Di Balik Topeng Bidadari

0
1215
Sumber Gambar: dark.pozadia.org

Di depan rumah temanku, meja bundar dikelilingi lima kursi adalah tempat favoritku di pagi hari. selain terik mentari yang menyejukkan, ada maksud lain. Seorang gadis penjaga toko busana, yang selalu menentramkan hati, bak seorang bidadari. Bermacam warna camilan tertata berantakan di atas meja, botol air mineral ukuran satu setengah liter melengkapi keberadaan. Aku bersama Adi, duduk santai menikmati sinar mentari, bercanda tawa sambil makan, saling menukar cerita karena selama tujuh tahun tidak bersua. Akan tetapi, suasana berganti hening sejenak, saat tatapanku tertuju pada seorang gadis yang membuka pintu toko.

“Zami…!” Adi memukul pundakku, seraya menyadarkanku dari lamunan. Aku tundukkan kepala tersipu malu.

“Kamu tahu, siapa dia Zam?” Tanya Adi, mengganti topik pembicaraan, aku hanya menggelengkan kepala.

“Gadis itu namanya Fatin, dari desa sebelah,” Adi memberitahuku, akupun menyimaknya dengan baik.

“Sudah tiga lelaki yang datang ke rumahnya untuk melamar. Tapi, dia tolak semuanya.” Waduuh, mendengarnya hatiku melemah.

“Tapi, Zam. Kamu kan sudah tujuh tahun yang mondok. Aku yakin kamu bisa mendapatkan hatinya,” Adi menyemangatiku. Tapi, ada kalimat yang menjanggal hatiku.

“Terus, apa hubunganya dengan aku yang sudah mondok Ad?” tanyaku penasaran.

“Hahahaaa, itu. Apa namanya? Eee… pokoknya bacaan-bacaan yang bisa menarik kasih sayang wanita itu Zam,” Adi sambil tertawa, isyarat bercanda biar aku tak tersinggung.

“Haha, ada-ada saja kamu Ad,” aku membalasnya. Pembahasan si Fatinpun dilupakan. Rembulan menggantikan tugas sang surya, langit malam sudah nampak dengan gemintangnya. Suara azan Isya’ dikumandangkan, aku dan kedua orang tuaku bergegas mendirikan salat berjamaah. Sehabis salat, aku langsung ke kamar tidur merebahkan tubuhku. Tapi, aku teringat pada percakapanku dengan Adi tadi pagi, yang memaksaku mengurungkan istirahatku. Lantas, aku membuka rak buku, aku ambil kertas putih yang terselip di dalam kitab kuning.

Kertas putih telah ada di tangan, tertulis tebal kata Mahabbah di bagian atas kertas. Belum aku lanjutkan membaca, pikiranku tertuju pada gadis cantik yang diam-diam kumencintainya. Tapi, aku ragu dia akan menerima karena sudah ada tiga lelaki yang ditolak. Aku tidak ingin seperti mereka, tanpa basa-basi aku mulai  mengamalkan isi dari kertas itu.

Jam sudah menunjukkan pukul 02.30 WIB, aku minum segelas air putih dengan duduk bersila di atas sajadah menghadap ke barat di dalam kamarku. Aku mulai membaca isi kertas tadi, berbahasa jawa tidak lebih dari dua puluh kata. Namun, dibaca sebanyak sepuluh ribu kali. Saat Subuh tiba, istirahat sejenak untuk melaksanakan salat. Setelah itu, kembali membacanya sampai pukul 07.30 WIB, kemudian salat Duha empat rakaat. Tidak boleh makan dan tidur selama tiga hari, hanya boleh minum segelas air putih ukuran 200 mililiter dan itupun sekali, hanya di pukul 02.30 WIB.

Hari pertama berjalan lancar. Hari kedua hanya kebingungan mencari alasan ketika bunda menyuruhku makan bersama karena sebelumnya aku telah memberi tahu bahwa aku sudah makan di rumah Adi. Terpaksa, aku menjawab dengan alasan yang sama, aku tak menghiraukan meski bunda mulai tak percaya. Tubuhku mulai lemah, perutku sangat pedih seperti tersayat pisau, tenggorokan kering, pikiranku pusing. Tapi, aku tahu ini adalah hari terakhir, aku tidak boleh gagal.

“Fatin, Fatin, aku akan buktikan bahwa kau akan mencintaiku,” lirih hatiku mantap.

Pukul 02.30 WIB keadaan rumah mulai gaduh. Seusai minum air, tanganku sangat gemetar sampai tak kuasa mengangkat gelas kaca hingga terjatuh ke lantai.

Cttaaaar…. suaranya pun membuat bunda dan ayahku bangun terkejut.

“Zami, engkaukah itu?” suara ayah dari kamar tidurnya.

“Iya Yah, ini Zami,” jawabku.

“Nak, apa yang engkau lakukan malam-malam seperti ini?” Bundaku keluar, menghampiriku dengan wajah memelas.

“Cuma gelas pecah bu, Zami haus soalnya,” jawabku singkat. Meski, sebenarnya tak tega melihat wajah bunda yang seperti itu.

“Hati-hati, Nak.”

