Tarian Bumi dan Perlawanan Telaga

0
41
Sumber Gambar : http://1.bp.blogspot.com

Budaya Bali menjadi salah satu tempat yang sangat menarik untuk dijadikan setting sebuah karya fiksi oleh seorang penulis. Kekuatan adat, agama, dan kebiasaan yang akrab dengan kehidupan sehari-hari membuat masyarakat Bali mempunyai suatu yang bisa dibuat pijakan dalam hidup.

Keteguhan hati memegang adat menjadikan masyarakat Bali tetap kokoh di tengah dekadensi moral masyarakat kota. Padahal, Bali lebih gencar diserang globalisasi. Hal itu terlihat dari banyak para wisatawan lokal maupun asing yang sudah bertempat tinggal di sana.

Karya fiksi bisa menjadi cerminan realita suatu masyarakat tertentu sehingga untuk mengetahui pola hidup dan pola pikir bisa diketahui melalui karya sastra yang berkembang dalam kelompok masyarakat tersebut.

Karya fiksi akan lebih bermutu ketika mencerminkan kehidupan sehari-hari, adat istiadat, dan budaya suatu masyarakat tertentu secara detail, sehingga cerita yang ditulis akan terasa hidup. Novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini ini banyak menggunakan sistem tanda (simbol) karena beberapa hal.

Pertama, novel ini menceritakan masyarakat Bali yang memegang teguh kepercayaan nenek moyang (adat istiadat); kedua, masyarakat Bali dalam kehidupan sehari-hari banyak menggunakan sistem tanda (semiotik).

Konsep Semiotik

Teori semiotik adalah teori kritik pascamodern, karya sastra dipahami melalui tanda-tanda atau perlambangan yang ditemui di dalam teks. Teori ini berpendapat bahwa dalam sebuah teks terdapat banyak tanda dan pembaca harus memahami apa yang dimaksudkan dengan tanda-tanda tersebut.

Secara garis besar, Pierce menggolongkan semiotik menjadi tiga konsep dasar. Pertama, semiotik pragmatik, yaitu yang menguraikan tentang asal usul tanda, kegunaan tanda oleh yang menggunakannya, dan efek tanda bagi yang menginterpretasikannya dalam batas perilaku subjek atau yang mempelajari hubungan antara tanda, pemakai tanda, dan pemakaian tanda.

Kedua, semiotik sintaktik yang menguraikan tentang kombinasi tanda tanpa memperhatikan ‘makna’nya atau hubungannya dengan perilaku subjek atau secara singkat adalah yang mempelajari hubungan antartanda. Semiotik ini mengabaikan pengaruh akibat bagi subjek yang menginterpretasikan.

Ketiga, semiotik semantik yang menguraikan tentang pengertian suatu tanda sesuai dengan ‘arti’ yang disampaikan atau dengan kata lain yaitu yang mempelajari hubungan antara tanda, objek, dan interpretannya.

Kecamuk Telaga di tengah kebiasaan keluarga griya.

Tokoh utama dalam novel ini perempuan bernama Telaga. Telaga sosok wanita cantik, mempunyai tubuh bagus, pandai menari semakin melengkapi kesempurnaan tokoh utama sebagai anak keturunan raja di masyarakat Bali. Sejak kecil Telaga diajari menari oleh guru tari khusus karena guru tari itu tidak pernah mau mengajarkan ilmu tarinya selain kepada Telaga, padahal dia penari ulung yang terkenal di pulau Bali.

Sudah banyak orang yang ingin belajar kepada dia dan diminta mengajari tari diberbagai tempat. Tapi guru itu tidak mempunyai keinginan untuk mengajari mereka, namun ketika melihat Telaga dia langsung merasa terpanggil untuk menurunkan ilmu tarinya.

Telaga sangat pesat menangkap pelajaran menari sehingga dalam waktu sekejap Telaga menjadi sosok wanita matang yang pandai menari. Sebagai keturunan raja Telaga hanya menjadi buah bibir para pemuda karena mereka tidak berani mengganggunya, apalagi sampai berani melamarnya. Namun, Telaga nekat menikah dengan laki-laki sudra yang dicintainya. Sehingga banyak kejadian aneh yang menimpa rumah tangganya. Berbagai cobaan selalu datang silih berganti, sampai pada puncaknya kabar itu datang tiba-tiba bahwa suaminya meninggal di sanggar lukis pribadinya. Akhirnya ibu mertuanya meminta untuk mengadakan upacara pamitan kepada keluarga griya.

