Perempuan, Emansipasi, dan Warna Lokal

0
56
SAumber Gambar : http://www.salamdakwah.com

Berbicara perempuan tidak harus menjadi perempuan karena sebagai bahan pembicaraan,  mengetahui perempuan dapat melalui pengamatan dan perhatian yang cukup. Perempuan memiliki fenomena dalam ruang yang cukup luas untuk menjadi objek perhatian dalam aspek warna lokal. Warna lokal ini dibentuk dan disepakati oleh kelompok masyarakat sebagai daya kontrol dan kuda-kuda kehidupan sehingga menjadi adat dan budaya yang bisa menjadi pegangan. Dalam kehidupan sekitar kita masih banyak dijumpai warna lokal ini menjadi kendala karena tidak disadari secara utuh, baik oleh perempuan sendiri atau bagi pemerhati perempuan.

Warna lokal setiap daerah berbeda-beda sesuai letak geografis suatu wilayah, tekstur tanah, mata pencarian, dan aspek lainnya yang mempengaruhi kebiasaan suatu daerah. Warna lokal dalam praktik kehidupan sehari-hari sering berbenturan dengan emansipasi yang sedang gencar didengungkan. Warna lokal sebagai produk masyarakat terasa usang dan tidak cukup mewakili pemikiran modern yang terus berkembang. Warna lokal seolah sebagai belenggu yang membatasi ruang gerak kehidupan perempuan, sehingga eksistensi perempuan yang seharusnya ada dihilangkan begitu saja. Berbeda dengan emansipasi yang terasa begitu layak sebagai landasan berpikir karena sesuai dengan kebutuhan kehidupan modern yang memandang pentingnya eksistensi. Emansipasi bagai udara segar yang bisa melepaskan sesak yang sudah lama mendekap pernafasan.

Namun, benarkah warna lokal sudah tidak layak lagi sebagai landasan berpikir kehidupan sekarang? Benarkah hanya emansipasi yang layak sebagai landasan berpikir kehidupan sekarang? Adakah peluang warna lokal dan emansipasi berjalan beriringan?

Dalam dunia sastra khususnya cerpen dan novel, warna lokal bisa diamati melalui tokoh dan setting yang mencerminkan ciri khas suatu daerah. Ciri khas tersebut bisa dilihat dari aspek cara berpikir, dialek, maupun interaksi sosial sesama kelompok masyarakat. Ciri khas ini menjadi sebuah nilai yang dimiliki dan terus dipegang teguh oleh pengikutnya karena warna lokal erat kaitannya dengan kearifan lokal (local wisdom). Emansipasi lebih cenderung pada sikap perlawanan perempuan terhadap deskriminasi laki-laki dalam sistem patriarki. Menjalani kehidupan sosial, posisi laki-laki berada satu tingkat di atas perempuan.

Emansipasi dan warna lokal dalam dunia sastra jarang berbenturan karena menjadi ranah yang berbeda dan memiliki ruang pembahasan tersendiri. Benturan yang terjadi dalam dunia sastra hanya ada tokoh yang mendukung dan tokoh yang menolak. Namun, dalam realita kehidupan bermasyarakat emansipasi dan warna lokal menjadi dua hal yang dialami oleh seseorang secara bersamaan sehingga memberikan peluang untuk berbenturan. Benturan-benturan tersebut bisa dilihat dari berbagai fenomena kehidupan sehari-hari.

Pertama, ada yang memiliki keyakinan pembaharuan pola pikir melalui emansipasi dan meninggalkan warna lokal secara keseluruhan sehingga kehidupannya bebas tanpa batas. Kedua, ada juga yang mempertahankan dengan mati-matian warna lokal dengan menutup mata terhadap emansipasi sehingga bagai katak dalam tempurung. Ketiga, ada keraguan karena merasa ada dalam dua dunia, yaitu hidup di rumah yang bernuansa warna lokal dan hidup di dunia luar yang mendengung-dengungkan emansipasi.

Warna lokal yang sering terlihat sebagai batasan ruang gerak dalam kehidupan terdapat dalam peraturan yang tidak tertulis yang hidup di tengah masyarakat layaknya dipandang sebagai garis batas yang menjelaskan dua hal yang berbeda. Letakkan kembali pada posisi awal dalam pemaknaan yang utuh sesuai fungsi dan nilai yang terkandung. Tali pengikat yang terdapat pada warna lokal berdiri sendiri dan tumbuh berkembang bersama masyarakatnya. Sebagai kelompok masyarakat pengikut warna lokal tertentu, seorang perempuan tidak bisa melepaskan (meninggalkan) begitu saja karena warna lokal merupakan bagian kehidupan yang tidak terpisahkan dengan pengikutnya.

 

Meninggalkan warna lokal sama halnya mencabut pohon dari akarnya. Terlepasnya seseorang dari warna lokal yang diikuti merupakan awal dari jalan buntu yang akan dihadapi. Menjadi jelas saat terlepas dari warna lokal yang diikuti akan memberikan dampak ketidakjelasan identitas seseorang. Padahal, adanya warna lokal memberikan identitas yang jelas terhadap kehidupan pribadi sebagai manifestasi kelompok masyarakat.

 

Apabila warna lokal merupakan batasan-batasan yang harus dipatuhi dan diatur oleh kesepakatan bersama oleh kelompok masyarakat, maka emansipasi merupakan ekspresi diri terhadap cara menjalani kehidupan yang ranahnya pada keputusan-keputusan pribadi. Keputusan-keputusan tersebut dipengaruhi oleh kebutuhan masing-masing individu. Untuk memenui kebutuhan pribadi tiap individu, seorang perempuan dituntut untuk memiliki kreativitas dan keterampilan dalam menjalani kehidupan. Aspek kreativitas dan keterampilan ini yang diteriakkan dengan lantang oleh penggagas emansipasi.

Batasan yang diatur sebagai warna lokal tidak memotong kreativitas serta keterampilan yang diusung oleh emansipasi dan kreativitas serta keterampilan yang menjadi ekpresi emansipasi tidak menabrak peraturan yang sudah dibatasi oleh warna lokal. Sehingga warna lokal dan emansipasi bisa berjalan beriringan dalam diri perempuan. Perempuan akan semakin kokoh eksistensinya saat memiliki warna lokal yang menjelaskan identitas dirinya dan juga memiliki kreativitas serta keterampilan sebagai bentuk ekspresi diri untuk bersaing dalam menjalani kehidupannya.

Ayo Komentari

komentar

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here