Fitri

0
95
Sumber Gambar : https://3.bp.blogspot.com

Ini tentang Fitri. Sebuah nama yang mungkin akan menjadi karya tulis dan membangkai dalam laptop usang ini. Yang bisa jadi laptopnya juga akan berakhir di pintu pegadaian.  Syukur-syukur bila masih ada sepasang mata yang melihat atau yang lebih tidak mungkin lagi tulisan ini akan menyentuh bibirmu.

Banyak orang akan berkata “apalah arti sebuah nama?” Tapi, bisa jadi tidak untuk kali ini. Ini tentang Fitri. Nama yang sanggup merangkai cerita. Nama yang ikut menyumbang nafas. Nama yang tetap hidup walau kisah tak lagi sama. Nama yang akan selalu dikenang walau nama itupun yang sanggup membunuh sang tuan dan nona.

“Ini ada titipan,” tangan putih Ayu menyerahkan plastik.

Aku hanya tersenyum melihat kaos putih di tanganku. Padahal, baru kemarin  aku melihatnya nangkring di badanmu.

“Kenapa kamu menitipkan kaos ini untukku?”

“Bukankah kemarin kau bilang suka?” Suaramu begitu tertata di telpon.

“Iya, aku paham. Tapi, percuma saja kaos ini tanpa dirimu. Bukankah kaos ini menjadi bagus karena kamu yang memakai?”

“Sudah. Simpan saja kaos itu!”

Aku sangat menikmati egoismu. Egois yang menghadirkan rindu. Rasanya baru kemarin aku mengenalmu, walau nyatanya kau lebih mengenalku. Tapi siapa peduli, toh saat ini kita sudah sedekat ini.

*

Fitri. Bukankah terlalu anggun nama itu. Dan hal yang sangat khas rasanya, saat nama itu keluar dari bibirmu. Terbayang saat gerakan bibirmu membentuk panggilan hangat Fitri.

Aku melihatmu hari ini. Yang benar saja, tatapanmu itu menelanjangiku yang sedang di hukum guru tatib gegara terlambat. Ah, malu rasanya! Disaat seperti ini aku selalu menyesalkan kenapa kelas kita berdampingan.

Fitri dan adamu mengalahkan semua ceritaku. Kemarin, hari ini, mungkin besok dan entah sampai kapan.

“Fitri, kamu ditunggu Wahyu di gerbang,” Herman tiba-tiba saja sudah berada di sampingku.

Ah wahyu, kamu yang menyebabkan semua kekacauan ini. Bahkan satu sekolahpun memanggilku Fitri. Sejak kapan namaku berubah? Padahal, orang tuaku harus membuat bubur terlebih dahulu untuk memberiku nama. Kurasa, semua orang di sini sudah lupa dengan namaku yang sebenarnya.

“Ayo, Fit. Ditunggu!” Herman masih menungguku beranjak dari kursi.

Masih saja, aku tidak bisa menolak kalau kamu yang meminta.

Pernah aku bertanya mengapa kamu memanggilku Fitri. Kamu hanya bilang bahwa aku mirip Fitri dalam sinetron Cinta Fitri. Aku hanya mengiyakan walau mungkin ada alasan yang lebih masuk akal.

Rasa nyaman ini tak kumengerti sejak kapan dan bagaimana. Sama adanya dengan nama Fitri yang kau berikan. Aku terbiasa dan lebih tepatnya bangga. Entahlah, kebanggaan yang seperti apa.

“Nggak, Fit. Aku gak apa-apa,” ucapmu tertawa saat aku menelpon.

“Diamlah! aku ke sana sebentar lagi.”

“Bukankah aku sudah bilang agar hati-hati kalau bawa motor?” tanganku sibuk mengobati luka kakimu, matakupun awas dengan raut mukamu. Dan kau hanya tersenyum dengan entengnya. Sungguh. Senyum itu, suara itu dan semuanya yang telah kau balut dalam ruang tersembunyi. Nyatanya hal itu sama antara ada dan tiadanya.

“Mila, kau belum tidur?”

“Belum.”

“Ini ada titipan dari Wawan,” segera bingkisan di tangan Intan berpindah ke tanganku.

“Thanks ya,” ucapku menutup pintu.

Entah jarak atau waktu yang begitu kejam. Tak sekalipun aku melihat bibirmu mengucap Fitri. Bahkan, aku belum mengerti, mengapa hingga kini Wawan masih berdiri di pintu yang berbeda denganmu, sedang dirimu tertinggal jauh 8 tahun silam.

Sepertinya waktu belum puas menanam benih rindu, hingga untuk panenpun tak cukup waktu. Per hari ini, Fitri adalah bayangan tak tersentuh, mengulang lagi dan lagi cerita yang ingin aku tutup, memaksa membangun mimpi yang ingin aku bunuh dan bisa jadi membunuh hidup yang ingin aku tata.

Dan malam tadi, kau merayap dalam malamku menjelma sapa

“Kau masih Fitriku yang dulu.”

Ayo Komentari

komentar

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here