Puasa; Nyaris (harus) Berlebaran

0
43
Sumber Gambar : http://analisadaily.com

Memasuki hari-hari akhir bulan Ramadan, orang yang menjalani puasa sudah berada diambang pintu gerbang hari raya Idul Fitri. Namun, belum benar-benar memasuki hari raya Idul Fitri. Kondisi seperti ini cenderung lebih pas menggunakan kata nyaris karena bernuansa dilematis. Dalam permainan sepak bola saat ada pemain menendang bola dan bolanya melesat kencang melewati luar tiang gawang sepersekian centi meter dapat dikatakan nyaris mencetak gol (tapi tidak gol), hanya nyaris saja.

Kondisi nyaris ini sungguh dilematis karena sama halnya berada di ujung tanduk, peluang terbesarnya adalah jatuh. Saat berada dalam posisi nyaris ini sangat tidak mudah dan cenderung bisa dikatakan sangat sulit karena rentan.

Saya teringat pertandingan sepak bola liga Champion musim 2016/2017 antara PSG vs Barcelona. Pada leg pertama PSG menang di kandang sendiri dengan skor 4-0 yang membuat satu kaki PSG sudah lolos dibabak selanjutnya. Kemenangan 4-0 dalam sejarah liga Champion bisa dipastikan lolos pada babak selanjutnya karena belum ada klub yang pernah bisa membalikkan keadaan saat sudah berada posisi tersebut. Pada leg kedua Barcelona justru bisa membalikkan keadaan dengan skor 6-1 yang membuat PSG tersingkir dan Barcelona melenggang pada babak selanjutnya.

PSG dan Barcelona menjadi tim yang berada dalam posisi yang sama menurut sejarah saat permainan pada leg pertama selesai, yaitu sama-sama jelas lolos bagi PSG dan jelas tidak lolos bagi Barcelona dalam perspektif prakiraan sementara. Sejelas apapun hal itu, ketika bersifat sementara akan masuk pada situasi kejelasannya jelas tidak jelas.

Keadaan nyaris ini tidak bisa diduga sebelumnya karena situasinya di luar garis logika dan terjadi tiba-tiba begitu saja. Memang, saat berada dalam keadaan nyaris dalam realita kehidupan ada yang bisa dijalani dengan pelan-pelan agar tetap berjalan sesuai keinginan dan ada pula yang sudah merasakan akibat dari keadaan nyaris tersebut.

Keadaan nyaris juga dialami oleh orang-orang yang menjalani ibadah puasa saat memasuki hari-hari akhir menjelang hari raya. Seremonial menjelang hari raya Idul Fitri begitu semarak diberbagai tempat. Dimulai dari persiapan mudik, perjalanan mudik, dan persiapan-persiapan menjelang hari raya itu sendiri begitu menguras energi, emosi, serta materi. Apabila tidak dihadapi dengan penuh penghayatan yang mendalam dan disadari dengan optimal, maka bukan tidak mungkin keadaan nyaris ini membuat kita hanya merayakan hari raya Idul Fitri, bukan mengalaminya sendiri.

Orang sepuh di kampung-kampung sangat memperhatikan betul terhadap keadaan nyaris ini. Kita bisa amati saat menjelang lebaran banyak orang tua yang berkata

“te-ngateh cong, parak tellasan (hati-hati, Nak, hampir lebaran).” Pesan sederhana, namun mengandung makna yang tidak sederhana seperti kedengarannya.

Dalam konteks keadaan nyaris seperti itu, orang sepuh menyadari betul keadaannya sangat rentan dengan keteledoran dan kelemahan. Keadaan rentan tersebut memunculkan kreativitas ajaran-ajaran orang terdahulu yang terkenal sederhana dan memiliki makna mendalam.

Seremonial budaya yang cenderung bersifat formalitas memang rentan membuat kita terlena dalam menjalani prosesnya. Ibadah puasa yang dijalani dari awal akan menjadi taruhannya saat berada dalam keadaan nyaris pada akhir bulan puasa ini. Kehati-hatian dan ketenangan jiwa dalam menyambut hari raya menjadi penting dipatrikan tiap waktu. Sekali tergelincir, kita semua akan nyaris mengalami Idul Fitri. Tapi, tidak mengalami Idul Fitri.

Namun, semoga kita semua dalam keadaan yang relatif seimbang dalam menjalani ibadah puasa dan harus menyambut dan merayakan hari raya dengan penuh kemenangan besar.

Minal ‘âidîn wal fâizîn  kullu ‘âmîn wa antum bikhair. Amin.

Ayo Komentari

komentar