FORMASI RUA Surabaya mengadakan Trauma Healing untuk anak Pacitan pasca banjir dan longsor.

0
41
Sumber Gambar : formasirua.or.id

Sudah hampir beberapa pekan ini masyarakat Pacitan, tepatnya Kecamatan Arjosari berada di tempat pengungsian. Beragam cara pun banyak dilakukan oleh para relawan bakti sosial guna mengakomodasi kebutuhan para pengungsi korban banjir dan longsor di Pacitan. Meskipun sebagian pengungsi sudah ada yang pulang ke rumah masing-masing karena dirasa sudah aman. Namun, tidak sedikit yang masih berada di pengungsian sebab tempat tinggal meraka ada yang masih terancam longsor susulan.  

Selasa, 26 Desember 2017 Pengurus Wilayah Forum Mahasiswa dan Santri Raudlatul Ulum Arrahmaniyah Surabaya (PW FORMASI RUA Surabaya) berkunjung ke daerah korban bencana di Kabupaten Pacitan tepatnya di desa Kedungbendo. Meskipun keadaan alam sudah mulai aman untuk sebagaian wilayah. Namun, keadaan psikologis korban bencana masih tetap harus menjadi perhatian utama. Terlebih pada anak-anak karena secara fisik dan mental masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Mengalami kejadian traumatis dan mengerikan akibat bencana dapat mengakibatkan stres dan trauma mendalam bagi anak-anak bahkan orang dewasa sekalipun. Oleh sebab itu, PW. FORMASI RUA Surabaya melaksanakan program Trauma Healing yang bekerjasama dengan relawan Penyuluh Agama Islam dari Kementrian Agama Kabupaten Pacitan. Sebanyak kurang lebih 40 anak dari warga sekitar, mulai dari tingkat PAUD hingga Sekolah Dasar antusias mengikuti setiap kegiatan yang dipandu langsung oleh Neng Nurissyarifah, S. Psi.

Sumber Gambar : formasirua.or.id

Acara dimulai dengan memperkenalkan diri dengan gaya-gaya lucu. Terlihat dari senyum dan tertawanya anak-anak ketika Tim “Trauma Healing PW. Formasi RUA Surabaya” memperkenalkan diri dengan berbagai macam gaya dan dilanjutkan anak-anak pengungsi juga ikut mengenalkan diri dengan gaya lucu mereka. Kegiatan dilanjutkan dengan mendongeng lalu menggambar, ketika anak-anak asyik dengan menggambar, tim ikut membaur diantara anak-anak yang tengah asyik mengggambar  dan berusaha mendekati serta mendengarkan keluh kesah yang dialami selama terjadi atau pasca bencana. Kegiatan ditutup dengan anak-anak maju satu persatu untuk menceritakan apa yang telah digambar dan pembagian bingkisan berupa alat-alat keperluan sekolah dan snack.

Pelaksanaan kegiatan seperti ini perlu dilakukan setelah bencana, “Kegiatan ini sangat penting dilakukan untuk menghilangkan truma pada anak-anak pasca bencana. Mengingat bantuan yang ada, kebanyakan berbentuk logistik dan kesehatan. Sehingga teman-teman PW. FORMASI RUA SURABAYA berinisiatif untuk memberikan program trauma healing, dengan harapan anak-anak di sana bisa segera melupakan kesedihan yang mereka alami,” ujar ketua pelaksana Abul Hayat.

Selain bertujuan untuk mengurangi beban psikologis anak-anak pasca korban bencana, kegiatan ini juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada anak-anak terhadap tindakan yang harus diambil ketika terjadi musibah dan memberikan sedikit pengetahuan tentang menjaga alam

Agar tetap lestari. Hal ini diselipkan dalam kegiatan mendongeng yang berisi edukasi tentang tindakan yang harus dilakukan jika terjadi musibah banjir, longsor dan tsunami mengingat letak kabupaten pacitan yang berada tidak jauh dari laut.

“Dongeng mengenai Nama Saya SMONG ini sangat pas mengingat letak kabupaten Pacitan yang letaknya berdekatan dengan laut dan sekaligus untuk menceritakan pada anak-anak bahwa pada tanggal 26 Desember, tiga belas tahun yang lalu pernah terjadi bencana dahsyat di negeri ini yaitu, tsunami di Aceh. Kita semua wajib mengambil pelajaran dari musibah tersebut.” menurut Kinaatul Mukarromah, selaku pendongeng cerita SMONG yang diadaptasi dari cerita rakyat turun-temurun dari Aceh.

“Intinya menyibukkan anak-anak dengan kegiatan baru, sehingga anak-anak akan berlatih sabar dan melupakan kesedihan yang mereka alami dan dapat menata kembali cita-citanya dengan senyum,” tambahnya.

Sumber Gambar : formasirua.or.id

Pogram Trauma Healing ini sudah direncanakan beberapa saat setelah bencana longsor dan banjir yang terjadi di kabuaten Pacitan. Dimulai dari mengumpulkan donasi dengan berjaualan air mineral (Qta RUA) produk Ponpes RUA setiap Minggu pagi di Taman Bungkul dan mengumpulkan dana dari anggota FORMASI RUA baik dari anggota FORMASI Surabaya maupun diluar kota Surabaya.

“Kegiatan ini memang terlihat kita sedang membantu dan menghibur mereka. Tapi, sebenarnya mereka yang membantu dan menyadarkan kita tentang hidup yang nyata. Bahwa kita sering mengeluhkan hal yang sama sekali tidak berat. Menangisi hal yang sama sekali tidak sakit. Mencari hal yang sebenarnya tidak hilang, dan bahkan mencintai hal yang sebenarnya tidak pantas untuk dicintai,” kata Neng Nuris setelah mengisi Trauma Healing.

Baca Juga : Berjiwa Santri Di Era Globalisasi

Ayo Komentari

komentar