Jalan Cinta Kasih

0
1144
Sumber Foto: bramardianto.com

Tidak ada hal yang diciptakan dengan tidak sungguh-sungguh di dunia ini. Sebuah permainan saja harus dilakukan dengan sungguh-sungguh agar sesuai dengan target yang ingin dicapai, apalagi semesta yang teramat kompleks ini. Memang benar adanya kesungguhan Allah Swt. dalam menciptakan semesta dan segala isinya. Tiada satupun yang Allah Swt. sampaikan melalui ayat tersirat maupun tersurat ada hal yang tidak sungguh-sungguh.

Kesungguhan Allah Swt. dalam menciptakan alam berdasarkan cinta kepada nur Muhammad. Kalau tidak karena Muhammad, maka tidak akan ada alam serta isinya, begitu kurang lebih firman Allah Swt. dalam hadits Qudsi. Cinta menjadi dasar dari kesungguhan Allah Swt. dalam menciptakan dan menjamin kehidupan seluruh makhluk dari yang terbesar sampai yang terkecil, dari yang paling patuh sampai yang paling khianat, serta diatur dengan adil dan sangat detail. Meskipun, manusia tidak lagi menjadikan Allah Swt. satu-satunya sembahan yang patut disembah, matahari tetap akan bersinar saat pagi hari, embun akan tetap dingin dan suci, dan udara tetap bebas dihirup-dihembuskan.

Malaikat mempertanyakan tujuan Allah Swt. dalam proses penciptaan manusia. Namun, tidak ada yang bisa merubah dari dahsyatnya kekuatan cinta. Allah Swt. menegaskan bahwa malaikat tidak tahu apa yang Allah Swt. ketahui. Pada akhirnya, malaikat dan seluruh penghuni surga diperintahkan untuk bersujud (hormat) kepada manusia. Hanya manusia yang diajari oleh Allah Swt. sesuatu yang tidak diketahui oleh makhluk lain. Setelah diajari apa yang tidak diketahui oleh makhluk lain, manusia memiliki kebebasan untuk memilih.

Manusia memiliki kemerdekaan untuk menentukan sikap lengkap dengan beban tanggungjawab dari keputusan yang diambil. Di depan perjalanan manusia selalu terdapat persimpangan yang mencerahkan sekaligus mencelakakan. Oleh sebab itu, dalam Islam paling tidak tujuh belas kali dalam sehari diwajibkan untuk memohon agar ditunjukkan jalan yang lurus. Jalan yang lurus sesuai dengan hakikat penciptaan manusia itu sendiri, bukan jalan lain yang menguntungkan sebagian dari kemauan manusia.

Jalan lurus sesuai penciptaan manusia untuk kembali pada Sang Pencipta. Tidak ada tempat kembali yang layak kecuali kembali pada tempat yang telah dijanjikan, ilaihi rajiun. Kembali menjadi keniscayaan bagi setiap perjalanan seorang manusia. Manusia tanpa kembali akan bingung, kembali tanpa dijalani manusia akan linglung. Sesungguhnya kembali menjadi urusan terbesar manusia selama hidup.

Manusia akan merasakan beban yang sangat berat saat merasa jauh dari rumah. Begitu juga ruhani manusia, akan terasa kering saat dalam waktu yang lama berada jauh dengan Tuhan sebagai tempat kembali. Padahal, Tuhan sendiri tidak di mana-mana dan tidak pernah ke mana-mana.

Tuhan melampaui ruang dan waktu sehingga ruang dan waktu itu yang berada dalam kekuasaan Tuhan. Ruang dan waktu hanya indikator manusia untuk mempermudah dalam mengenal Tuhan.

Waktu yang hampir sesuai dalam mengidentifikasi Tuhan adalah sekarang (saat ini), bukan kemarin ataupun besok. Kemarin dan besok merupakan pasangan waktu yang sama halnya dengan keberadaan satu yang berpasangan dengan dua, tiga, empat dan seterusnya. Padahal, sifat Tuhan adalah tunggal, tidak ada pasangan dan sekutu bagi-Nya. Tunggal tidak ada pasangannya, namanya juga sudah tunggal. Menyebut Tuhan satu boleh saja dan benar, namun yang paling pas dengan menyebut tunggal.