Bundaku langsung ke kamar mandi mengambil wudu untuk melaksanakan salat tahajud. Akupun kembali ke kamar untuk melanjutkan misi terakhir. Setengah jam berlalu, diriku terasa digoncang, hawa panas menyelimuti. Kendati begitu, aku yakin ini hanya rintangan belaka. Betapa senangnya saat aku dengar azan subuh berkumandang. Aku bisa beristirahat sejenak untuk melaksanakan salat subuh. Sebelum keluar dari kamar, aku masih menabrak pintu yang mebuat pelipis kiriku memar. Tapi, untung saja orang tuaku tidak mendengar.

Setelah salat, aku melanjutkan ritualku, pintu kamar kukunci dari dalam biar tak ada yang mengganggu. Kubilang pada bunda dan ayah, bahwa aku harus istirahat, nanti siang aku ada acara bersama teman. Akupun memulainya, sambil kututup mataku tanpa melihat kertas karena dirasa telah kuhafal baik. Berjalan sepuluh menit, aku merasa ada yang menarik tubuhku dari belakang, aku tahan. Kedua pahaku seakan ada benda besar yang membebani, sangat berat, setelah dilihat, ternyata tidak ada apapun. Sungguh, sebenarnya aku ingin menangis, menyerah, tapi paras Fatin yang begitu indah, membuat aku urungkan semua.

Bacaan kesupuluh ribu baru saja selesai, kakiku tak bisa digerakkan. Tapi, aku terus memaksanya dengan keras, akhirnya bisa meski harus tertatih. Pintu kubuka pelan, kemudian langsung ke surau untuk salat Duha.

Grebbek… aku jatuh tersungkur setelah turun dari surau. Badanku tak lagi bisa digerakkan, masih sempat aku paksa tapi tak bisa. Kejadian inipun mencuri perhatian bunda yang sedang menjemur pakaian.

“Astaghfirullah, Zami anakku.” Tanpa memperdulikan cuciannya, bunda langsung berlari ke arahku.

“Ayo, Nak,” bunda mengangkatku, lalu membaringkanku ke kamar tidur.

“Nak, wajahmu pucat sekali. Bunda ambilkan air dulu ya,” bundaku mengambil air cepat.

“Minumlah Nak!” sambil menyuluhkan segelas air putih ke mulutku karena melihat butir-butir air mata bunda yang menyentuh kedua pipiku, membuatku tak bisa lagi melanjutkan ritualku, akupun meminumnya. Syahdan, bunda menyuapiku nasi, begitu enaknya sampai aku terlelap.

Aaghh…. Aku terbangun dari tidurku, ketika tangan kananku menyentuh pelipis kiriku yang memar.

“Sudah bangun Nak? Itu temanmu, Adi, menunggumu sejak tadi.”

“Di mana Adi sekarang Bu?” tanyaku.

“Ada di ruang tamu bersama ayahmu, Bunda panggilkan dulu ya nak?”

“Iya Bu.” Ibu langsung keluar memanggil Adi. Tak lama, Adi masuk ke kamarku dengan raut muka terkejut. Adi tampakkan ketika melihat tubuhku yang lemas penuh luka memar.

“Zam, kamu masih bernyawa ya?” sambil meletakkan tangan kanannya ke dadaku. Aku hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum. Aku memahami betul siapa Adi, meski masalah segentig apapun dia masih bisa bercanda.

“Oh, iya Zam, kamu tahu bagaimana keadaan Fatin sekarang?” mendengarnya, hatiku sesak sekali.

“Tolong Ad, jangan sebut namanya di hadapanku, aku telah gagal dalam ritualku. Aku sangat tersiksa hanya untuk mendapatkan cintanya,” aku terpaksa berbicara, walau suaraku sangat berat.

“Iya, iya aku mengerti Zam. Tapi, kamu beruntung tidak menyelesaikan ritualmu. Boleh aku melanjutkan?” rasanya aku sangat penasaran ingin tahu ada apa gerangan. Lantas aku mengaggukkan kepalaku, Adipun meneruskan.

“Pemilik toko busana di depan rumahku kehilangan uangnya sebesar dua setengah miliar, emasnya sebanyak lima ratus gram. Pemilik mencurigai Fatin yang mencuri semua karena sejak hari kejadian itu Fatin tidak pernah menampakkan dirinya. Ketika ingin menggeledah rumahnya, ternyata itu rumah sewaan. Kata pemilik rumah, Fatin dan bundanya telah pergi sejak tiga hari yang lalu. Akupun sekarang sangat membencinya, dikarenakan dia pula, kamu sampai tergeletak seperti ini Zam,” dengan tegas Adi menyampaikan semua, seakan telah membuang beban yang sangat berat dari kepalanya. Adi langsung memelukku manja,  kelihatannya ia sangat lega sekali. Aku tersenyum melihat semua kebenarannya.

“Alhamdulillah,” lirih hatiku penuh syukur, kedua mataku berlinang air mata.

“Betapa beruntungnya aku, masih memiliki kedua orang tua beserta sahabat setia,” gumamku dalam hati. Kini, pikiran akan Fatin pun sirna begitu saja.

“Jangan lama-lama yang sakit Zam,” sambil tersenyum sinis.

“Hahaha,” tawanya menyejukkan hatiku.

“Semoga cepat sembuh Zam, aku merindukan pagi bersamamu di meja bundar depan  rumahku,” lanjut Adi.

“Amin Ya Rabbal Alamin,” sahutku.


Pramian, 07 Mei 2017

***
Juara 2 kategori Cerpen: Lomba Menulis “Membangun Literasi Santri Bersama FORMASI RUA” dalam rangka 2nd Anniversary FORMASIRUA.OR.ID.

Ayo Komentari

komentar