Rasa Kemanusiaan Kita dan Fenomena “First Travel”

0
225
Sumber: firsttravel.co.id

Pernah suatu waktu, di pondok pesantren ada sebuah peristiwa. Peristiwa yang bermula dari sandal teman-teman santri sering tertukar atau bahkan hilang. Sehingga, santri memberikan tanda khusus pada masing-masing sandalnya. Namun, bagi yang memiliki keterampilan dan kreativitas seni, tidak sembarang dalam memberikan tanda pada sandalnya. Tapi, dengan seni pula yaitu, seni ukir. Sandalnya ditulis lalu diukir dengan silet. Sehingga, tulisannya tidak luntur kalau terkena air dan tetap awet serta enak dipandang karena ada karya seni. 

Waktu itu, hampir semua santri melakukan hal yang sama. Bagi yang tidak memiliki keterampilan, bisa meminta bantuan kepada yang terampil dengan imbalan rokok atau bahkan traktir makan. 

Semua santri menggunakan identitas sesuai karakter masing-masing dalam menentukan ukiran. Ada yang mengukir logo klub sepak bola, tokoh idola, atau hanya sekedar inisial. Santri yang kursus di Lembaga Bahasa Arab ukirannya tentu menggunakan huruf hijaiyah sebagai identitas diri dan nilai prestise. 

Suatu hari, menjelang shalat jamaah salah satu sandal santri yang bertuliskan bahasa arab di depan pintu masuk masjid terlihat oleh seorang pengurus daerah (wisma). Pengurus yang otomatis santri senior itu memanggil pemilik sandal. Setelah pemilik sandal datang, pengurus langsung marah-marah karena pemilik sandal itu dianggap menginjak-nginjak Quran. Arab sama halnya dengan Quran dan Arab sama halnya dengan Islam. Menginjak tulisan huruf hijaiyah, berarti menginjak-injak Quran dan Islam. 

Atas kejadian tersebut, banyak teman santri yang merespon dengan menertawakan dan tidak sedikit pula yang justru mengolok-ngolok sikap marah pengurus terhadap kejadian yang membuat suasana heboh di seluruh pesantren.  Kejadian yang heboh bukan sikap marah “terlepas dari benar atau salah” pengurus terhadap santri yang memiliki sandal bertuliskan huruf Arab (hijaiyah). Melainkan respon terhadap kejadian tersebut. 

Suasana pesantren yang biasanya penuh dengan pembelajaran berubah menjadi suasana penghakiman. Penghakiman bisa menyumbat terhadap sikap pembelajaran yang sudah menjadi urat nadi pesantren. Seolah-olah tidak ada pilihan respon lagi, selain membenarkan-menyanjung terhadap pihak yang dianggap benar dan menertawakan-mencaci maki terhadap pihak yang dianggap salah. Dua pilihan yang sudah tidak bisa diganggu gugat di tengah banyaknya pilihan sikap yang diperlihatkan oleh para teladan.

Peristiwa seperti kejadian di atas akhir-akhir ini banyak kita jumpai. Mulai dari hal yang sepele sampai peristiwa yang memang masuk pada esensi kehidupan bermasyarakat, bernegara, beragama, serta dalam keberagaman hidup. Kejadian demi kejadian membuat diri kita selalu berkeinginan untuk cepat merespon. 

Bagaimana tidak? Masyarakat yang sudah lama hidup damai dengan adat dan kebudayaan diusik oleh kepentingan industri, partai dengan jargon anti korupsi terbukti kadernya banyak menjadi tersangka korupsi, menteri agama korupsi dana pengadaan kitab suci dan haji, dan yang terbaru adalah penipuan bidang usaha travel umroh. Rasa geram telah menyelimuti dan mengaduk-aduk perasaan masyarakat kita akhir-akhir ini. Sehingga suasana kehidupan ini menjadi gerah penuh polusi kebencian.

Kebencian bisa dipastikan bersumber dari kesalahan menempatkan posisi diri terhadap sebuah peristiwa. Dalam hal ini, posisi yang nyaris tidak berjarak membuat kita berada dalam kubangan arus sebuah peristiwa sehingga berakibat kebuntuan berpikir dan lepas dari tanggung jawab sebagai anggota masyarakat. 

