Membaca Diri dari Monolog Bocah

Mengutip ungkapan Chairil Anwar “PUISI BUKANLAH TEMPAT SAMPAH BAGI KATA-KATA,“ mengartikan bahwa sebuah puisi itu lahir bukan dari sembarang kata,

0
80
Sumber Gambar : http://www.mykiddytracker.com

Menikmati puisi “Sendok Jatuh Ke Lantai–tring!“ dari buah tangan saudara sendiri; Saiful Huda, seperti menikmati sebatang rokok dan secangkir kopi, apapun rasanya yang penting kita menikmati.

Mengutip ungkapan Chairil Anwar

“Puisi bukanlah tempat sampah bagi kata-kata,“

mengartikan bahwa sebuah puisi itu lahir bukan dari sembarang kata, melainkan kata yang lahir dari pemilahan, penimbangan, perenungan dan sebagainya. Tidak harus semua kata yang ditulis, melainkan kata yang tepat saja.

Sebagai penikmat puisi, saya mencoba mengapresiasi karya yang akan dijadikan antologi tunggal dalam buku “Monolog Bocah“. Entah apakah isinya nanti, barangkali tak lepas dari kesadaran pada waktu kecil ketika sudah dewasa. Sebab sebagaimana perkataan Hatim Al-Ashom seorang ulama di Baghdad “Tak akan mengetahui kehidupan masa muda, kecuali orang yang sudah tua…“.

Barangkali nanti saat bukunya lahir, akan mengajak kita (sebagai pembaca) merenungi kenakalan dimasa kecil untuk kita rubah buruknya saat dewasa dan mempertahankan baiknya sampai masa tua.

Juga sebagai pembaca tentunya, apapun hasil tulisan ini tak lebih hanya cara pandang saya menikmati bukan menelanjangi, sekata dengan perkataan Ts. Elliot “Setidak-tidaknya sebuah puisi bisa dinikmati sebelum dimengerti“.

SENDOK JATUH KE LANTAI–Tring!

1. Namaku Nila

lahir disebuah siang

ketika terik dan brisik

terang mengulang

yang tak ada

Tuhan, kota ini hilang ingatan!

Kau lihat, kan

jendela tak lagi

membaca gerak daun

yang hanyut dalam angin

Tak lagi mengenal

suara ringkih dari

kucing yang menyendiri

pada trotoar

Kota dan kita saling lupa

 

2. Tapi aku bahagia

 

3. Aku mendengar gerimis

dingin dan cerkas

seperti remah-remah es

ditabur malaikat Israfil

ke tengah atap

dari mana senja merayap?

 

4. Suara yang membawa

kepada hayal

 

5. Khayal tentang pelataran

rumah ujung dusun

setelah setapak jalan

menggaris baris perdu

(seolah tak tersusun, tapi entah)

Ada laki-laki tua

tengah lari-lari kecil

menggiring
tiga puluh bebebk

pawai putih ke

arah pematang

menggiring
dengan sebilah

ranting
seakan-akan berkata

“He, ke sana, ke sana“

 

6. Itulah sebab aku rindu

kutulis puisi pendek

di batang pohon cengkih

dengan pisau lipat

pelan-pelan kugurat

Rindu
kurasa selembut

tekstur terigu

Nah, bagus tidak?

7. Kini aku ingin tidur

selembar selimut

dua lembar doa, tentu

Terima kasih, Tuhan

(Jarum jam pun perlahan layu)

Saiful Huda, 2015

“Sendok Jatuh Ke Lantai–tring!“ adalah puisi yang memberi letupan diluar puisinya, memberi ruang kosong pada pembaca untuk masuk lebih jauh menikmati suasana yang timbul dari gaya bahasanya yang penuh dengan citraan dari awal sampai akhir seperti pada bait 10//Laki-laki tua //tengah lari- //lari kecil //menggiring //tiga puluh bebek… dan juga beberapa majas lainnya.

Secara genre puisi tergolong dalam puisi imajis naratif, yang memang lebih menitikberatkan pada perekaman suasana yang dihasilkan dari visual, auditif dan taktil si kreator, sebagaimana empunya–haiku dalam perekaman momentumnya.

Memang puisi di atas terkesan prosa yang dipenggal-penggal menjadi berlarik-larik, tapi itulah puisi, ketika penulis mengatakan “Ini puisi!“ maka bagaimanapun bentuknya, tetaplah menjadi puisi.

Oleh karena puisi di atas berbabak, maka kita akan menikmatinya dengan perbabak juga. Sampai nanti kita TIDUR dibabak terakhir. Dari judul penulis menekankan dua matriks atau kata kunci. Pertama: Sendok Jatuh Ke Lantai. Dan kedua adalah bunyi anamotope “Tring!“ yang keduanya adalah simbol kegaduhan-berisik atau keresahan.

“1. Namaku Nila

lahir di sebuah siang

ketika terik dan brisik

terang mengulang

yang tak ada

Tuhan, kota ini hilang ingatan!

