teringat pada peristiwa dua puluh lima tahun silam. Kejadian yang membuat Jelungkap yang dingin semakin membeku karena Ketut Artini, istri Nyoman Sika melahirkan kembar buncing (laki-laki dan perempuan). Bagi Jelungkap, kembar buncing merupakan aib yang ayah, ibu serta bayi kembar buncing tersebut harus diusir keluar desa selama empat puluh dua hari. Setelah masa pengasingan, Nyoman Sika harus mengikuti upacara malik sumpah (penyucian) serta membayar denda yang sudah ditentukan oleh tokok adat. Proses yang melelahkan tersebut belum selesai, sebagai proses menuju akhir dari hukum adat yang harus ditanggung oleh Nyoman Sika, Ketut Artini, Bayi, serta semua masyarakat adalah merahasiakan kejadian tersebut.

Orang tua bayi kembar buncing harus memilih salah satu dari dua anaknya untuk dirawat. Sedangkan satunya, harus diasuh oleh orang yang tinggal jauh dengan tujuan agar mereka tidak tahu satu sama lain.

Puncak hukum adat terhadap keputusan memisahkan keduanya bertujuan untuk menyatukan lagi dalam ikatan pernikahan sedarah.

Begitulah Jelungkap beserta adat mengaturnya.

Judul : Incest

Penulis : I Wayan Artika

Penerbit : Pinus

Edisi : Pertama, 2005

Hal : 280 Halaman

ISBN : 979-99006-4-6

 

Baca Juga Borobudur; Pelajaran Yang Sering Tak Dipelajari

Ayo Komentari

komentar