Nadian

0
144
Sumber Gambar : https://encrypted-tbn0.gstatic.com

Gadis lugu berusia delapan tahun yang turut bersedih saat sang ibu ketahuan berselingkuh dengan lelaki lain, sampai tak dipungkiri, tibalah hari perceraian antara kedua orang tuanya. Gadis itupun mulai membencinya dan memilih tinggal dengan sang ayah.

Ruang kelas 3 SD, salah satu siswa perempuan membuat ibu kepala sekolah tak sampai hati, setelah penjelasannya dibantah mentah-mentah.

“Ingatlah anak-anak! Hormatilah ibu kalian! Karena surga itu ada di bawah telapak kaki ibu, maka…” seketika kalimatnya terhenti di waktu melihat siswinya berdiri dengan pandangan yang sinis.

“Salaaaah…..” suaranya keras, menggema seantero kelas.

“Tidak mungkin surga itu berada di bawah kaki seorang penjahat dan tidak akan pernah dipercaya, Bu!” lantang sekali siswi itu berkata, mengejutkan siswa-siswa yang lain, menggemparkan seisi ruangan, dan dengan terpaksa, diapun sampai dikeluarkan dari kelas.

Di bawah rindang pepohonan, duduk termangu seorang gadis kecil, menyepi di belakang sekolah. Dilemparnya batu-batu kecil ke depan sejauh yang ia bisa, isyarat tanda pikirannya sedang tak karuan.

“Apa tujuanku hidup, bilamana surga menghianatiku?” terbesit di dalam hatinya. Sembab matanya, sesekali disekanya air mata yang mulai mengalir di pipinya, suara sendu, tangis terisak-isak. Dedaunan percuma merayunya, dia sama sekali tak menggubrisnya.

“Nadian!” suara yang sangat akrab, menyibak pendengarannya yang lagi kosong. Namun, Nadian masih tak beranjak dari duduknya, tangisnya semakin menjadi-jadi, rambutnya dijambak-jambak sendiri, kacau sudah paras mukanya yang begitu manis.

“Ada apa Nadian?” tampak haru, ibu kepala sekolahpun turut duduk menemani, pula meniru duduk siswinya. Tapi, Nadian masih tertunduk tanpa sepatah katapun.

“Apa ada dari kata-kata Ibu yang menyakiti hatimu, Nad?” ada rasa penyesalan, seraya menggeser posisinya mendekati Nadian.

Akhirnya Nadian menoleh, lalu mendongakkan kepalanya, “Mengapa Ibu guru berkata surga ada di telapak kaki Ibu?”

“Memang begitu, Nad, itu adalah sabda Nabi kita!”

“Berarti Nadian tidak akan mendapatkan surga? Ini tidak adil Bu!” nadanya tinggi, mengejutkan gendang telinga.

Deght, Ibu guru terkesiap mendengarnya.

“Mengapa Nadian sampai berkata seperti itu?” tanya penasaran.

“Mama Nadian jahat Bu!” menampakkan kemarahan, kesedihannya mulai hilang setelah amarahnya hendak menyapa.

“Mama telah tega menyakiti hati ayah, dekat dengan lelaki lain, memilih yang lebih kaya, Nadian sangat membenci mama, Bu. Dia bukan orang tua Nadian lagi,” amarahnya pun membuncah.

“Sampai kapanpun Nadian tetap membencinya,” dia tundukkan kepalanya lagi, ditidurkan pada kedua lengannya yang menimpa pada kedua lututnya.

Tidak dapat dielakkan lagi, ibu guru yang duduk di sampingnya, turut merasakan kesedihan yang sedang menghinggapi Nadian, sampai tak terasa air matanya meleleh dengan sendirinya, mengalir pada kedua pipinya. Dia coba mengelus-elus pungung Nadian, seraya menenangkan. Direbahkannya tubuh Nadian pada dekapannya.

“Aduh malangnya gadis sekecil ini, harus menanggung masalah keluarga yang melemahkan dirinya,” terbesit dalam hatinya.

“Yang sabar, Nad,” diusapnya kepala belakang Nadian, setiap gerakan tangannya terselip doa, Ya Ilahana, berikanlah kekuatan padanya, amin.

“Ma…ma.afkan Nadian Bu, Na..na..dian.. bicara apa adanya,” sesegukan memisah kata-katanya.

“Tidak apa-apa Nad,” terus mengelus punggungnya.

“Nadian boleh menganggap Ibu sebagai orang tua Nadian sendiri kok,” menenangkan.

“La.. lalu, bagaimana dengan surga Nadian, yang telah disabdakan Nabi itu, Bu?” terpatah-patah.

“Nadian!” dikecupnya rambut Nadian, “Surga di telapak kaki ibu itu. Maksudnya, Nadian harus mematuhi mama Nadian, berbakti pada beliau, karena beliaulah yang menahan dan menanggung rasa sakit selama sembilan bulan, di waktu mengandung Nadian, menyusui, merawat dan memberikan kasih sayang tiada tara pada Nadian, karena Nadian bagian dari beliau.”

Seakan ada cahaya yang menembus hati Nadian. Dia mulai menyeka air matanya, namun masih ada yang janggal di hatinya.

“Terus! bagaimana kalau dia telah pergi dari kehidupan Nadian, Bu?”

“Beliau tidak akan pergi dari sini, Nad,” sambil mengarahkan jari telunjuknya pada dada Nadian.

”Ingatlah! Pada masa-masa beliau mengandung, menyusui dan merawat Nadian sampai bisa sebesar sekarang, tiada lain karena dengan kasih sayang beliau, Nad. Kalau sudah kenyataannya raga beliau jauh dari Nadian, Nadian harus selalu mendoakan yang terbaik untuk beliau. Sungguh, Ibu yakin beliau tiada akan pernah membenci Nadian sampai kapanpun. Serta jadilah anak yang terbaik! Yang bisa membahagiakan, berbakti kepada kedua orang tua, guru-guru, bangsa dan negara.  Dengan itu, Nadian telah merasakan bau surga kembali.”

Amboi, awan mendungpun yang menguasai hati Nadian mulai lenyap, curahan kata-kata telah mengusir jengkal demi jengkal. Bangkit sudah semangat yang terpendam selama ini, pula berterbangan asa dan cita, sayap-sayap lebar meneduh, Nadian riang seperti sedia kala lagi, sempurna dengan umurnya yang masih sangat dini.

Hening sejenak, silir semilir angin menari-nari, mata Nadian mulai membersit kerinduan akan belaian seseorang yang pernah sangat dicintainya.

“Ibu!” memecah kesunyian, “Nadian kangen sekali pada mama,” sambil memeluk gurunya erat.

Ayo Komentari

komentar

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here