Bunga Kertas

0
138
Sumber Gambar : .bukalapak.com

Saking asyiknya bergelut dengan buku-buku, yang lain seakan dibiarkan berlalu begitu saja. Tidak sedikit, Fatah telah mendapatkan teman-teman sebayanya yang sudah menikah diusia dini, bertunangan dan berpacaran. Namun, dia tetap beranggapan kosong. Akan tetapi, cerita mulai beda, saat dia menatap mata sesosok gadis yang langsung meluluhkan hatinya.

Di sebuah taman kecil sebelah kanan kantin kampus, terdapat kursi-kursi kayu yang tempatnya disejukkan oleh hembusan angin-angin lewat pepohonan, duduk tenang seorang mahasiswa yang sedang membolak-balikkan lembaran demi lembaran bukunya. Fatah, ya dia Fatah, yang biasa dikenal juga dengan julukan Fatah si kutu buku. Julukan ini diperoleh karena keseringannya bergaul dengan buku-buku. Dan teman-teman karib yang biasa bercanda tawa dengannya, sudah ada kesibukan lain, yaitu senang-senang dengan kekasihnya masing-masing. Lantas, Fatah tidak pernah merasakan kesepian. Sebab, telah ada yang menemaninya malah lebih dari teman biasa, tidak lain adalah buku-buku itu sendiri.

Mula-mula, pandangan yang tadinya fokus pada setiap kalimat di barisan buku Sejarah Madinah, kali ini terganggu begitu saja, fokusnya beralih pada suara tawa kecil yang tak jauh dari tempat duduknya.

“Ada apa dengan perasaan ini?” Gumam dalam hati.

“Melihat matanya, membuat aku ingin berada di sampingnya, menemani dia bercanda dan menyela-nyela kata di antara tawanya,” semakin terhanyut saja hati Fatah.

Bukunya tetap dibuka, tapi bukan untuk dibaca, melainkan sebagai penutup muka, sembari curi-curi pandang pada seorang gadis yang sedang bersenda gurau dengan sekumpulan temannya. Sekarang, Fatah tidak heran lagi pada keputusan yang telah diambil oleh teman-temannya; membagi hati dengan keturunan ibu Hawa, sampai lupa pada sekitar, seperti dirinya yang membagi hatinya dengan buku-buku.

Bel kampus sudah berdering, lalu-lalang mahasiswa hendak masuk pada masing-masing kelas mereka. Beda dengan Fatah, tidak seperti biasanya. Pandangannya seakan tak mau lepas sedetikpun dari langkah gadis yang belum dikenal sama sekali. Diam-diam dia membuntutinya. Sehingga tanpa sadar kakinya telah tercebur pada genangan air bekas hujan tadi malam, sepatunya basah. Gadis itu sudah masuk dalam kelasnya.

Setelah mengetahui bahwa gadis yang begitu mudahnya membuat Fatah terpesona, adalah juniornya, prodi yang sama, Sastra Indonesia.  Ada suntikan semangat yang begitu kuat. Ingin dia berloncat-loncat seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan oleh orang tuanya. Namun, ia masih ingat umur. Fatahpun masuk ke kelasnya dengan suasana hati sangat gemirang.

Jedddaaarrr… suara hentakan bangku cukup keras, sehingga memaksa Fatah menoleh seketika. Terkejut.

“Hey, Fatah! Melamun kamu ya?” Salman, teman Fatah menepuk punggungnya.

“Ayo pulang! Jam kuliah sudah berakhir dari tadi,” lanjut Salman seraya beranjak keluar dan menunggu Fatah di depan pintu kelas.

“Haaah, yang benar!” Fatah tersentak sekali. Dia pun langsung bergegas pulang.

Kampus sudah tampak kosong. Dilihatnya kelas sang gadis misterius tak menyisakan siapa-siapa lagi, hanya bangku-bangku sedikit tak rapi yang tetap setia dengan tempatnya.

“Siaaaal, pakek melamun lagi,” lirih hatinya menyalahkan dirinya sendiri.

Masih dengan kebiasaannya, baca-baca buku sehabis tiba di rumah. Dibukanya helai demi helai lembarannya. Tapi, sikap aneh mulai muncul. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, sudah sampai pada bab keempat, kembali lagi ke bab ketiga. Semakin cepat saja dia membolak-balikan helai demi helai kertas, ada rasa kesal disetiap kali tangannya menyentuh lembaran itu. Akhirnya, buku ditutup. Tubuhnya direntangkan di atas kasurnya.

Tak ada gairah lagi untuk membaca, menatap rak bukunya saja rasanya sudah enggan.

“Oh iya, bagaimana kalau aku kirimkan surat saja padanya,” bisiknya.

Tak perlu menunggu lama. Fatah langsung menyambar bulpen beserta buku tulis kosong. Ia mulai mecari-cari kata yang cocok untuk tahap perkenalan. Beberapa kalimat sudah menghiasi kertas. Tapi, tak sampai dua baris, Fatah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mencoret kalimat yang sudah ditulisnya tadi. Begitupun seterusnya.

Hampir lima lembar hanya coretan saja yang ada. Baru, setelah hampir memakan waktu tiga jam, jadilah dua baris kalimat sebagai perkenalan dengan gadis misteriusnya. Syahdan, Fatah mengambil kertas kecil berwarna putih, lalu menulis kembali dua baris kalimat yang sudah siap itu. Kemudian dia melipatnya sehingga membentuk seperti bunga.

“Huuuft, akhirnya, selesai juga.” Lega terdengar dari suaranya yang lepas.

