Tarian Rindu Buat Hilya

0
349
Sumber Gambar : http://1.bp.blogspot.com

“Hilya! Sampai kapan kau begini, Nak?” suaranya mengiba, memecah keheningan di setiap ruang kesendirian Hilya. Namun, suasana hanya berubah sejenak. Isak tangis Hilya masih tetap menguasai. Tanpa ada dia yang menanggapi. Melihat anaknya yang berselimut kesedihan, orang tua mana yang tega membiarkan. Tidak juga dengan ibu Hilya, ummi Azizah. Semakin saja ummi mendekat ke tempat tidur, tempat Hilya merebahkan dirinya. Dielus-elusnya tubuh Hilya. Hilya tak hirau, bahkan dia memiringkan badannya, memalingkan mukanya dari ummi. Tiada kata pasrah ummi lampiaskan, meski air matanya tak terbendung lagi.

“Mengapa Hilya terus berlarut-larut, bersedih seperti ini, Nak?” lembut nadanya diiringi suara sendu sang ibu.

Mendengarnya, salah besar rasanya bila Hilya terus tak memedulikan umminya. Suara sendu itu murni, bukan dibuat-buat. Suara itu sedikit telah mengusir kesedihan Hilya. Sampai dia menguatkan diri, duduk dari baringannya. Dia cium tangan ummi yang sedari tadi mengelus tubuhnya.

“Ummi…!” dudukpun tak jadi, saat direbahkannya kembali tubuh Hilya di pangkuan ummi. Malah, tangis Hilya semakin menjadi-jadi. Dilihatnya pipi menua ummi telah bercadar genangan air mata. Ummi tetap tegar, seraya menyeka genangan.

“Anakku, Hilya! Ummi tahu kau tak terima, tapi ini bukan salah Zaki juga, Nak.”

“Tapi, dia telah berjanji untuk menikahi Hilya dan dia mengingkarinya begitu saja, Ummi.” Suaranya terisak-isak, kekecawaannya adalah awan mendung, kelam amat nasib yang sedang Hilya hadapi.

Ummi diam. Sengaja membiarkan anaknya berkeluh kesah, mengeluarkan semua perasaan mendalam yang selama ini terpendam. Punggung Hilya terus dielus-elus manja, seperti memijat punggung bayi kala dimandikan. Hening. Hilya masih meratapi. Tanpa ubah, ummi tetap semi sakti, seperti tahu semua apa yang harus dilakukan saat anak perempuannya mengalami sesuatu. Memang benar, ummilah yang paling mengerti. Buktinya Hilya, detik demi detik berlalu, rintik-rintik kesedihannya pun mulai menguap mengiringi alur detik-detik tersebut. Setiap elus adalah sebutir doa yang dipanjatkan. Kecewa mulai memudar, terhapus oleh arus doa yang mengalir terus.

“Hilya! Lihatlah, Nak!” sambil mengambil sepucuk surat dari sakunya. Hilya duduk kembali.

“Ini surat untuk Hilya!” diserahkan pada Hilya.

Pelan-pelan dibuka, penasaran rasanya.

Beberapa hari sebelumnya.

Janji adalah harga diri, bila dilanggar, cela pula harga dirinya, begitulah komitmen Zaki. Dan dengan itu dia mantap berkata kepada kekasihnya, Hilya, meyakinkan akan cintanya. Bahwa Zaki akan menikahinya. Tapi, takdir berkata lain, saat Zaki harus berpindah alur hidupnya.

Waktu itu hari Jumat. Pagi sekali, sawah-sawah masih dipenuhi kabut di atasnya seperti awan buatan. Jalan raya masih sepi dari lalu-lalang kendaraan. Orang-orang pun masih asyik berperang melawan hawa dingin yang mencengkeram, di balik selimut mereka tetap bertahan, pada masing-masing kamar mereka enggan berpindah haluan. Beda halnya dengan keluarga Hilya. Setelah mendapat kabar dari Zaki, bahwa tunangannya itu akan mengunjungi rumahnya nanti malam. Gegap gempita mendengarnya. Maka Hilya dan keluarganya sibuk mempersiapkan sesuatu buat sang pria idaman dan keluarganya tentu. Mulai masakan yang akan dihidangkan, tempat yang sebenarnya sudah rapi ditata kembali. Tampak paras mereka amat berseri-seri.