Ketunggalan Allah Swt. mutlak dan tidak ada lagi yang bisa menjadi yang kedua atau ketiga dan seterusnya. Semua berpusat kepada Allah Swt. yang menjadi raja dan layak memakai kesombongan serta keangkuhan karena alam serta isinya berada dalam kekuasaan-Nya. Layak memerintah serta melarang sesuai dengan kehendak-Nya. Namun, Allah Swt. memperkenalkan diri dengan sangat santun serta lemah lembut. Allah Swt. memperkenalkan diri dengan sifat yang Maha Kasih dan Maha Sayang, Rahman Rahim. Mengasihi seluruh makhluk dan menyayangi makhluk yang dikehendaki, dari dahulu sampai sekarang hingga waktu yang tidak bisa dibayangkan.

via wordpress.com

Kasih sayang Allah Swt. tidak pernah putus, tidak pernah telat sedikitpun, dan tidak pernah tertukar satu sama lain. Semua berjalan sesuai rahman rahim yang sudah tertabur rata di seluruh jagad raya ini. Setiap makhluk, terutama manusia tinggal mengambil sesuai kebutuhan karena semua sudah disediakan. Ketersediaan tidak akan pernah kurang karena yang habis akan digantikan dengan yang baru. Justru lebih banyak yang belum habis sudah disediakan yang baru untuk memenuhi kebutuhan makhluk.

Energi alam tidak pernah kekurangan untuk diambil, digali, dan dimanfaatkan karena alam patuh terhadap kehendak Allah Swt. Hanya pikiran manusia yang sering kekurangan karena sering tidak patuh pada kehendak Allah Swt. Semua kebutuhan manusia disediakan karena Allah Swt. cinta terhadap manusia. Sehingga, rahman rahim Allah Swt. selalu tercurah dalam segala aspek kehidupan. Namun, manusia sering salah menggunakan pakaian yang tidak layak untuk digunakan. Manusia dengan kemerdekaan untuk memutuskan setelah diajari hal yang tidak diketahui oleh makhluk lain, terlalu besar kepala sehingga sering memakai kesombongan yang menjadi identitas kebesaran Allah Swt.

Manusia tidak memiliki hak atas apapun di dunia ini termasuk atas dirinya sendiri, manusia hanya punya kewajiban atas dirinya serta lingkungannya. Orang bijak pernah berkata bahwa alam adalah titipan anak cucu, bukan warisan nenek moyang. Perkataan orang bijak tersebut tidak ada yang bisa membuktikan apakah perkataan itu benar atau tidak karena tujuannya bukan pembuktian, melainkan untuk mengubah sudut pandang dan sikap manusia dalam berprilaku pada alam dan pada diri sendiri.

Kewajiban manusia dalam menjalani kehidupan sungguh sangat sederhana sekaligus sulit karena terlalu sederhana, yaitu selalu bersyukur. Kesederhanaan rasa syukur menjadi cerminan keimanan serta nilai kemanusiaan terhadap apa yang sudah Allah Swt. limpahkan. Pembalasan yang layak atas kecintaan Allah Swt. atas segala rahman rahim tiada lain adalah rasa syukur. Allah Swt. menegaskan bahwa akan menambah keberlimpahan bagi orang yang bersyukur dan sebaliknya siksa Allah Swt. teramat pedih bagi orang yang kufur.

Kepedihan yang paling berat bagi manusia adalah jauh dari Allah Swt. dan tidak menemukan jalan untuk kembali. Jaminan jauh dari Allah Swt. adalah kegelapan, kebimbangan, keraguan, serta segala sifat yang membuat rasa kemanusiaan semakin mengecil. Rasa kemanusiaan menjadi teramat penting untuk memberikan petunjuk menuju jalan kembali. Kembali pada tempat asal muasal manusia berasal, bukan pada tempat yang tidak semestinya sehingga menimbulkan rasa sesal.

Apabila Allah Swt. dengan segenap rahman rahim telah menjamin kehidupan makhluk termasuk  manusia, namun masih ada kekurangan dalam salah satu aspek kehidupan maka bisa dipastikan ada yang salah dalam diri manusia saat mengambil keputusan menuju ilaihi rajiun.

Ayo Komentari

komentar