“Dulu, ketika kau kawini anak tiang, kau belum pamit ke griya. Kau juga belum melakukan upacara Patiwangi. Aku ingin kau melakukan semua itu. Demi keluarga ini!” suara Gumbreng mirip perintah. Telaga mengangkat wajahnya, berharap dirinya sedang mimpi. (hal.164)

Telaga dalam menjalani proses pernikahan tidak direstui oleh keluarga kerajaan sehingga banyak cobaan yang menimpa. Peraturan budaya Bali perempuan Brahmana dilarang menikah dengan laki-laki sudra. Apabila ada yang melanggarnya maka akan mengalami nasib buruk. Berbagai kejadian buruk akan menimpa kehidupan rumah tangga dan orang hidup satu atap dengan orang yang menikah itu.

Untuk menghentikan cobaan itu Telaga diminta untuk mengadakan upacara Patiwangi oleh mertuanya. Upacara Patiwangi merupakan peristiwa pelepasan diri dari ikatan kekeluargaan dengan keluarga raja karena telah melanggar peraturan untuk tidak menikah dengan orang sudra. Patiwangi berasal dari dua kata yaitu pati dan wangi. Pati yaitu mati (mencegah) dan wangi yaitu wewangian.

Patiwangi berarti mematikan (mencegah) dari wewangian yang sebuah simbol dari keluarga raja.

Proses upacara Patiwangi itu tercermin dalam kutipan; “Telaga mulai membuka bajunya. Dia hanya mengenakan kain sebatas dada. Seorang pemangku mengucapkan mantra-mantra. Kaki perempuan tua itu diletakkan pada kepala Telaga, tepat di ubun-ubun. Air dan bunga menyatu. Kali ini, Telaga merasakan air dan bunga tidak bersahabat dengannya. Air menusuk-nusuk tubuhnya, bunga-bunga mengorek lebih dalam lukanya. (hal. 174-175)

Peristiwa tersebut mencerminkan proses upacara yang dilakukan Telaga demi terciptanya kehidupan yang damai meskipun Telaga sendiri tidak percaya dengan kebiasaan tersebut. Telaga melakukan hanya memenuhi permintaan mertuanya. Dasar ketidakpercayaan Telaga terhadap adat itu ada beberapa hal, antara lain: Pertama, banyak di lingkungan raja yang memanfaatkan kekuasaannya hanya untuk memuaskan hasrat pribadi, tidak memikirkan kesejahteraan rakyatnya; kedua, banyak orang di lingkungan raja bertindak seolah-olah keluarga raja (gila hormat). Padahal, hanya dekat dengan raja bukan keturunan raja; ketiga, peraturan itu menurut Telaga sangat bertentangan dengan kodrat manusia yang semua sama dan tidak ada perbedaan status sosial. Oleh sebab itu, Telaga berani melanggar peraturan lingkungan griya karena dasar pemikiran Telaga adalah kesamaan derajat sesama manusia.

Beberapa simbol dapat diambil dari peristiwa yang dialami oleh Telaga sebagai berikut; pertama, simbol nama yang diperankan tokoh utama yaitu Telaga; kedua, simbol yang berada dalam upacara patiwangi; dan ketiga, simbol yang terdapat pada proses upacara patiwangi. Kehidupan yang dijalani Telaga sangat dramatis, dalam satu sisi Telaga sebagai keturunan raja dan sisi lain Telaga sebagai manusia bebas tanpa aturan yang membatasi antara satu sama lain. 

Namun, Telaga memilih menikah dengan orang biasa dan tidak mengikuti adat keluarga griya meskipun risiko yang ditanggung dalam hidupnya sangat berat.

Baca juga Tarian Ayat-MU

Ayo Komentari

komentar

BAGIKAN
Postingan SebelumnyaTasyriq II
Postingan BerikutnyaRevolusi Kenabian
Travelpreneur, Magister Sastra, Freelance Traveller, Mountain Backpacker. Founder JBTravel | Sangat bisa dihubungi di imron@formasirua.or.id