Saat sedang sibuk-sibuknya memotong rumput depan rumahnya, Hilya didatangi oleh seorang lelaki yang sangat ia kenal, Rahim, kakak Zaki. Disambutnya ramah si calon kakak iparnya. Namun sendu wajah sang kakak, membawa perasaan tidak enak untuk Hilya. Dan, nasib aduh nasib, memang nasib tak dapat diduga, nasib baik tak kunjung menghinggapi hati Hilya. Tidak juga sekarang, setelah berbunga hatinya sesaat, namun tak sampai bunga itu menghantarkan wewangiannya, bunga itu harus layu mengering, sesudah kabar duka menimpa calon suaminya.

Sesaat setelah mendengar kabar dari kakak Zaki. Tubuh Hilya langsung melemah, lunglai dan tenaganya terkuras habis, tanpa sisa. Penglihatannya kabur, ingatannya memudar, titik-titik air tak terhitung mengembuni, keluar dari setiap pori-pori kulitnya. Hilya langsung tak sadarkan diri, roboh tubuhnya di atas rerumputan yang menghampar. Sungguh malang nasib Hilya.

Malam Jumat

Baru  selesai Zaki menelepon, untuk mengabari tunangannya, bahwa besok malam Zaki dan keluarganya akan mengunjungi rumah Hilya, guna menentukan hari pernikahannya. Zaki keluar dari rumahnya. Dilihatnya awan malam, bintang-gemintang seperti prajurit saja, menyebar di setiap titik-titik langit, menjaga keutuhan rembulan tanggal tiga belas.

Namun, bukan mereka sejatinya yang Zaki lihat. Paras menawan kekasihnya, Hilya, seakan ditawan di setiap ujung penglihatannya. Pipinya melengkung ke atas, senyumnya tak tertahankan, mengingat wajah tunangannya yang selalu berseri, matanya memancarkan cahaya kesejukan, perangai lembutnya menambah keelokan dirinya.

Sungguh bergetar hebat jantung Zaki. Tiada angin tiada badai, mata Zaki sembab begitu saja, ada apa gerangan? Bukannya dia senang karena besok malam akan berjumpa dengan tunangannya. Malah, dia amat ketakutan, waswas, tak karuan pikirannya. Rasa kasih dan sayangnya untuk Hilya bertambah pesat dengan sekejap. Zaki teringat sesuatu. Entah kenapa, salah satu perkataan suci hadir, melambai-lambai dipikirannya, hatinya dibelai-belai manja namun menyakitkan bagi Zaki.

“Bila ada pertemuan, kan ada pula perpisahan.”

Batapa kalimat itu telah menyiksa diri Zaki. Tebersit padanya ketakutan, takut akan perpisahan itu lebih cepat dari yang dikira sebelumnya. Amat dahsyat jiwa Zaki bergoncang. Ingin dia memprotes, namun apalah daya bila itu sudah keputusan sang Kuasa.

Pandangannya memudar. Langit malam yang tadinya begitu mempesona, lain dengan sekarang. Hanya remang-remanglah yang dapat ia bias dari semua cahaya; gemintang, rembulan serta lampu-lampu rumah. Zaki pun langsung bergegas. Hendak berpindah ke dalam rumahnya. Langkahnya dipercepat, meski tertatih-tatih. Kepalanya tertekur dan mukanya muram. Gundah gulana bilamana teringat perpisahan.

Zaki masuk ke dalam kamarnya. Dia langsung duduk di meja belajarnya. Disambarnya pulpen beserta pasangannya, kertas putih. Hening. Suasana rumah sedang surut; kedua orang tua, dan saudara-saudara Zaki sedang dalam tidur nyenyak mereka. Pusing. Pikiran Zaki sedang berkecamuk, tarik menarik urat sarafnya.