Kebencian tersebut menjadi masalah baru yang terus berkembang karena sudah tidak memanusiakan yang bersalah serta yang menjadi korban orang yang bersalah. Para bembenci itu, lalu berkelompok sesuai pilihan, menjadi kubu pendukung atau kubu yang menolak. Kelompok tersebut menjadi masalah baru lagi yang terus bergulir dan terlepas dari akar masalah awal yang berakibat perpecahan hubungan dan mengancam keutuhan bermasyarakat. Kejadian seperti ini sudah menjadi pemandangan tiap hari dalam kehidupan sekarang. 

Padahal, selain mendapat hukuman yang sudah ditetapkan oleh pihak yang berwenang, orang yang memiliki kesalahan atau yang ditetapkan bersalah oleh pihak berwenang otomatis mendapatkan hukuman sosial dari masyarakat yaitu, lunturnya kepercayaan dari anggota masyarakat lain. Ini sudah menjadi hukuman yang menjatuhkan nilai kemanuisaannya karena hakikat manusia diciptakan oleh Tuhan adalah dapat dipercaya sebagai khalifah di muka bumi. Sehingga, tidak perlu lagi sebagai individu merespon secara berlebihan agar proses alamiah dalam kehidupan bermasyarakat tetap berjalan melalui proses alamiah pula.

Kepercayaan masyarakat akan terlihat melalui proses panjang seperti yang dialami oleh Nabi Muhammad Saw. Nabi Muhammad Saw mendapatkan gelar amanah (dapat dipercaya) bukan serta merta saat diangkat menjadi Rasul. Namun, sifat tersebut sudah tertanam dan dipraktikkan sejak kecil selama 40 tahun sehingga masyarakat yang merasakan sendiri. Begitulah hukum alamiah yang berjalan melalui proses yang memakan waktu sepanjang kehidupan.

Ada kebiasaan sederhana dalam suatu masyarakat tertentu yang membuat saya tertegun. Kebiasaan cara merespon terhadap anggota masyarakat lain yang melakukan kesalahan. Saat ada salah satu anggota masyarakat yang melakukan kesalahan, semua masyarakat berkumpul melingkar dalam satu tempat beserta orang yang melakukan kesalahan. Satu persatu anggota masyarakat menyebutkan kebaikan yang pernah dilakukan oleh orang yang memiliki kesalahan dan diakhiri dengan permintaan maaf serta memaafkan sesama anggota masyarakat. Sehingga derajat sebagai manusia tetap beradab dan hubungan antar anggota masyarakat tetap kokoh.

Kesalahan dan kebaikan yang dilakukan tetap bisa dipertanggungjawabkan sesuai hukum yang sudah ditetapkan.

Dalam bermasyarakat, kesalahan dan kebaikan memiliki tempat dan saringan yang alamiah. 

Kesalahan dan kebaikan tetap menjadi tanggung jawab masing-masing terhadap diri masing-masing dan pihak yang berwenang. Kita sebagai anggota masyarakat tidak bisa menjunjung tinggi atau menginjak sampai keluar dari batas kemanusiaan. Hubungan kita dalam bermasyarakat adalah menemukan nilai kebenaran dan rasa kemanusiaan itu sendiri, bukan mendukung yang dianggap benar dan menolak yang dianggap salah.

Kebiasaan dalam suatu masyarakat yang membuat saya tertegun di atas memang tidak bisa menjadi solusi hukum karena sudut pandang tulisan ini bukan dari aspek hukum. Namun, hal itu bisa menjadi pilihan masing-masing individu dalam merespon terhadap setiap fenomena yang berkembang agar kemanusian kita sebagai khalifah di bumi dapat dipertanggungjawabkan. Dengan seperti itu, sudut pandang diri terhadap kemanusiaan tetap murni.

Tetap menjadi manusia yang memanusiakan manusia

Semoga.

Ayo Komentari

komentar