Kau lihat, kan

jendela tak lagi

membaca gerak daun

yang hanyut dalam angin

Tak lagi mengenal

suara ringkih dari

kucing yang menyendiri

pada trotoar

Kota dan kita saling lupa“

Pada babak ini, penulis memperkenalkan Nila sebagai aku lirik yang lahir dari sebuah cahaya yang percuma; katanya. Sebab, dia mulai merasa bahwa dirinya hanya seorang yang bisanya menimbulkan kegaduhan saja. Sebagaimana arti Nila dalam pepatah “Nila setitik, rusak susu sebelang“. Lalu kreator membuat antiklimaks dalam //Tuhan, kota ini hilang ingatan.

Disinilah akulirik memakai paradoks sebagai pembelaan diri pada Tuhan, bahwasanya semuanya telah melupakan dirinya. Hal ini merupakan penyesalan sebelum waktunya, barangkali resah tanpa alasan. Lalu di bait berikutnya akulirik mulai membangun alasannya sendiri //Kau lihat, kan //jendela tak lagi //membaca gerak daun //yang hanyut dalam angin…. Akulirik mulai meluapkan gundahnya dengan alasan-alasan yang nantinya akan ditepis selanjutnya.

“2. //Tapi aku bahagia“,

di babak pertama ini akulirik merasa terasingkan dan tak pernah didengar, dibelai belas kasih seperti angin yang membelai daun, juga seperti suara kucing di trotoar yang tak pernah ada yang mendengarkan. Lalu membuat klimaks dengan simpulan //kota dan kita saling melupa.

Setelah merasa puas dengan pengaduan pada Tuhannya perihal rasa terasingkan. Suasana sekitar pun mulai mengajaknya lebih menikmati tusukan-tusakan sepi yang dingin;

“3. Aku mendengar gerimis

dingin dan cerkas

seperti remah-remah es

ditabur malaikat Israfil

ke tengah atap

dari mana senja merayap?“

Dibait ini, aku lirik semakin merasa tertekan oleh suasana sekitar; sebuah gerimis dan Israfil yang melahirkan dingin-takut dan juga cerkas/cergas-tertekan.

Sebuah retoris //dari mana senja merayap? Telah mampu mengantarnya pada hayal tentang hari tua. “Bagaimanakah saya nanti?“ dalam tafakkur ini, akulirik mulai digandrungi resah yang semakin, sampai-sampai mengingatkan pada sebuah kenangan, seorang yang dia sayangi ada di nun jauh sana di sebuah kampung yang asri. Seperti bait-bait selanjutnya ini:

4. Suara yang membawa

kepada hayal

5. Khayal tentang pelataran

rumah ujung dusun

setelah setapak jalan

menggaris baris perdu

(seolah tak tersusun, tapi entah)

Ada laki-laki tua

tengah lari-

lari kecil

menggiring
tiga puluh bebek

pawai putih ke

arah pematang

menggiring
dengan sebilah

ranting
seakan-akan berkata

“He, ke sana, ke sana“

Sebuah bait yang penuh citraan, memadukan visual dan auditif yang sempurna telah mampu menggiring pada ingatan-ingatan kampung halaman dan seorang lelaki, barangkali sesosok ayah yang dirindu.

6. Itulah sebab aku rindu

kutulis puisi pendek

di batang pohon cengkih

dengan pisau lipat

pelan-pelan kugurat

Rindu
kurasa selembut

tekstur terigu

Nah, bagus tidak?

Setelah membaca bait ini, kita akan menemukan sebuah simpulan yang sebenarnya. Akulirik yang sedang bercerita tentang rindunya dari sebuah tempat yang teduh lalu dia menulisnya sebagai puisi. //Nah, bagus tidak? Kembali retoris yang enjamben barangkali, akan membuat kita bingung, apa ini?
Kalau bukan bocah, mana tidak mungkin bertanya tulisannya sendiri dengan polos begitu.

7. kini aku ingin tidur

selembar selimut

dua lembar doa, tentu

Terima kasih, Tuhan

(Jarum jam pun perlahan layu)

Sampailah di bait akhir dan kita akan benar-benar tidur seperti ungkapan saya di awal. Tidur dengan dua doa, untuk kita dan orang tua yang kita rindu. Maka //Jarum jam pun perlahan layu, sebab sebenarnya mata kita yang mulai kriyep-kriyep.

Puisi “Sendok Jatuh Ke Lantai“ telah berhasil mengajak pembaca menikmati apa yang ada di dalam puisi tersebut dengan sugesti suasana yang lembut. Sebuah kebiasan mengeluh sebagai bocah, merasa kurang puas. Namun, disamping itu ada rindu yang meletup saat jauh dari orang tua. Ada beberap penyimpangan fonologis yang dimainkan kreator seperti //grimis //brisik yang memang dimaksudkan untuk kenyaman intonasi menurut saya. Selebihnya, puisi ini sudah semi pragmatis. Tak sedaifan bocah-nya tak segelap suasana puisinya.

 

Baca Juga Antara di dalam Alarm Sunyi Buku Puisi Karya Emi Suy

Ayo Komentari

komentar