Pipinya basah, menetes. Tetes pertamanya telah menyentuh kertas. Dan tidak lama dari itu, bulpen yang sedari tadi dipegang, diajaknya berdansa. Menari-nari di atas pentas putih yang sudah disediakan. Sampai jejak-jejak langkahnya membentuk rangkaian indah, kata-kata yang akan dikenang sampai akhir hayat seseorang. Segukan sesekali menemani setiap langkahnya.

Adindaku tercinta,

Hilyatin Nafisah

Sungguh tidak tahu kanda harus memulai dari mana sayangku, dan tak tahu bagaimana kanda mengatakannya. Betapa kanda mencintai adinda, sebenarnya itu saja yang ingin kanda ungkapkan.

Tapi, tolong diingat adinda! Setiap kesenangan, di sana ada kesusahan, setiap pertemuan ada pula perpisahan. Adindaku, kanda hanya memohon. Saat nanti kita berpisah, kanda harap adindaku tetap bahagia, bahagia dan bahagia. Kanda yakin masih banyak yang dapat mencintai adinda melebihi kanda. Jangan sampai sisa umur adinda dihabiskan oleh kesedihan yang menimpa.

Adindaku tercinta, bila tiba masa kanda. Kanda tak rela paras adinda sendu, itu hanya akan menambah beban buat kanda.

Oh iya, kandamu hampir lupa. Jangan nakal-nakal lagi ya sayang pada ummi. Dia wanita yang hebat sekali, beruntung adinda memiliki beliau, derita adinda akan dihapus oleh belaian ummi nantinya.

Adindaku yang paling kanda sayang. Kanda akan selalu merindu pada adinda.

Kandamu tercinta, Zaki Ramadlan

Pulpennya terlepas dengan sendirinya. Sesak nafasnya tersendat-sendat. Pikirannya mulai samar, hampir tak ada. Hilang begitu saja. Mulai dari ujung kakinya tak bisa ia gerakkan. Dengan perlahan mati rasa kakinya, terus dan terus menjalur ke atas.

Perlahan-lahan tangannya lunglai, terjatuh ke atas meja. Begitu juga dengan kepalanya, terebah begitu saja. Penglihatannya, masih terarah pada tulisan Hilyatin Nafisah. Syahdan, pikirannya berfungsi kembali, hanya tergambar temaram wajah wanitanya. Zaki tersenyum sedu, karena ia rasa, sebentar lagi tak bisa ia memandang kekasihnya kembali. Tak lama dari itu, pikirannya kabur begitu saja. Matanya pun terpejam perlahan. Pelan-pelan nyawanya terdengar tinggal satu-satu. Wajahnya indah, tetap, malah tampak merona melebihi biasanya. Dan, maut sudah menyapa. Dibawanya ruh Zaki ke tempat peristirahatan baru. Innalillahi Wainna Ilaihi Roji’un.

Setelah membaca surat

Seakan ada darah yang baru saja mendidih, menghilangkan segenap kepiluan yang melanda. Hilya yang tadinya berenang dalam kesedihan, sekarang sudah tak lagi, setelah ada penyemangat baru. Dia seka air matanya dengan seluruh jiwanya yang berkobar. Lalu hendak berilih.

“Kandaku tercinta! Adinda tidak akan mengecewakan kanda. Adinda bahagia kok, malah sangat bahagia, mengetahui kanda masih mencintai adinda dengan segenap hati. Dan tak akan lagi adinda membuat ummi menanggung semua kesedihan adinda.”

Mukanya yang elok kentara kembali, asri di mata ummi yang tetap setia menemani Hilya sedari tadi. Dipeluknya tubuh lemah ummi dengan rasa yang amat mengiba.

“Maafkan Hilya, ummi! Selama ini ummi harus menanggung semua kesedihan anak ummi yang durhaka ini.”

 

Ayo Komentari

komentar

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here