Hikmah Nasi Goreng

0
89
Sumber Gambar : https://www.goodnewsfromindonesia.id

Banyak doa, banyak usaha harus dilaksanakan untuk menggapai cita-cita, meraih impian menuju kesuksesan dan direstui Tuhan, karena usaha tanpa doa adalah kesombongan, dan doa tanpa usaha hanya omong kosong belaka.

Kita tahu itu, tapi acapkali terjadi di lingkungan kita, ibadahnya khusuk, rajin, tidak pernah bolong, doa selalu dihaturkan, pula usaha sepenuhnya dilakukan dengan baik. Diri pas-pasan semisal, hanya penjual nasi goreng di pinggir jalan, karena ingin anaknya menjadi terpelajar, dan tidak mau sepertinya, si penjual mati-matian bekerja siang malam, di setiap langkahnya akan terselip doa untuk kesuksesan anak-anaknya, disekolahkan di lembaga terpercaya, diikutkan kursus kilat di kursusan ternama.

Namun, saat anak sulung mulai menginjak satu langkah di jalan kesuksesan, ayahnya sakit-sakitan, biaya belajarnya terhambat karena telah digunakan membeli obat ayahnya, ibunya pula tidak begitu sehat seperti sedia kala. Masa depan anak pun mulai terganggu memikirkan keadaan keluarga, kedua orang tuanya, adiknya yang masih belia, dan dirinya selaku anak tertua dari dua bersaudara.

Puncaknya, ketika sang ayah telah menghembuskan nafas terakhirnya. Dari waktu itu si anak mau tidak mau tidak harus menjadi tulang punggung keluarga dan terpaksa tidak meneruskan sekolahnya.

Tidak dapat dielakkan, sang anak mengeluh bermuram durja menagih pada Tuhan. Tuhan, apakah ini balasan yang harus diterima oleh kami? Patutukah ini semua? Apalah arti keringat kedua orang tua yang mati-matian membiayai sekolahku? Kalau pada akhirnya seperti ini. Namun, dia merasa Tuhan tidak menjawab waktu itu.

Dari sini, saya akan mencoba mengingatkan sedikit Firman, bahwa Tuhan tidak memberi sesuatu apapun pada hamba yang dicintai atau dibenci-Nya, melainkan Dia akan memberi pada hamba yang dikendaki-Nya.

Pasti ada alasan tertentu di balik segala kejadian dan keputusan. Melihat peristiwa sang anak di atas, masih samar alasannya. Namun, setidaknya telah terbukti bahwa itu sudah kehendak Maha Kuasa atas segala, bukan karena Dia mencintai ataupun membenci.

Betapa banyak hamba mengharapkan kelipatan hadiah dari Tuhan, tapi sedikit hamba yang meraihnya. Berbicara alasan mengapa si anak bernasib seperti itu, Wallahu a’lamu bisshowab.

Namun, saya berkeyakinan bahwa Tuhan sedang menikmati doa-doa yang selalu terhaturkan, semangat yang terpatri dari benak, dan hadiah besar sudah barang tentu disediakan Tuhan.

Keluh kesah sudah biasa untuk meratapi nasib yang belum biasa dan luar biasa kalau bisa mensyukuri atas segala apa yang menimpa. Sang anak sedang menjalani nasib yang tidak diharapkan, tetapi mengeluh tidak menerima, menolak tidakdir yang ada, dan bermasam muka, apakah dengan semuanya bisa merubah keputusan yang ditentukan Tuhan? Bukankah itu malah akan memperkeruh keadaan?

Begitu indah sinar rembulan, dia menampakkan dirinya setelah awan tebal menghalangi hampir suntuk satu malam, asrinya dunia membuat hati berbunga. Dan saya belum tahu bagaimana perasaan si anak sesudah melihatnya, masihkah dia bersedih? Belumkah cahaya langit mengetuk pintu hatinya?

Alangkah telah terjadi sebuah tragedi, seorang pelajar sukses dalam pencapaiannya, banyak prestasi didapati, sampai luar negeri bebas biaya dia sebrangi. Sayangnya setelah menjadi orang besar dan diakui, dia lupa terhadap guru dagingnya sendiri. Banyak terbukti, seorang pejabat maupun pengusaha, limpahan uang mereka hasilkan, namun karena sibuknya sampai tidak ingat waktu beribadah, juga merasa kurang dan masih kekurangan harta meski sudah tidak terhingga.

Bagaimana mereka bisa menikmati hidup yang hanya sementara?

Oh, lihatlah nasi goreng itu! Amat tidak asing kita dengar, pekerja paling bodoh adalah penjual nasi goreng, nasi sudah masak, kok dimasak lagi. Namun, bukankah terciptanya nasi goreng adalah sebuah keajaiban? Betapa tidak, terciptanya saja harus melewati berbagai rintangan yang panas. Makanya, kita harus mengapresiasi karya seni yang satu ini.

Nasi sudah masak, kita bisa langsung memakannya. Tapi, Tuhan tidak menghendaki, malah Dia datangkan petunjuk yang aneh, masaklah nasi yang sudah masak itu! Lalu kepikiran, begitu jahatnya Tuhan, mengapa kita tidak dianugrahi nasi putih ini, mana imbalan yang kita terima, malah disuruh untuk memasaknya lagi, betapa itu akan lebih membingungkan dan merumitkan kita.

Dengan demikian, tidak ada pilihan lain, selain menerima dan melaksanakan, agar selalu dalam kecintaan dan keridaan-Nya.

Nasi goreng adalah sebuah adikarya, ia tetap nasi namun tidak seperti nasi pada umumnya. Nikmat tidaknya tergantung lidah masing-masing. Yang terpenting saat memakannya ada rasa yang berbeda dan luar biasa. Setidaknya dengan itu sang anak akan menerima dan melaksanakan segala keputusan Tuhan, serta yakin pasti ada rasa yang tidak biasa akan membelai jiwanya suatu waktu nanti.

Ayo Komentari

komentar

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here