Tasawuf Ala Santri RUA

0
782
Sumber Gambar: nu-lampung.or.id

Ketika mendengar kata Tasawuf, kebanyakan orang akan membayangkan bahwa dunia tasawuf tak ubahnya dunia di atas awan yang jauh dari jangkauan kita di bumi. Bagi kebanyakan kita, orang-orang sufi adalah manusia yang hidup  serba tertutup di atas menara gading, tak tersentuh oleh hal-hal duniawi, terjauhkan dari dosa-dosa, dan karena kekeramatan, kesaktian, dan beragam hal luar biasa senantiasa terpancar dari diri mereka.

 

Besar kemungkinan, menggambarkan dunia tasawuf dan orang-orang sufi seperti itu karena mereka hanya melihat pada bentuk. Namun, tidak memahami secara esensi. Akhirnya menganggap dunia tasawuf begitu asing dari kehidupan mereka dan orang-orang sufi tidak bisa hadir dalam kehidupan sehari-hari mereka. Jika sudah demikian, maka angan untuk menjadi seorang sufi sama sekali tidak akan hadir dalam cita-cita mereka.

 

Tentang kesalahpahaman di atas, hanya karena mereka belum mengetahui bagaimana cara bertasawuf. Menilik sedikit perkataan almarhum KH. Chalid Elbushairi AM yang menyebut tanah RUA dengan nama Bumi Tasawuf, merupakan kependekan kata dari Tahlil, Shalawat, Wirid dan Ukhuwah fii Sabilillah. Secara tersirat dengan empat elemen tersebut, almarhum menginginkan para santri RUA mudah dan tidak enggan bertasawuf.

Tahlil

Secara kasat mata, Tahlil adalah bacaan-bacaan yang diawali oleh beberapa tawassul diakhiri dengan doa. Namun, secara abstrak tahlil ini merupakan aktifitas untuk mendekatkan diri kita kepada Allah dengan mengesakannya. Betapa tidak, di antara bacaan tahlil ada yang paling sentral, inti, yaitu lafad laa ilaaha illallaah (tiada tuhan selain Allah). Setidaknya bisa diartikan, tidak ada yang bisa menghamba selain kepada Allah dan tidak terpengaruh dengan nafsu-nafsu setan yang terus mengganggu. Tidak ada yang boleh menguasai kita, tidak ada yang boleh menjajah kita, tidak ada yang boleh memaksa kita, tidak ada yang boleh mengancam kita, dan tidak ada yang boleh merekayasa kita selain Allah.

 

Pengaplikasian tahlil, kita bisa melihat pada ibadah-ibadah, sebut saja salat. Tanpa melihat di mana, bersama siapa, kenapa, kita harus melakukan salat semata-mata untuk Allah.

 

Shalawat

Menghaturkan shalawat pada nabi akhir zaman Muhammad SAW, dengan untaian kata-kata pujian, seperti halnya kita menuang air ke wadah yang sudah penuh, kita akan dilampaui tumpahannya, malah lebih dari yang kita tuang. Hal itu ditegaskan dalam hadits yang artinya, ”Siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan merahmatinya dengan sepuluh kali lipat.”(HR. Muslim, Abu Daud, Nasai dan Ibnu Hibban).

 

Paling sedikitnya bacaan shalawat ialah, shallallahu ‘ala Muhammad, Allahumma Shalli ‘ala Muhammad. Tentunya, lebih banyak lebih baik. Seperti bacaan Asyrafal Anam ataupun Qashidah Burdah, yang menjadi rutinitas santri RUA satu minggu sekali.

 

Santri-santri terdahulu mengatakan, “bacaan-bacaan (amalan) yang paling menyejukkan hati, adalah bacaan shalawat pada nabi Muhammad.” Oleh karena itu, shalawat ini bisa dijadikan sebuah penyeimbang hati, untuk melaksanakan ketiga elemen yang lain.

 

Wirid

Setidaknya ada dua arti menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pertama, kutipan-kutipan alquran yang ditetapkan untuk dibaca; kedua, zikir yang diucapkan sesudah salat. Wirid ini bisa dilakukan secara bersama ataupun sendiri. Dalam pelaksanaan wirid, kita akan dilatih bermeditasi. Misal, bacaan Ayat Kursi yang dibaca untuk mengokohkan hati, dijauhi dari godaan-godaan setan, dalam pembacaannya kita harus fokus dan menyelami ke dalam bacaan-bacaan. Untuk masalah tempat, lumrahnya di tempat yang hening, di bawah langit tanpa atap, masjid, dan lain sebagainya. Serta dikerjakan secara tetap, tertib, terus menerus, dan tidak pernah ditinggalkan.

 

Wirid terdapat tata cara, jumlah, dan waktu pembacaannya. Misal, seorang Syekh, mursyid, atau kiai memberikan wiridan tertentu kepada muridnya yang biasanya melalui proses penyerahan khusus (ijazah). Pengamalan Wirid diatur tatacaranya, misal berapa kali harus dibaca, apakah dibaca di pagi hari, sore hari, atau dalam keadaan tertentu. Kurang atau lebih dari jumlah yang ditentukan, biasanya tidak lagi dianggap wirid, tapi hanya sebagai zikir.

 

Ukhuwah fii Sabilillah

Bersaudara di jalan Allah. Tanpa melihat orang mana, anak siapa, seperti apa, bagaimana hartanya, kita harus tetap menjaga persaudaraan di jalan Allah. Tiada kata tua ataupun muda kita tetap sama di mataNya. Kita tahu, kita bukan Tuhan yang bisa melakukan segala sesuatu sendirian, kita masih butuh bantuan orang lain. Terkait dengan persaudaraan di jalan Allah, adalah saat di antara kita lagi dirundung pilu terkena musibah sampai tidak mau lagi beribadah kepada Allah. Maka, di antara kita yang lain datang hendak mengingatkan, mengembalikan mentalnya yang sedang rapuh.

Dalam Ukhuwah, kita tidak boleh terus maju di barisan terdepan, sedangkan kita tahu masih ada yang tertatih di belakang, serta tidak boleh selalu megutamakan kepentingan pribadi saja.

 

Baik, sedikitnya sudah dijelaskan satu persatu dari empat elemen yang terdapat pada kata tasawuf di tanah RUA. setidaknya keempat itu cara santri RUA bertasawuf, diawali Tahlil; mengesakan Allah SWT di segala aspek kehidupan kita. Shalawat; menjunjung tinggi nabi agung kita Muhammad SAW beserta keluarga. Wirid; zikir-zikir yang tak pernah kita tinggalkan, istiqomah. Ukhuwah fii Sabilillah; bersatu padu dalam menegakkan kalimat Tuhan dilandasi rasa persaudaraan, meninggalkan perasangka-perasangka buruk.

 

Setiap elemen tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Apa yang diinginkan almarhum K.H. Chalid terhadap santri-santrinya sudah terwujud. Apalagi, dibantu oleh kegiatan-kegiatan rutin yang berbau sufisme, seperti pembacaan tahlil, asyrafal anam, qashidah burdah, hizbul badar, gotong-royong, dan lain sebagainya.

Setelah mengetahui tasawuf ala RUA di atas, kita akan tahu bahwa tasawuf tidak sesulit dan serumit yang kita pikirkan selama ini, merasa hidup di dunia tasawuf, dan para sufi pun akan terus bermunculan di antara kita.

Pramian, 09 Mei 2017

***
Juara 1 kategori Artikel: Lomba Menulis “Membangun Literasi Santri Bersama FORMASI RUA” dalam rangka 2nd Anniversary FORMASIRUA.OR.ID.

Ayo Komentari

komentar