Di taman kampus. Hanya memegang buku yang tertutup. Dirinya bergetar, berpeluh-peluh dan hatinya berdebar-debar. Kertas yang sudah dilipat menjadi seperti bunga, berdiam anggun di saku bajunya. Sesekali Fatah mengintipnya, takut hilang. Sungguh penantian yang amat lama baginya, padahal baru lima belas menit.

Setengah jam berlalu. Kayaknya langit belum merestui Fatah. Rintik hujan sedikit demi sedikit merinai, semakin besar bulir-bulirnya, tambah cepat turunnya. Hujan mulai lebat. Sepertinya, Fatah harus mengurungkan niatnya, setelah hujan hampir seharian tak kunjung reda.

Besok libur. Tapi Fatah masih pergi ke kampus, mengharapkan gadis itu mengikuti kegiatan tambahan. Namun, tak sesuai yang diharapkan. Dihari berikutnya, Fatah datang lebih awal. Memesan camilan-camilan biar menemani penantiannya yang tak kunjung sampai. Masih di tempat yang sama, tempat yang hampir menjadi awal perubahannya.

Berdatangan gadis-gadis kampus, begitu banyak. Tapi, tak terlepas satu gadispun dari pengawasan Fatah. Kendati begitu, gadis yang ditunggu-tunggu belum juga tampak batang hidungnya. Sampai bel berdering. Kelasnya pun Fatah kunjungi. Hasilnya tetap sama. Gadis misterius, keberadaannya juga demikian. Fatah tampak gelisah.

Baru pertama kalinya, Fatah mengingkari status kutu bukunya. Sudah empat hari dia keluar dari kebiasaan, hanya dikarenakan tatapannya kepada sesosok gadis yang namanya saja belum ia ketahui.

Masih dengan hari-hari yang sama. Hari penantian yang tak kunjung ada hasilnya. Hening Fatah yang biasanya pertanda keasyikannya membaca, berubah menjadi isyarat pikirannya melayang-layang, tak ada pangkal akhirnya. Dua minggu telah usai. Belum redup penantian Fatah.

Ada yang berbeda di hari ke

empat belas. Salman, sahabat terdekat Fatah turut menemani penantiannya. Sejatinya, Salman belum mengetahui keadaan Fatah, hanya saja dia  merasa kasihan akan perubahan drastis pada sahabatnya itu, yang sering termenung tak ada sebab-sebab yang jelas.

“Ini dimakan, bos!” Salman sambil menyuluhkan camilan pada Fatah.

“Hahahaaa, bas, bos, bas, bos,” camilanpun disambarnya.

“Terima kasih, Bro.”

Salman coba-coba melucu, agar bisa menghibur. Fatah paksa-paksa tertawa, menghargai usaha. Sampai keadaan dirasa sudah mencair, Salman memberanikan diri untuk bertanya tentang apa yang sedang dialami sahabatnya itu. Namun, tidak ada jawaban sepatah katapun darinya.

“Hai, Fatah! Fatah!” digoyang-goyangkannya tubuh Fatah.

“Fatah! Fa,” Salman terpaksa berhenti, setelah air mata Fatah keluar, mengaliri kedua pipinya.

Lantas, Fatah langsung menarik lengan Salman, untuk beranjak dari tempat duduknya, menuju tempat parkir yang masih terlihat jelas taman kampus bila dilihat dari sana.

“Ada apa denganmu, Fat?” tanya penasaran Salman.

“Lihatlah di sana!” jari telunjuk Fatah mengarah pada dua sejoli yang sedang bermesraan di kursi taman.

“Iya, aku lihat. Yang cowok, putera rektor kampus sini, Azam namanya. Yang cewek, Aida, tunangannya. Emangnya kenapa?” tanya lagi Salman.

“Hahahah, cuma gak enak saja, Bro,” coba menyembunyikan nafasnya yang mulai sesak.

“Terus, apa arti air…” tak bisa diteruskan, saat Fatah keburu pamit pergi.

“Oh, iya Bro, saya masih ada urusan di rumah, aku pulang duluan ya,” pamit Fatah.

Betapa mungkin bahagia, setelah cukup lama menanti untuk menyampaikan salam cinta, malah setibanya dia membawa kabar duka. Bagaimana bisa tidak merana, cinta yang timbul tiba-tiba, harus pupus begitu saja. Alangkah jadi tidak sengsara, baru saja membuka pintu cinta, belum melangkahpun, pintu telah ditutup dengan paksa.

Entah, sekarang Fatah merasa cahaya adalah api yang akan membakar kebahagiannya, setiap langkah yang ingin dia lalui terasa tak mampu dilewatinya. Gelap adalah kesesatan, yang membuat langkah-langkahnya percuma saja, ujung-ujungnya adalah kesalahan. Oleh karena demikian, Fatah lebih memilih mengurung dirinya dalam kamar.

Menatap tajam pada replika bunga. Ingin sekali Fatah merobek-robek, tapi ada sesuatu yang menghalang-halangi. Semakin dia ingin, air matanya tambah deras mengalir. Tak kuasa rasanya. Lalu, dibiarkan saja kertas itu berserakan di tempat tidurnya.

“Hahah, lucunya diriku,”  lirihnya.

“Mengapa aku harus repot-repot menangis? Huuuuuuuft, cinta tak waraaaaaaas,” marah-marah dengan nada yang keras.

Atau pikirannya yang sedang tak waras. Begitu lelahnya, perlahan pikirannya kabur. Kabur menuju alam bawah sadar. Terlelaplah si kutu buku.

Baca Juga : Di Balik Topeng Bidadari

Ayo Komentari

komentar