Damai Santri Dalam Segelas Kopi

0
44
Sumber Gambar : http://capslocknet.com

Di pesantren ada secuil rutinitas di luar kegiatan wajib santri yang sering kali dianggap sebagai hal negatif atau diremehkan oleh beberapa pihak. Bukankah ini merupakan sikap ringan (yaitu sekumpulan atau tongkrongan santri, di tengah-tengah mereka ada satu gelas kopi yang diminum bergantian) untuk menambah kecintaan antar teman.

Memang, tidak seberapa dibanding santri yang dengan sabar mengikuti titah kiai, nyai dan ustadz, serta tidak ada nilainya dari para santri yang sampai bermandikan keringat untuk melaksanakan tugas-tugas dari pesantren dengan ikhlas. Tetapi, meski tidak terlalu banyak mengeluarkan usaha serta tenaga, dalam segelas kopi itu kita dapat menikmati dan akan menemukan pentingnya kebersamaan yang akan menjadi kenangan dan pelajaran sampai akhir hayat kita.

Ada empat hikmah yang dapat kita petik dari rutinitas tersebut, di antaranya sebagai berikut:  

Pertama,

Menumbuhkan jiwa santri.

Meski sudah berstatus sebagai santri, belum bisa menjadi tolak ukur bahwa dia sudah berjiwa santri karena kita tahu bahwa seorang santri harus memiliki pancajiwa yang menjadi syarat guna berperilaku layaknya seorang santri itu sendiri. Salah satu pancajiwa itu adalah memiliki sifat kesederhanaan. Sedangkan dalam kegiatan ngopi di atas, adalah segelintir sikap untuk menumbuhkan jiwa yang sederhana. Betapa tidak, beberapa ludah dari beberapa mulut tercampur dalam satu gelas kopi (gelasnya terbuat dari plastik, lebih pasnya gelas air mineral), serta tanpa ada rasa jijik sama sekali, luar biasa. Kemudian bandingkan dengan pelbagai tempat kedai kopi atau sebagainya, niscaya akan mendapatkan kata yang tidak begitu indah, gengsi banget, jijik, atau semacamnya.

Kedua,

Berbagi rasa dan cita.

Keseringannya ngopi bareng, dengan tidak disengaja ataupun disengaja mereka akan meluapkan curahan hati, baik itu sifatnya pribadi atau umum. Maka, diantara mereka akan memberikan solusi walaupun melalui gurauan semata. Lalu tidak menutup kemungkinan akan adanya dari mereka yang balik mencurahkan isi hatinya juga. Apabila sudah tidak ada pembahasan lagi, biasanya pembicaraannya akan lari ke mana-mana sampai tidak ditemukan titik jelasnya. Terkadang juga saling menumpahkan keinginan hendak jadi siapa di hari tua nanti, darinya tongkrongan itu menjadi tempat berpikir santri untuk kelanjutan hidupnya masing-masing, ada yang termenung karena memikirkan status keluarga yang melarat di rumah, ada yang tersenyum karena merasa bahagia mendapatkan teman-teman yang diyakini peduli padanya, dan ada yang tertawa terbahak-bahak karena mungkin merasa belum saatnya memikirkan sedemikian rupa. Kemudian akan datang motifasi-motifasi bagi mereka yang susah berjalan menuju hari di mana masih sama-sama belum diketahui karena alangkah tidak relanya bagi teman sejati melihat temannya yang telah dianggap saudaranya sendiri dihanyut arus kesusahan yang amat deras dan panjang.

Ketiga,

Membentuk tali cinta.

Memang pada awalnya hanya anggapan kosong, tidak ada makna sama sekali. Akan tetapi dari waktu ke waktu secara disadari ataupun tidak, mereka telah sedikit demi sedikit membentuk hubungan batin antar satu sama lainnya. Misal, ada tujuh orang setiap kali nongkrong, lalu pada hari tertentu satu orang tidak ikut ngopi bersama, maka secara spontanitas diantara mereka menanyakan keberadaannya sebagai bentuk kepeduliaannya. Dilihat dari aspek itu, apa lagi kalau bukan rasa cinta mereka terhadap yang lain? Sebab, sudah ada tali penghunbung di antara mereka. Masih ada banyak lagi contoh-contoh yang menggambarkan tali cinta mereka; saling menjaga kesehatan masing-masing, melindungi hak-hak pribadi, sampai kalau ada yang duka, maka yang lain ikut berduka, ada yang sakit hati, yang lain ikut merasakannya.

Keempat,

Bekal masa mendatang.

Sebuah landasan yang dapat dibawa untuk kehidupan di luar pesantren nanti (sudah menjadi alumni pesantren; baik sudah berkeluarga atau belum) adalah jiwa sosialnya. Rasa kebersamaan yang selalu dijunjung tinggi, guna menghindari sifat egoisme dan sifat angkuh (kalau menurutnya merah, tidak boleh ada yang hitam atau lainnya). Sehingga dalam menjalani hidup di hari tuanya mengangkat dan memprioritaskan musyawarah mufakat, baik urusan keluarganya atau organisasi lain. Apabila ditimpa kemelaratan dalam mencari pekerjaan, kesusahan bertahan hidup di tanah rantau, maka kalau sudah terlatih rasa keperihatinan mereka, tentu dari mereka akan memberikan jalan keluar atau lowongan pekerjaan, dan untuk berikutnya tidak menutup kemungkinan hidupnya akan terasa mudah malah lebih dari mudah.

Hikmah di atas niscaya akan terwujud, asalkan tingkah laku saat ngopi, yang tidak hanya menjadi tempat pelarian untuk tidak mengikuti kewajiban pesantren atau cuma memanfaatkan mereka (yang lebih dari segi ekonominya) untuk diambil untungnya saja, serta tahu waktu dan kodisi pesantren. Kalau sedemikian itu dilaksanakan dengan bijak serta diselingi dengan beberapa kegiatan, semisal ada sesi diskusi, membaca kitab kuning, dengan lambat laun semua pihak akan menaggapinya sebagai bentuk positif yang harus ditiru dan malah bisa jadi hal yang dianjurkan oleh pesantren untuk mengisi jam kosong santri.

Baca Juga : https://www.formasirua.or.id/mthahir/kupas-makna-antara-kopi-dan-rokok/

Ayo Komentari

komentar

BAGIKAN
Postingan SebelumnyaRevolusi Kenabian
Postingan BerikutnyaIncest ; Hukum Adat Bali
Santri aktif RUA di asrama Lembaga Bahasa Arab sekaligus Mahasiswa STIRUA Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia.